Monday, April 29, 2019

Visa, Penginapan, dan Transportasi Korea 2019

No one asked to write this but probably would be a personal note for me in the future as well, so here it is : all about visa and my trip accomodation in Korea.

VISA!
Banyak orang yang takut parah waktu mau bikin visa, and it includes me too hahaha maklum, perjalanan pertama yang butuh "izin" resmi ya kan, bukan cuma dari ortu doang. Dokumen apa aja sih yang dibutuhkan buat apply visa? I list it below :

  1. Formulir aplikasi visa yang bisa di download sendiri disini (web kedubes korea) + foto
  2. Paspor asli + Fotokopi paspor
  3. Surat keterangan kerja/mahasiswa (ingat, IN ENGLISH ya jangan salah)
  4. Rekening koran (punya orang tua kalau belum bekerja) dan surat referensi dari bank (ini untuk lebih meyakinkan aja sih)
  5. Bukti laporan SPT Pajak
  6. Fotokopi Kartu Keluarga (KK)
  7. Surat undangan kalau ada yang mengundang, misal kesana untuk kerja atau belajar (Optional)
Dah, cuma itu aja. Kalau semuanya udah lengkap, tinggal dateng ke kedubesnya, bayar ke KEB Hana Bank (ada di dalam kedubesnya, tenang) dengan harga sesuai berapa lama kamu bakal stay. Ada beberapa pilihan visa, mostly orang-orang apply untuk Single Visa karena tujuannya cuma liburan aja. Visa ini masa berlakunya <90 hari. Harganya Rp 592.000 per orang. Setelah bayar, nanti kamu dapat semacam stamp/perangko gitu untuk ditempel di form aplikasi (poin nomor 1).


Setelah beres bayar-bayar, masuk, ambil nomor antrian, tunggu dipanggil. Biasanya ada 2 loket yang buka, tapi kalo ndak mau nunggu lama-lama disarankan untuk datang pagi karena untuk apply cuma sampai jam 13.00 aja. Begitu dipanggil, kasih semua dokumennya, tunggu di cek sama petugasnya, dikasih bukti untuk ngambilnya. Aaaand, the wait starts here!

Biasanya, prosesnya butuh waktu minimal satu minggu buat selesai. Make sure you apply at the right time. Jangan terlalu cepat karena nanti masa berlakunya keburu habis, juga jangan terlalu mepet sama waktu keberangkatan karena pasti hectic dan prosesnya butuh waktu. Nah, karena namanya aja minta "izin", bisa disetujui dan ditolak dong. Jadi greget gitu kan deg-degannya waktu nunggu hahaha. Status aplikasi visamu bisa di cek disini. Sekedar tips, setelah apply mending lupain dan set reminder 7 hari setelahnya atau sesuai tanggal yang tertera di bukti apply-nya biar deg-degannya pas hari H aja hahaha. 

Kalau statusnya accepted, horaay to your trip
Kalau ditolak..........i'm sorry i don't know why...........they said it's a secret between God and the embassy higher ups. Also, if im not mistaken, baru bisa apply visa lagi 3 bulan setelahnya. BUT I WISH IT WON'T HAPPEN TO YOU

Frequent Questions you'd probably ask (because so did i):

  • Mending lebih dulu beli tiket pesawat atau apply visa?
My friend, life is all about gambling. You take risks you think yourself could handle. HAHAHA saya juga kemarin ketar-ketir visa ditolak sementara saya sudah punya tiket pesawat pp + akomodasi lengkap (lumayan kan uang untuk apply visanyaa). Kalau kamu ngincer tiket promo seperti saya, ya pesan tiket dulu. Tapi kalau kamu sudah punya rencana solid mau pergi dan pulang tanggal berapa, stay disana berapa lama, tinggal dimana, dan tidak masalah dengan harga tiket pesawat yang biasanya makin mahal ketika mepet tanggal berangkatnya, monggo bikin visa duluan.
  • Berapa minimal deposito/jumlah uang di rekening koran yang harus dimiliki untuk apply?

Depends on how long you stay. Anggaplah kamu butuh Rp1.000.000 - Rp1.500.000 per hari untuk biaya hidup disana selama 5 hari, maka kamu butuh minimal 5 juta ada di rekening kamu. Misalnya kamu tidak ingin membawa semua uang yang kamu punya saat nanti pergi gimana? That's okay, no probs!

PENGINAPAN!
Ini juga salah satu pengalaman pertama sih. My friends and I were using Airbnb and Agoda to choose our place to stay.

  • Airbnb

Kelebihan memakai airbnb adalah you could get yourself an entire apartment or even house to rent. Tinggal pilih aja. Kalau pintar memilih dan beruntung, kamu bisa dapat tempat yang luas, dekat dengan stasiun subway, dan yang pastinya murah! Nah untuk saya sendiri, kelemahannya adalah di fitur pembayaran yang hanya bisa di-accomodate oleh kartu kredit. Mungkin karena dia belum punya perwakilan di/dari Indonesia atau bagaimana, entahlah. Selain itu, karena ini rumah/kamar orang yang kita sewa, kamu jadi butuh rapih-rapih sedikit lah ya sebelum check-out, please behave well. But overall, I love using this and would use this again next time I go abroad.

  • Agoda

Kalo ini, udah persis kayak Traveloka versi internasional. Banyak diskon juga. Metode pembayarannya juga bisa lewat ATM Bersama. Walaupun HQ nya di Hongkong, they got Indonesians there. Lebih merakyat lah ya. Customer service nya oke banget sih sangat responsif dan solutif.

TRANSPORTASI!
Salah satu alasan kenapa saya mau mengunjungi Korea adalah karena penasaran sama transportasi salah satu negara maju ini. Hahaha iya harusnya saya ke Singapore aja ya, jauh banget ke Korea segala. But wow jalur subwaynya banyak sekali seperti ulaaaar padahal itu cuma di Seoul aja. Seru sih karena kan suka banyak birthday ads artis kpop gitu kan di stasiun lol nggak deng seru karena saking banyaknya sampai takut nyasar. You know what's helping us most? NAVER MAP! Please download this before you're going, not when you arrived there especially when you can't even read a single hangul character. Kalau kamu download disana dan nggak bisa baca aksaranya, you're doomed. Google maps didn't function well, if not malfunctioned. Hehe seriusan! Naver map ini sistemnya sama aja kayak Gmaps, nyediain rute dan subway di line berapa dengan tujuan apa atau bus nomor berapa yang harus kamu naikin untuk sampai di suatu tujuan, lengkap dengan kamu harus keluar di exit nomor berapa. Very very come in handy for you not to get lost. Nah, tinggal kamu yang figure out jalur untuk nemuin peronnya aja deh. Selama saya disana, nggak ada masalah sih kalau untuk cari jalur, semuanya sampai dengan selamat dan benar. 

Untuk naik subway maupun bus, you need a T-Money. Ini kayak kartu multi-tripnya Commuter Line kalau disini mah. Tinggal beli kartunya, isi saldonya, selesai. Tinggal tap-tap! Ohiya khusus bus, jangan lupa nge-tap kartu waktu naik dan turun ya karena bayarnya dihitung dari situ.

OKAY IT'S A WRAP!
See you!
Share:

Thursday, January 31, 2019

31/365

Wow, how time flies! It's already the last day of the first month on this year. Also marked as the 31st day I was back at home. Hahaha, things happened. But again, we just should let them go. Though it's easier said than done, like everything always is.

Mungkin tahun ini Tuhan mau memberikan saya teman-teman baru. Mengizinkan saya menapak pada jalan yang mungkin akan lebih berat, atau justru makin mudah. Atau mungkin juga Dia ingin saya belajar bersabar lebih banyak, mengadu pada-Nya lebih sering, juga berusaha ekstra keras. Haha saya dan pikiran positif-positif ini. Tapi mungkin pikiran-pikiran jenis ini lah yang memperlambat depresi memakan saya dari dalam.

Bulan ini, kegiatan saya hanya berputar pada tidur, nonton, makan, membaca, ulangi. Entah saya sedang meratapi nasib atau saya hanya mengizinkan alasan saya beristirahat menjadi panjang. Namun hal-hal yang terjadi, hal-hal yang saya tonton dan baca kerap kali membawa saya kembali pada memori-memori setengah tahun yang lalu. Alas, memang cuma saya saja yang selalu kesulitan berdamai dengan kenangan. Salah saya juga tidak mempersiapkan perasaan dan rencana cadangan, walau firasat tidak enak sudah jadi bayangan.

Jika sudah begini, rasa-rasanya ingin memutus hubungan dengan dunia. Duduk diam di dalam kamar dan merenung. Tidak elok memang, namun kerap kali hanya itu yang dibutuhkan.

Saya membiarkan 31 hari terlewat tanpa apa-apa. Tapi mungkin waktu saya memang sedang melambat saat ini setelah kejadian tidak terduga di akhir tahun kemarin. Ndak apa-apa. Gusti Allah mboten sare.
Share:

Monday, December 31, 2018

Rangkuman Satu Tahun

31 Desember 2018. Sudah sampai saja pada hari ke 365 dari 365 hari di tahun ini. Klise sekali jika bertanya hal apa saja yang sudah dilakukan selama hari-hari ini, meskipun memang seharusnya itu yang dipertanyakan, apakah menjadi lebih baik atau malah lebih buruk. Saya pun tidak tahu. Namun yang pasti, saya bersyukur untuk setiap hari yang saya lalui dengan semua keluh kesah dan hal-hal yang membuat tersenyum. Untuk teman-teman baru, pekerjaan baru, kaki yang lebih jauh melangkah, juga emosi-emosi yang hingga hari ini masih sulit dikontrol atau malah terlalu mudah ditekan jauh ke dasar hati.

Tahun ini, saya membaca banyak sekali cerita yang membuat hati tidak mampu untuk tetap di tempatnya. Cerita-cerita yang membuat hati menangis juga tersenyum sambil menyumpah-serapah karena tingkat kebodohannya. Mungkin cerita-cerita tersebut tidak sempurna, namun setidaknya mampu menggerakkan hati, meski hanya sepotong kecil saja. Sayang sekali cerita-cerita tersebut bukan milik saya, yang sudah lama sekali bermimpi untuk membuat cerita serupa. Progres menulis saya pun masih mengawang, tertahan di angan-angan. 

Tahun ini, saya bertemu banyak sekali orang baik. Orang-orang yang dipertemukan dalam jangka waktu lumayan panjang seperti kepala satuan pelaksana saya di kantor, maupun dalam jangka waktu amat singkat seperti pegawai bank yang melayani penggantian kartu atm. Orang-orang baik bagi saya memiliki banyak definisi, bisa hanya dengan tersenyum ramah dan mengajak bicara, saya bisa mendeskripsikan orang tersebut baik. I'm socially awkward after all, jadi saya senang jika ada yang mengajak saya bicara dengan tulus. Hahaha menjadi bahagia versi saya sebenarnya hanya sesederhana itu. Namun lagi-lagi, time goes by and life goes on. Orang-orang baik yang saya temukan pada akhirnya akan berlalu, digantikan dengan orang-orang baik lainnya atau malah orang yang akan memberi hidup pelajaran. Saya tidak mau menyebut orang-orang tersebut jahat, hanya orang-orang yang ketika bertemu tidak sedang dalam waktu terbaiknya. Tapi dari mereka semua lah, saya belajar sesuatu. Bahwa tidak ada kejadian yang tidak membawa hikmah. Jika belum disadari sekarang, pasti ada di waktu-waktu depan.

Tahun ini, saya merasa waktu bersama keluarga menjadi berkurang karena saya bekerja. Biasanya, liburan sekolah seperti sekarang ini dihabiskan dengan berada di rumah atau pergi ke luar kota., karena kedua orang tua saya bekerja sebagai guru. Namun sekarang tidak bisa, karena saya tidak mendapatkan liburan. Benar ternyata bahwa semakin dewasa kita, semakin berkurang juga waktu kita untuk kedua orang tua. Ketika tiba-tiba mereka jatuh sakit dan kita baru kelimpungan ketika mengetahuinya. Seperti beberapa saat yang lalu ketika kedua orang tua saya tiba-tiba menderita gejala tipes, wah saya panik luar biasa. Alhasil saya harus bolak-balik rumah-kantor-rumah untuk menjaga keduanya. Syukur alhamdulillah, kantor saya memiliki kebijakan yang cukup longgar untuk membiarkan saya datang hanya untuk sekedar absen dan kemudian kembali pulang. Kejadian ini membuat saya sadar bahwa kita harus semakin sering meluangkan waktu untuk dua orang yang ridhanya menjadi ridha Allah juga. Saya jadi ingat sebuah kalimat yang selalu menampar saya setiap membacanya. Kalimatnya kurang lebih berbunyi 'we're too busy growing up that we forget our parents are growing older too.' Saya pikir, bener banget. Anak-anak zaman sekarang jauuuh lebih sering main gadget dibanding ngobrol sama orang tuanya. Padahal ketika salah satunya sudah tidak ada di dunia, berkurang lah keberkahan yang kita miliki. Ih sedih kalo ngomongin orang tua mah.

Tahun ini, umur saya sudah berkurang 1 tahun lagi. Entah berapa tahun sisa umur yang masih saya punya. Namun as always, mencoba melakukan yang terbaik adalah satu-satunya hal yang manusia bisa lakukan dalam usahanya menjemput takdir. And that's what I'm trying to do. Semoga tahun depan jadi tahun yang baik dan penuh berkah. Gott segne dich!
Share:

Thursday, November 29, 2018

Tentang Memori yang Ditinggalkan

Pernah ndak berpikir bagaimana orang akan mengingat kamu kalau suatu hari nanti kamu pergi jauh?
Pergi jauh dalam artian resign dari kantor yang lama atau malah pergi ke tempat jauh yang sesungguhnya?
Apakah mereka yang ditinggalkan akan mengenang kamu dengan semua kebaikan dan humor yang sering kamu lontarkan? Atau justru diam-diam bersyukur kamu pergi?

Jika boleh jujur, saya sering sekali memikirkan hal ini. Tentang bagaimana saya bersikap pada teman-teman, pekerjaan, dan lingkungan sekitar. Seandainya saya pergi nanti, apakah mereka akan membicarakan hal-hal buruk tentang saya; betapa diamnya saya jika mereka sedang bercanda, betapa tidak memiliki inisiatifnya saya dalam suatu acara, atau betapa menyebalkannya saya. Saya ingin tahu,  sangat ingin tahu, seperti apakah saya akan dikenang kelak. 

Jika ingin memberikan pembelaan, saya diam karena saya tidak merasa bercandaan tertentu lucu atau karena mengambil inisiatif bukan hal yang biasa saya lakukan. 

I'm an empath, not an initiator. 
But again, most people just constantly think that an initiator is the best kind of person living on this earth.

Di kantor saya saat ini, people come and go. And I've heard so many trash talks about them. Well, I cannot help but to think how they'd talk about me when I'm gone. Di satu sisi, tentu saja saya ingin dikenang dengan semua hal baik. Di sisi lain, tentu saja saya sadar bahwa diri ini sangat jauh dari kata baik. Karena orang yang benar-benar baik tidak pernah menganggap dirinya sendiri baik, right?

Namun pada akhirnya, kesimpulan yang bisa saya ambil hanyalah agar kita terus berusaha untuk menjadi orang baik. Susah? Tentu saja. Nilai kebaikan bagi setiap orang tidak pernah sama, I do believe that. Jika bagi saya terlihat baik, belum tentu bagi kamu pun begitu. Tapi satu yang pasti, Pencipta kita memberikan nurani bukan dengan percuma. Believe and rely on it. After that, let it go. Karena penilaian manusia tidak pernah dan tidak akan pernah seragam, tergantung nilai masing-masing yang mereka anut. 

Once you did something you think is right, leave it as it is. Forget and let it go. Do another kindness.

Semoga dengan begitu, memori-memori yang kita tinggalkan nantinya hanyalah memori baik untuk dikenang.
Share:

Saturday, October 20, 2018

Kesedihan-Kesedihan yang Tidak Memiliki Hulu

Pernahkah pada satu atau beberapa titik dalam hidupmu kamu menjadi sedih tanpa sebab?

Kesedihan yang dipicu oleh satu baris kalimat dari sebuah buku yang sedang kamu baca atau satu bait lirik dari lagu yang sedang kamu dengar?

Saya selalu merasa kesedihan macam ini diam-diam memakan saya dari dalam. Bayangkan saja, kamu tiba-tiba merasa matamu panas di bus, halte, atau tempat umum lainnya karena matamu melihat sesuatu, membaca sebuah kalimat, atau mungkin mendengar lagu yang syairnya langsung membawa sebuah memori. Memori dari masa lalu, yang tidak bisa diulang kembali, entah karena waktu atau orang yang terlibat di dalamnya sudah tidak pernah sama lagi. Peristiwa yang hanya bisa diputar dengan mengandalkan daya ingat dan kekuatan perasaan yang terlibat. Peristiwa yang telah menjadi kenangan. Kemudian kamu menjadi lelah dan ingin segera sampai rumah, menuju kasur tempatmu rebah. Sementara waktu sibuk mencari cara menyembunyikan mata yang telah basah.

Kesedihan-kesedihan ini hadir tiba-tiba. Ikut serta dengan hujan yang turun rintik, dengan sepatu usang milik seorang bapak tua yang tidak sengaja kamu lihat kelelahan di pinggir jalan, juga dengan rangkaian kata-kata yang hadir acak di hadapan. 

Jenis kesedihan yang tidak memiliki awal dan akhir. 
Datang tanpa izin juga pergi tanpa pamit.

Kesedihan yang mungkin berfungsi sebagai penguji hati; apakah sudah mati?
Share:

Wednesday, September 12, 2018

her.

i saw her again today. 
hair in ponytails, simple denim jacket, black trousers, blue backpack, navy Converse. i’ll bet shades of blue as her favorite color.
she always stands there, at the very same spot, leaning to the last pole of the platform.
earbuds on, ipod in her pocket. 
sometimes i stand close enough to know that she smells of popcorn. the ones with caramel.
other times i watch her from afar, watching her lips form some syllables that’s greatly possible a song from her playlist.
she always hops on the same train, the train on which i hop too. the ten to six train, in the morning.

today, i hop on the same car of the train. she was right beside me. 
i could smell the caramel aroma. sweet and got me bewitched.
i could see the little mole behind her ear. someone ever said a person whose mole behind ears is a good listener. i wonder if she is one.
i could eavesdrop the song she’s listening. call it dreaming by iron and wine.
i love the song.i love the way universe conspires for us to stand side by side. although not hand in hand. at least, not yet.
and i may fall in love with her. somewhere in the middle of this ride. or someday when i no longer find her in my sight.

or perhaps i already did. 
Share:

him.

that broad but not so broad shoulders.
that short black hair. 
that folded long-sleeve black shirt. 
that black-framed specs.
i don’t know since when my eyes started to realize his existence. perhaps just today, yesterday, or the day before yesterday.
my eyes always wander around, observe here and there, until they stop there. at the corner where he stands. just like that.
even until i will undoubtedly believe that he has invisible magnets within him.
he holds a book with dark cover.

the train is about to arrive. 
i shift my eyes to the direction from where it’s coming.
a smell of cedar wood suddenly creeps into my nose. 
i glance around only to find him standing behind me.
then i hop on the car. he hops after. standing in my right side.
i can smell him as clear as today’s sky. i feel intoxicated. no guy ever smells this good before.
Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe. i can read the book’s title now that it’s within my eyesight.

“hmm, sorry? you got some tissues left on your forehead.” he suddenly speaks, touching his own forehead.
i stammer at those sudden words, mirroring his action in reflex. “ah? thanks.”
he nods, smiling. a smile so soft that could make every heart flutters.

i don’t fall for someone easily.
but when i do, i fall hard.

with no caution and question.
Share: