Saturday, January 23, 2016

Life's Great Loss

Every soul must taste of death and We try you by evil and good by was of probation; and to Us you shall be brought back. (QS. Al-Anbiya: 35)

I'm wondering how people could survive when one of their primary family member is gone forever. Saya sendiri masih tidak siap ditinggal pergi. Hidup satu atap dengan orang yang sama selama bertahun-tahun, membuat seseorang terbiasa dengan kehadirannya, dan jika dia tidak ada, ruang kosong tersebut akan sangat terasa.

Jika saya ditinggal pergi nanti, saya mungkin akan mengurung diri di kamar berhari-hari, sampai saya lelah dan tak bisa menangis lagi. Saya tahu, menangisi kematian seseorang bahkan berhari-hari sesudahnya tidak baik, namun harus bagaimana jika mata dan hati tidak mau berkompromi dengan logika? Saya jadi teringat ketika ibu dari salah seorang teman kuliah saya meninggal. She was strong, really, like I didn't even see her crying on that day. Hal yang membuat saya membatin, "gilak kalo gue jadi dia, gue nggak bakal keluar kamar kayaknya mah. Nggak sanggup." Tapi mungkin cintanya pada Allah dan ibundanya lah yang membuatnya setegar itu. Tahap yang sampai sekarang pun, rasanya belum mampu saya capai. 

Tapi ternyata, dia tetap menangis. Berminggu-minggu setelahnya, di satu kesempatan ketika saya dan dia berbicara berdua. Mengenang seseorang yang sudah tidak lagi ada di sisi memang menyebalkan, juga menyakitkan. Di sisi lain, orang-orang yang telah pergi tidak mampu hidup lagi selain dalam kenangan orang-orang tersayang.

Mungkin ini sebabnya saya tidak ingin ditinggal. Lebih baik saya yang meninggalkan, karena terdengar lebih baik dibandingkan dengan melanjutkan hidup tanpa orang-orang tersayang. Egois, memang. Memaksakan kehendak untuk selalu ingin senang. Namun, bagaimana lagi, saya merasa tidak mampu menatap ruang-ruang kosong yang dulunya terisi tanpa harus menangis. Saya merasa tidak mampu bergerak tanpa harus mengingat orang-orang yang dulu ada di sisi. Terdengar sangat menyedihkan, bukan? Tapi, jika nanti saya benar-benar ditinggal pergi, semoga Allah berbaik hati memberikan orang-orang yang mampu menopang diri saat yang tersayang tak lagi di sisi. Aamiin.



Post Posting Additional Notes:
Pada akhirnya, saya harus ingat bahwa tak ada yang benar-benar dimiliki diri sendiri. Semuanya akan kembali pada Yang Maha Menciptakan, Allah Azza wa Jalla. Jika sudah begitu, saya tak berhak sedih lagi kan? Semuanya cuma titipan.
Share:

Friday, January 22, 2016

Halo, 2016!

Time flies, and life goes on. New year, new journey, new term to be passed on.


Saya membatalkan banyak rencana berpergian, meski pada kenyataannya saya butuh pergi. Sudah hampir 6 bulan terakhir, mata saya tidak melihat hutan dan jalan berkontur curam untuk dijajaki, tidak juga mencium bau khas keringat yang didapat setelah menapaki tanah-tanah vulkanik dataran tinggi. Tadinya saya berpendapat bahwa liburan kali ini cukup dilakukan di rumah, meruntuhkan tembok pertahanan diri, merenung, dan menangis sejadi-jadinya tentang semua hal yang terjadi di bulan-bulan sebelumnya untuk kemudian membangun kembali tembok pertahanan yang baru. Namun ternyata, saya salah. Saya memang berhasil meruntuhkan tembok itu, merenung, juga menangisi semua hal yang saya sesali, namun untuk membangunnya lebih kuat dari sebelumnya mungkin saya butuh untuk pergi. Seolah-olah ia berfungsi sebagai perekat yang penting bagi tembok pertahanan saya.

Hampir satu bulan terakhir, saya menonton banyak tontonan yang mungkin tidak biasanya saya tonton. Anime dan drama Jepang dengan berbagai genre. Ini merupakan suatu hal yang baru, mengingat sebelumnya saya hampir tidak pernah menonton dorama. Well said, a new thing to start a new year.

Di liburan kali ini juga, saya banyak menimbang-nimbang tentang keinginan melanjutkan belajar ke luar negeri. Apakah saya ingin langsung apply sebelum lulus, atau malah bekerja terlebih dahulu. I honestly might want to work first, mengingat mungkin pengalaman dibutuhkan ketika berada jauh dari keluarga. Tapi satu sisi diri saya yang lain masih terlalu takut, takut akan kehidupan nyata yang harus saya hadapi saat bekerja nanti. Maka cara terbaik untuk lari sementara dari kenyataan adalah dengan mendapatkan beasiswa lanjutan belajar ke luar negeri. Tidak, saya tidak sepenuhnya percaya pada kemampuan berbahasa saya, karena banyak orang di sekitar saya dengan kemampuan yang lebih mumpuni, yang saya sendiri pun terkadang iri. Lagipula, mengandalkan kemampuan berbahasa saja tidak akan banyak membantu. Mimpi ini masih sangat jauh dari jangkauan. Saya ingin membuatnya lebih dekat, namun hal pertama yang harus saya lakukan adalah menentukan pilihan; kerja atau langsung caw, dan keduanya sama-sama memiliki hal yang saya khawatirkan. Cari pekerjaan tidak segampang membalik telapak tangan, saya tahu itu. Namun belajar di negeri orang tanpa persiapan juga sama saja dengan masuk ke kandang harimau yang lapar. Ah Tuhan, tolong bantu hamba-Mu mendapatkan jawaban.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun saya tidak membuat resolusi pasti mengenai apa yang akan saya lakukan. Saya hanya akan berusaha untuk membuat mimpi-mimpi saya lebih dekat, entah bagaimana caranya. Yah, pada akhirnya saya hanya akan memikirkan satu langkah ke depan, bukan dua, apalagi tiga. Karena pada tiap satu langkah yang saya ambil adalah sebuah keputusan yang bisa saya syukuri atau malah sesali. Dan di tiap langkah tersebut, akan banyak terjadi hal-hal di luar perkiraan saya, entah itu baik atau buruk. And I will cherish them all heartily. 

Selamat datang 2016, semoga makin banyak hal-hal baik terjadi di tahun ini. Aamiin.
Share:

Sunday, November 22, 2015

Tentang Teman dan Pertanyaan yang Berseliweran

Satu postingan lain saat hati terus bergerak-gerak gelisah. This was supposed to be another review. Review tentang sebuah buku yang baru selesai gue baca dini hari tadi dan berhasil bikin air mata lumayan deras mengalir. Tapi gue memutuskan untuk menceritakannya sambil mengaitkannya dengan hidup gue sendiri.

Teman. Sebuah predikat yang diberikan pada orang-orang yang kita kenal, atau malah terpaksa kenal. Terpaksa disini berarti mau tak mau, suka tak suka, atau pendeknya takdir menggariskan kita berada dalam satu lingkungan yang sama. Lucu bukan ketika untuk urusan sekecil teman, Tuhan ikut campur tangan? Ah, Tuhan memang selalu teliti, tak peduli sekeras apa kita menolak, jika garis takdir sudah saatnya bersinggungan dengan orang tertentu maka tak bisa kita mengelak. 

Apakah setiap orang yang kita kenal dapat menjadi teman? Pada dasarnya, iya. Namun kembali lagi pada perspektif yang memandangnya. Ada orang yang menganggap orang lain teman saat ia merasa dapat mengobrol lebih jauh daripada sekadar nama. Ada juga yang menganggap saat nama saling disebutkan, saat itulah mereka menjadi teman. Ada pula yang menganggap orang lain teman saat ia dibantu ketika dalam kesulitan.

Gue sendiri ternyata kesulitan mendefinisikan arti teman. Yang gue tahu, teman tidak saling meninggalkan. Yang gue tahu, teman siap menarik saat kita akan jatuh, atau jika sudah terlanjur jatuh, maka ia akan menarikmu bangkit lagi. Teman adalah malaikat kecil lain yang dikirim Tuhan untuk membantu kita bertahan. 

Namun, jika ternyata teman sebaik itu, mengapa banyak pertemanan yang berujung perpisahan? Ego-kah sebabnya? Rasa bosan yang mendera? Atau pada akhirnya mereka menyadari bahwa teman itu fana?

Buku yang gue baca tadi pagi berkisah tentang reuni SMA sebuah kelas kecil terasing yang hanya berisikan 13 murid. Judulnya See You Again, pengarangnya Arini Putri. Buku sederhana yang lumayan menguras mata. Tokoh favorit gue namanya Angin. Nama yang sederhana dan tidak umum digunakan sebagai nama tokoh novel, namun mampu menarik perhatian gue lebih jauh. Angin adalah seorang anak broken home dengan ayah penjudi dan abang pengguna narkoba. Sangat dibenci oleh sang Ayah karena dianggap membuat ibunya meninggal sewaktu melahirkannya, sehingga ia hanya diberi nama Angin. Sebebas angin yang suka berlalu. Suka tidur di kelas, namun pintar dengan tatapan tajam dan tubuh kurusnya. Ah, gue sedih kalo ngomongin tokoh ini. Tapi si penulis mengajarkan banyak hal melalui tokoh ini. Lewat Angin, gue tahu bahwa sebuah kata maaf harganya mahal. Mahal karena kesalahan yang sudah dilakukan tak bisa diulangi kembali. Lewat dia juga, gue belajar bahwa teman pantas untuk dipercaya. Bahwa terkadang, teman yang dihina oleh orang lain lebih menyakitkan daripada jika orang lain yang menghina diri kita sendiri. Ah Angin, makasih banyak! Dan gue sangat menyesal tahu ending lo kayak gitu :( whyyy T___T

Iya, disini gue memposisikan diri gue sebagai teman Angin. Delusional memang, namun gue jadi tahu sesedih apa rasanya punya teman kayak Angin. Sepedih apa rasanya melihat teman lo menyesal sendirian dan berbuat kesalahan yang lebih besar. Ah, baca sendiri deh bukunya. Rating from 1-5 stars : 4.5 stars.

Yah, mungkin esensi teman memang semudah itu didefinisikan. Atau mungkin tidak. Jika pertemanan merupakan komunikasi 2 arah atau lebih, maka jika salah satu pihak tidak mengeluarkan atau menerima sinyal yang diberikan, apa hasilnya akan 0? Sama saja dengan tidak memiliki teman? Ah, memang menyenangkan membaca novel. Things could simply pop and be solved. Padahal nyatanya? Teman tidak semudah itu didefinisikan di dunia nyata. Teman tidak melulu soal ada untuk membantu kapanpun dibutuhkan, tapi juga soal menemukan yang lebih baik dan pergi menjauh setelahnya.

Intinya? Gue mau belajar dari Angin. Juga dari Bagas, Dito, Nira, Sharon, dan G5; teman-teman Angin. Semoga suat saat gue menemukan teman seperti mereka, yang siap menarik gue saat akan jatuh dan tetap berada disana bahkan saat gue lupa dan mulai menjauh. 
Share:

Monday, October 12, 2015

Definisi Rasa

Satu lagi malam yang dihabiskan oleh pikiran yang terus berjalan
Meski tanpa tujuan
Kadang sesuatu memang tak bisa dikontrol sesuka hati
Karena mungkin bisa mati
Entah harus disebut apa rasa seperti ini
Gelisah?
Resah?
Atau malah gundah?

Tuhan, tolong bantu mendefinisikan
Karena hamba-Mu ini punya banyak keterbatasan
Karena banyaknya kosakata yang terdaftar tak mampu melawan angin yang menampar
Karena nalar yang bergerak tak bisa membuat pohon berderak

Jika sudah terdefinisi, setidaknya aku tahu bagaimana harus bertindak
Bahkan di tengah sorak-sorak
Namun jika tidak terdefinisikan jua, lantas aku bisa apa?
Menatap kosong pada hampa yang ada di depan mata?
Mengukir langit dengan asa yang tersisa?
Asa? 
Apakah asa bahkan nyata adanya?



Ppt, 1210
Stomach keeps tingling and I don't even know why.





Share:

Thursday, October 1, 2015

See You, ARS

Senin, 5 Oktober 2015, saya akan kehilangan satu lagi teman saya. Bukan, bukan untuk selamanya, hanya sementara. Namanya Aldi Rizky Setiyawan, kini berhasil diterima di Akademi Imigrasi (AIM) dari Departemen Hukum dan HAM setelah percobaan kedua kalinya. Niatnya untuk menempuh pendidikan di sekolah kedinasan sesungguhnya patut diacungi jempol, karena tetap tidak surut setelah gagal berulang kali di berbagai instansi. Mungkin, tahun ini memang rezeki dan jalannya.

Memulai kehidupan baru di tempat baru pastilah tidak mudah. Namun, jika itu Aldi, saya percaya dia bisa. Kami menyebutnya botak, bibir, di al, apapun panggilan akrabnya. Seorang anak laki-laki dengan badan tegap serta sikap tegas ala tentara, serta ucapan yang kadang suka asal dan agak kasar, namun baik bahkan cenderung lembut jika dihadapkan pada persoalan cinta. Saya kadang suka menertawakannya akan hal ini. Satu hal yang saya salutkan dari Aldi adalah sebagian waktunya yang selalu disempatkan untuk dua rakaat Dhuha.

Saya ingat saya pernah menangis tiba-tiba di suatu Jumat pagi bulan Oktober tahun lalu. Waktu itu saya sedang berada di kelas, mata kuliah Survey dan Pemetaan, ketika tiba-tiba perasaan saya tidak enak dan tidak nyaman. Ada yang akan pergi, itu pesannya. Saya tidak tahu siapa, kenapa, atau kapan seseorang itu akan pergi. Saya juga tidak tahu kenapa saya bisa mendapatkan pesan itu. Tapi beberapa hari kemudian, saya tahu Aldi mendaftar AIM untuk yang kedua kalinya. Saya kira pada awalnya dia akan diterima, saya dan seorang teman saya sampai sering mengecek pengumuman di websitenya. Namun, tidak. Aldi tidak pergi tahun kemarin. Saya jujur saja, senang, meski Aldi pasti kecewa.

Beberapa bulan lalu, tiba-tiba Aldi memberitahu saya bahwa dia mendaftar lagi. Terus terang saya kaget, namun reaksi saya waktu itu hanya menegaskan kembali pernyataannya sebelum mendoakannya berhasil. Kali ini saya mungkin lebih siap melepasnya pergi. Maka tes demi tes yang dijalaninya terus berlanjut, dengan pertanyaan rutin “Gimana Di? Lolos?” dari saya. Dengan jawaban “Alhamdulillah, Jah” yang terus menerus pula. Kali ini, doa saya tulus. Jika memang rezekinya, pasti Aldi diterima. Dan benar saja, saat itu datang. Ketika Aldi mengabarkan bahwa dia diterima, saya tersenyum kecil mengingat perjuangannya yang akhirnya berbuah manis. Namun tetap, ada ruang kosong yang tercipta darinya.

Aldi, pada akhirnya akan pergi. Saya akan sangat merindukan laki-laki ini. Saya senang dia pada akhirnya bisa menggapai jalan menuju impiannya, namun juga sangat sedih mengingat saya tidak akan melihatnya lagi di hari-hari selanjutnya. Take a good care, Al! See you when I see you.
Share:

Monday, August 31, 2015

Tentang Transportasi Umum dan Penumpangnya

Saya suka naik transportasi umum, baik kereta, angkutan kota, metromini, you name it. Alasannya sepele; banyak hal yang bisa saya perhatikan dan dijadikan pelajaran. Tidak seperti saat membawa kendaraan sendiri, berada di transportasi umum akan lebih bebas mengamati apa pun tanpa harus diganggu kewajiban berkonsentrasi saat menyetir. 

Di angkutan kota, misalnya, saya belajar bagaimana saya tidak boleh memandang seseorang melalui penampilannya. Seburuk apa pun ia terlihat. Memang, tak pernah dapat dipungkiri bahwa tampilan fisik seseorang tentulah yang paling besar persentasenya dalam menentukan asumsi diri. Tapi yang saya maksud adalah belajar menghargai. Saya berulang kali, jujur saja, selalu menekankan pada diri sendiri untuk tidak merendahkan orang-orang yang terlihat lusuh. Meski harus bersusah payah, setidaknya perasaan tinggi hati itu tidak jadi raja yang berjaya.

Lain lagi cerita di kereta. Transportasi umum jarak dekat paling nyaman di antara yang lainnya. Mungkin karena faktor inilah, kereta sangat digemari sehingga untuk naik saja diperlukan usaha ekstra. Apalagi saat jam-jam berangkat dan pulang kerja. Tapi disana saya belajar bersabar. Sabar menghadapi orang-orang yang tidak sabar untuk naik ke gerbong kereta. Sabar mendengar semua keluh kesah tentang penuhnya kereta yang mereka tumpangi, tentang masalah-masalah pekerjaan, hingga obrolan ringan soal keluarga antar teman atau sesama penumpang yang sama sekali asing. Hanya di transportasi umum, semua orang asing bisa menjadi teman.

Saya suka mengamati orang-orang, dari kepala sampai kaki, dari baju sampai sepatu yang mereka kenakan. Saya suka menebak-nebak bagaimana kehidupan mereka. Mungkin jauh lebih beruntung daripada saya atau malah sebaliknya? Masalah seperti apa yang harus mereka hadapi setiap hari? Bagaimana keluarganya? Bagaimana pekerjaannya? Dan setiap pikiran-pikiran itu terlintas, lagi-lagi saya harus mengingatkan diri saya sendiri untuk terus bersikap baik pada setiap orang yang saya temui. Karena kita tidak pernah tahu seberapa berat hidup dan masalah yang dialaminya. Selain itu, saya juga diingatkan agar terus bersyukur atas hidup saya. Atas semua masalah yang ada, atas semua nikmat yang telah diberikan-Nya, atas segalanya.
Share:

Tuesday, August 11, 2015

The Unexpected Malang : Coban Sumber Pitu, Coban Rondo, Pantai Gatra, Pantai 3 Warna, dan Pantai Goa Cina

This was how the trip actually planned : Explore East Java. Itu rencana hampir satu tahun yang lalu, yang diniatkan dengan serius namun tetap juga hampir gagal. Well then, we all agreed to make it true this month. On August 1, we started these all. I'm gonna make this (a bit) like itinerary in description, added with all impressions I had during the trip. Or just said it's a journal. Fyi, there were 8 persons joined here.

August 1 : 15.00. Caw dari Stasiun Pasar Senen. Bye Jakarta!

August 2 : Sumpah, pegel banget tidur di kereta. I couldn't feel my butt down there. Safely arrived at 07.50, Stasiun Malang Kota Baru. Jalan-jalan keliling nyari sarapan + bawa-bawa daypack gendut = caper. We got (almost) all citizens' eyes on us! Istirahat sebentar di masjid yang ketemu di depan mata (forgot the name though), terus jalan lagi lewatin pasar hewan. KURANG CAPER APALAGI HAHAHA passing through people, took glances at the animals (they sold owls omg so cute!!), all with small "sorry" mumbled here and there because you know that our bag couldn't help but bumped on people's body. Setelah lewat pasar hewan, kami sampai di Alun-Alun Malang. Masih jadi pusat perhatian juga (how couldn't if you walked with that huge daypack on and mattress altogether), akhirnya kami makan di salah satu restoran hotel, if I'm not mistaken, yang ada di dekat alun-alun. Terpaksa sih, karena nggak ada tukang jualan di alun-alun. Abis itu nunggu dzuhur dan sholat di masjid dekat alun-alun (Masjid Jami'). Ngingetin aja, ternyata masjidnya ada 2 section gitu. Buat sholat jamaah dan munfarid (sendiri). Kalo ruang yang khusus berjamaah ternyata nggak dibuka kalo nggak ada sholat berjamaahnya dan yang sholat munfarid nggak boleh sholat disitu. Keren sih, cuma better kalo ada (tulisan) warning dari awal kita nggak boleh sholat munfarid di ruang berjamaah daripada pas lagi sholat tiba-tiba diteriakin nggak boleh sholat disitu. Konsentrasiya jadi buyar (that's what happened to us). Abis sholat, cari makanan yang terkenal di Malang gitu kan. Jalan kaki. Hahaha entah saking semangatnya atau gimana ya pokoknya kami nyari Mie Setan (kalo nggak salah) yang happened to be opened at 4 pm dan bikin kami batal makan. Alhasil nyari alternatif lain dan jatuhlah pilihan ke Bakso Bakar Pak Man, letaknya di Jalan Diponegoro. Kami sempet mikir "bakso kayak gini ada di tengah-tengah perumahan elit. Aneh banget" karena emang rumah-rumah di jalan itu tuh kayak rumah-rumah di kawasan Menteng kalo di Jakarta. Tempatnya sempit tapi rame banget, parah. Harganya Rp 30.000 / 10 buah. Mahal sih. Rasanya? Enak. Tapi enak aja nggak pake banget karena gue nggak nikmatin banget deh pokoknya. Males. Mungkin karena kami bawa daypack gede yang bikin akses keluar masuk jadi agak ribet, kami jadi disambut nggak ramah gitu deh. Nggak sukaaa :( yang penting nggak penasaran. Dah itu aja. Abis itu, ngambil mobil sewaan hehehe. Harganya Rp 250.000/hari tanpa bensin dan supir, Avanza Veloz guys! Terus caw ke Batu deh! Nemu homestay murah, sekitar 100-150rb semalam dan deket sama BNS (Batu Night Spectacular), namanya homestay DINI. PEWE ABIS MENTEMEN! RECOMMENDED! Malemnya jalan ke alun-alun Batu, niatnya mau nyobain ketan Legenda tapi apa daya belum jodoh, tutup hehehe. Akhirnya cuma makan tahu telur dan naik bianglala. Balik homestay, Bobo!


August 3 : Selamat Pagi, Batu! Rencana hari ini kami ke Coban (Air Terjun) Sumber Pitu, Coban Rondo, dan Coban Talun. Tapi ended up cuma ke Coban Sumber Pitu dan Coban Rondo aja karena e karena the road towards Coban Sumber Pitu was out of expectation. Katanya cuma butuh 30 menit trekking dari tempat mobil berhenti, yang ternyata molor kira-kira jadi 1,5 jam. Hahaha ternyata salah satu temen gue boong soal itu. Jalan yang harus dilewatin mobil dari tempat bayar tiket di bawah juga ntap! Yang bawa mobil harus jago dan jangan panik :) Well then, jalanan buat sampai di air terjun ini sendiri lumayan terjal dan sangat berdebu (pasir semua, fyi) apalagi buat yang belum pernah hiking, beware :) jangan lupa bawa buff atau masker ya! Tapi mungkin kalo musim hujan nggak sebanyak itu debunya, and so slippery instead.

Here it is, Coban Sumber Pitu!


Abis dari Coban Sumber Pitu, kami lanjut ke Coban Rondo. Jeng jeng, ternyata coban satu ini udah dijadiin kawasan wisata yang dikelola pihak swasta dan bikin tiketnya mahal (buat kami yang backpackeran) yaitu Rp 16.000/orang dan mobil Rp 10.000. Di kawasan ini, juga ada fasilitas-fasilitas lain seperti labirin, berkuda, dan lain-lain yang perlu tiket masuk lagi untuk masing-masing fasilitasnya (kecuali air terjun).

 Coban Rondo



Pulang dari coban, balik ke homestay dulu, terus malamnya nyoba ke alun-alun Batu lagi, masih penasaran sama Ketan Legenda. Tapi lagi-lagi, belum jodoh, masih tutup hahaha.

August 4 : Karena hari ini adalah hari paling bikin deg-degan satu jurusan, SIAK War alias registrasi online buat satu semester ini, maka kembalilah kami ke Malang Kota. Cuma hanya demi mengisi SIAK. Sempat amat sangat bete karena kalah (nasib jelek 2 semester), kami berangkat ke Wegir, rumah paman salah seorang dari kami. Dari sana, kami akan melanjutkan perjalanan ke pantai selatan keesokan harinya.

August 5 : Pantai Selatan, here we come! Dari Wegir, perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam. Jalur menuju pantai yang kami tuju yaitu Pantai Gatra, melewati jalanan aspal yang berbatu dan berpasir sehingga harus hati-hati dikarenakan amat licin. Kenampakan yang terlihat di sekelilingnya adalah tebing-tebing tinggi berkapur yang menyebabkan suasana terlihat gersang.


Untuk mencapai Pantai Gatra, dari tempat parkir mobil, kami harus berjalan kira-kira 1-1,5 jam dengan terlebih dahulu diperiksa di pintu masuk untuk mendata barang-barang yang dibawa. Fyi, kawasan ini adalah kawasan konservasi sehingga sampah yang dibawa saat pulang nanti tidak boleh kurang dari yang sudah didata saat datang. Jika kurang, maka akan didenda sebesar Rp 100.000. Untuk tidur dan bersantai, kami menggunakan flysheet yang dialasi dengan matras. Jika membawa tenda, maka akan dikenakan biaya Rp 25.000/tenda. Pantai Gatra sendiri merupakan pantai yang indah dengan gugusan karang-karang besar di tengah lautnya.

Pantai Gatra




August 6 : Rencananya adalah mengunjungi Pantai 3 Warna. Untuk ke Pantai 3 Warna, harus dilakukan reservasi sebelumnya karena pantai ini memiliki batasan kuota pengunjung. Selain itu, ada tambahan biaya untuk guide sebesar Rp 100.000 juga. Dari Pantai Gatra, perlu trekking kira-kira 20-30 menit untuk mencapai pantai ini. Karena kami menjadi pengunjung pertama hari itu, we were having a private beach! Yaaaayyy! Di pantai ini disediakan juga fasilitas snorkeling. Harganya cukup murah, Rp 15.000/orang. Hati-hati, karena dangkal, karang-karang yang ada dapat dengan mudah terinjak kaki. Anyway, pendapat pribadi gue sih sebenernya gausah aja ada snorkeling. Toh kawasannya buat tempat konservasi. Walaupun dilarang, kalo ada yang nggak sengaja nginjak, tetep patah kan karangnya, rusak-rusak juga. Jadi, better not allowed at all aja. Selain bisa konservasi karang secara total, kaki-kaki yang snorkeling juga nggak perlu luka-luka :)


Pantai 3 Warna


Daaaan karena kami termasuk yang kakinya kena karang sehingga jadi luka-luka, kami cuma snorkeling satu jam ditambah insiden snorkel salah satu teman kami hilang, jadi tambah bete hahaha. Abis itu balik ke Pantai Gatra, mandi, terus langsung caw. Muter-muter cari makan, which is so hard to find karena di sepanjang jalur selatan emang sepi banget. Akhirnya waktu nemu warung, kita makan nasi pecel, Rp 6000 aja :) Setelah makan, langsung ke Pantai Goa Cina. Tadinya sempet debat mau balik ke kota aja apa mau ngecamp lagi. Akhirnya kami ngecamp lagi di Pantai Goa Cina. Not really camping, karena kita tidur di mobil setelah capek main kartu. And we were the only one camped there that night. Zzzzzz

Pantai Goa Cina


August 7 : Berangkat sepagi mungkin kembali ke Wegir. Karena kereta kami pukul 17.00 dan hari Jumat, sehingga harus mengejar waktu sholat Jumat. Dua orang dari kami adalah laki-laki, well it's a must isn't it? Selagi nunggu yang laki-laki sholat, kami mandi dan beres-beres barang. Kemudian berangkat dari Wegir jam 14.00, cari oleh-oleh, terus ke Stasiun Malang Kota Baru. Dah Malang!

August 8 : Lagi-lagi lebih dari 12 jam di kereta. Gausah ditanya rasanya kayak apa ya. Pukul 09.45, Stasiun Jatinegara. Welcome Home!

That's all I could tell. If you found the impressions and ways to places I mentioned above were totally different, either way better or even worse, please kindly tell me. Who knows I'll get back someday? ;)
Share: