Thursday, May 24, 2018

Assassination Classroom (Ansatsu Kyoushitsu) Review


Hiiii! I'm back with another anime review! Gotta be short anyway since this is mostly slice of life genre in my opinion that I can't tell you much how it progressed over time. It's been a while since I watched this, actually. But somehow I need longer time to recover from the impact lol. I'm one of those people who refused to watch this high-ranked anime because of not-so-reassuring visual's character. It's until one of my newest acquaintance said that it was a super good anime with emotional moral value. And there was I, giving it a shot. It made me fell head over heels and "battered" after watching. How can I not when it's sooo angsty that I cried almost an hour long for the last 3 episodes. My eyes got swollen and sure was I exhausted. What a girl.

This anime tells about a special class with most low-ranked kids in a school who are asked to kill an alien, a smart alien at that. This weird alien that seems to come out of nowhere moves with Mach 20 velocity and yellow-colored with some tentacles turns out to be a great educator. It educates the kids better than the real teachers are. This alien called Kuro-sensei. He believes that his students are all great persons with their own special talents. Days passed with their attempt to kill their teacher. While they are at it, they gain new knowledges and learn how to appreciate themselves and people in their surrounding more. There are also some back stories for how this alien became an alien. In the end, they succeed the mission with helluva tears. God damn it I'm gonna weep again. Oh welp, I'm totally recommending this to you!

After Taste : Too much onions. I'm crying my tears and heart out. It's soooo heartwarming but funny and witty and I surely don't mind watching it again in the future.

Best Part : "You've come so far, class." Kuro-sensei said in the end. Damn. Just a line and I broke into tears. Many outstanding and lesson-learned kind of dialogues. And of course the chemistry of the class was no jokes that you'll have many pairings to end up together. Here are some screenshots!






Bonus: my boi, Akabane Karma!

Share:

Saturday, April 14, 2018

Tentang Cita-Cita

Pukul 4 pagi dan saya masih nanar menatap layar laptop di hadapan. 
Meski layar laptop hanya menunjukkan layar putih tanpa objek yang dapat dipandang.
Pikiran saya melayang; pada kejadian-kejadian yang telah berlalu, pada pilihan-pilihan yang tidak saya pilih, hingga jutaan kemungkinan lain yang tidak terjadi.

Sering, sering sekali saya begini. Mungkin malah, terlalu sering.
Saya tidak bisa berpikir ingin jadi apa di masa depan. Selama itu baik dan tidak menyimpang dari agama yang saya anut, selama orangtua saya ridho, juga selama saya bahagia.

Cita-cita bagi saya tampak abu-abu.
Julukan "orang yang visioner" tidak tepat disematkan untuk saya. Karena toh cita-cita terjauh saya saat ini hanyalah menempuh pendidikan master di luar negeri.

Pernah dalam satu wawancara kerja, saya ditanya ingin jadi apa dengan masuk ke jurusan saya. 
Saya kelimpungan. Tidak pernah sekalipun saya memiliki cita-cita nyata se-rigid itu. 
Ingin jadi menteri pembangunan, ingin jadi dosen, ingin jadi peneliti. Bagi saya, semua sama saja.
Pertanyaan itu tidak terjawab dengan lugas.

Hari-hari setelahnya, saya bertanya-tanya pada diri saya : kamu mau jadi apa, zah?
Pikiran saya terdiam. Hati saya yang menjawab.
Jawabannya tetap sama : jadi orang baik yang semoga bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Cita-cita saya masih sesederhana itu.

Mungkin, orang-orang di luar sana memandang saya aneh. Seolah-olah tidak memiliki usaha dan mimpi.
Tapi (lagi-lagi) menurut saya, tidak semua orang adalah jenis orang yang memiliki target strict dan real.
Atau saya hanya masih lugu. 
Masih naif dengan punya cita-cita jadi orang baik.
Padahal orang-orang di luar sana punya cita-cita pasti yang membuatnya terus hidup dan berlari.

Ah, diri.
Mungkin kamu harus berpikir lebih keras lagi.
Share:

Tuesday, March 27, 2018

Mereka Tidak Tahu....

Mereka tidak tahu sekeras kepala apa diri mereka sampai ia dipertemukan dengan orang lain

Mereka tidak tahu betapa hidup mereka lebih baik sampai ia dipertemukan dengan orang lain

Mereka tidak tahu banyak orang yang mendamba bisa makan 3 kali sehari, juga berlimpah air bersih sesuka hati

Aku, kamu, kita, adalah mereka

Yang sering lupa bahwa masih ada orang dengan taraf kehidupan di bawah kita

Yang sering alpa berderma

Yang kadang terlena iri dengan kehidupan mewah seleb insta

Tapi kita  bukan Tuhan

Kita manusia

Yang bisa salah tapi juga bisa belajar karena salah

Ayo belajar dari bertemu orang lain

Kamu juga pasti merasa hangat jika pertanyaan "Pak/Bu/Mas/Mba, kalo mau ke X ke arah mana ya?" dijawab dengan ramah dan senyum oleh orang asing yang kamu temui di jalan, kan?

Sebersit pikiran "Wah, masih banyak orang baik disini" pasti terlintas

Pikiran dan perasaan hangat itu yang harus diingat

Disimpan dalam hati agar tidak mati

Dilakukan ulang jika hal yang sama terjadi

Agar bangsa ini tidak mudah dilalap api

Agar "mereka tidak tahu" berubah jadi kesadaran mutlak akan "aku tahu, dan aku bersyukur untuk itu"
Share:

Monday, February 5, 2018

"Jangan Ngerasa Paling Menderita deh! "

Kalimat pada judul posting ini adalah kalimat candaan yang sering dilontarkan teman-teman kantor saya selama sebulan terakhir. Sebagai seorang freelancer aka pekerja cabutan, saya dan teman-teman punya target yang harus dicapai setiap harinya. Sebagaimana juga orang-orang dengan target real berupa banyaknya barang yang harus dicapai tiap harinya (iya kayak buruh lol), kita berusaha biar target itu tercapai. Sering di tengah-tengah kerjaan, kami menghitung-hitung jumlah barang yang sudah dikerjakan hari itu. Sering pula ternyata saya yang jumlah akhirnya paling sedikit di antara teman-teman yang lain. Kadang jika di tengah-tengah jumlah barang yang sudah saya kerjakan lebih banyak dibanding yang lain dan saya berkata sambil bercanda "eh gue baru segini masa", mereka akan bilang "yaudah sih gue juga baru segini. Gausah sok paling menderita deh!" sambil tertawa. Saya juga ikut tertawa sambil balas berkata "lah siapa yang merasa menderita jir? Cuma bilang?!"

Baru beberapa hari terakhir saya menginsyafi bahwa candaan itu bisa bermakna lebih dalam. Berpikir bahwa kita adalah orang yang memiliki paling banyak kesusahan, paling banyak kesedihan, dan jika mengutip kata teman-teman saya, jadi orang yang paling menderita, adalah hal bodoh yang kebanyakan tidak sadar dilakukan hampir semua orang ketika ditimpa musibah. Hanya karena kita sedang sedih dan mengalami mental breakdown, kemudian kita menganggap semua orang jauh lebih beruntung dan bahagia daripada kita. Menganggap semua orang tidak mengerti apa yang sedang kita lalui dan apa yang kita rasakan. Padahal kita tidak pernah tahu kesusahan seperti apa yang menimpa mereka. Padahal kita tidak pernah tahu kesedihan macam apa yang telah mereka lewati. Kita luput menyadari bahwa ada banyak hal yang harus disyukuri karena masih kita miliki.
Share:

Sunday, January 21, 2018

Fullmetal Alchemist: Brotherhood Review



Hiyaaa here I come again with the anime review!!!! It's a first-ranked anime on MAL that me myself has to acknowledge that it deserves the spot : Fullmetal Alchemist Brotherhod aka FMA-Brotherhood. This anime was first broadcasted in 2003, with Fullmetal Alchemist as the title. Then there was a remake for that version, which was this one, aired in 2009. Some who have watched both versions said the first one felt rushed and not according to the manga, while this one was exactly based on it. As an anime-only fan, I can't give any comments on that. Lol.

Okay, to start it all, I don't want to watch this at first, to be very honest. The reason? Because for god's sake, IT FREAKING HAS 64 EPISODES!!!!!! How the hell did I end up watching this? Thanks to the huge curiousity of how-good-an-anime-sitting-on-MAL's-first-place-could-be and the jobless me, I finished this in only 4 days. Yea, I got no life, I freaking knew it.

This story tells about two brothers, Edward and Alphonse Elric, who could perform alchemy. With the basic rules of you get as much as you give; the Law of Equivalent Exchange. And as there's always "but" in every thing, this law could be overcome using the Philosopher's Stone.

Well, let's skip to the basic questions to help me writing the summary.
  • What robot is it in the poster? It's not a robot. It's Alphonse. The main character.
  • Why is he a robot? There's no science-fiction genre tagged with this anime? [spoiler] It's only his soul affixed to the armor.
  • How could he affix the soul? And why? [spoiler] They performed one forbidden act in alchemy, the human transmutation.
Okay I do give up writing the summary. I can't do that without giving you any spoiler sigh sorry!

What I love about this anime : the brothers relationship (they love and rely on each other's so much), each one with their own strong characters (one is so strong-witted and gets worked up easily while the other one is softer and more cold-headed). Also the plot and how side characters are giving impacts as powerful as the main characters.

After taste
  • Seriously, what is trust? YOU CAN'T TRUST ANYONE IN THIS ANIME I TOLD YA
  • Anticipate the tear-jerking and heart-wrenching scenes! Do prepare a box of tissues!!!!! I was just on episode 4 and I cried already /sobs/
  • Calling all Roy/Riza shippers! God damn it, this two really need to get married! THEY ARE BEYOND CUTE!!! GET A ROOM ALREADYYYY
  • You'll be easily hooked with the side characters and the villains!
Best part : "The Colonel always calls me Riza when we're alone together" the line that got me screaming so loud (glad I didn't flip my laptop down lol)

Rating : 10/10! Cast aside the ship and bias, this anime really deserves its top spot! I'll definitely rewatch this again someday!

Well, although this review sucks, I just feel that I have to write this because it touched me a lot in my soft spot and I can't let it slide just then. See you on another (terrible) review!
Share:

Waktu Milik (Kita) Sendiri

Allô! Setelah sebulan lebih tidak mem-posting sesuatu (walaupun draft-nya ternyata ada lumayan banyak), here I am!

Pertama, untuk update kondisi terbaru kesehatan fisik saya, saya (cukup) baik-baik saja. Alhamdulillah.
Kedua, untuk update kondisi terbaru kesehatan mental saya, masih diusahakan baik-baik saja. Insya Allah.

Jika kalian bertanya-tanya kenapa harus dirinci dengan kedua poin di atas, jawabannya karena tidak semua orang sehat di keduanya. Dengan beberapa kejadian belakangan ini, saya semakin aware bahwa kesehatan keduanya amat lah penting, bahkan berkaitan. Oke, cukup sampai disini dulu tentang kesehatan fisik dan mental.

Pada postingan kali ini, saya ingin bercerita tentang apa-apa yang terjadi selama sebulan lebih saya menghilang. Mencari pekerjaan tentu lah masih menjadi list pertama saya saat ini. Iya, jika kalian penasaran apakah saya sudah bekerja sekarang, jawabannya belum. Yah, belum full time. Long story short, saya bekerja freelance di salah satu gedung di daerah Tebet. Dengan semua plus minusnya. Namun, bukan itu sebenarnya yang menjadi titik berat tulisan ini, tapi kejadian-kejadian diantaranya.

Saya punya seorang teman, sebut saja teman A, yang sampai bulan lalu masih menjadi pengangguran seperti saya, berkeluh kesah akan susahnya mencari pekerjaan, hingga sekarang sudah bekerja di salah satu kementerian. Kemiripan saya dan teman A ini, kami berdua sudah melamar kesana sini namun yang diterima hanya dia. Saya juga punya seorang teman lain, teman B, yang baru saja menyelesaikan kontraknya dengan salah satu konsultan GIS dan bercerita akan kekhawatirannya menganggur. Padahal menurut saya, dia belum benar-benar merasakan apa itu menganggur (anggur/ang·gur/menganggur/meng·ang·gur/ v tidak melakukan apa-apa; tidak bekerja) karena tidak lama setelahnya (tidak sampai sebulan!) dia langsung mendapat pekerjaan baru. Kondisinya, saya melamar juga di tempat si teman B melamar, dengan banyak kemiripan akan kesalahan saat pendaftaran namun ternyata dia diterima dan saya tidak. Kok bisa?

Pertanyaan "kok bisa" ini yang sering menghantui saya, sejujurnya. Bagaimana tidak, rasanya-rasanya kok hanya saya sendiri yang ditinggalkan? Semua teman-teman terdekat saya sudah mendapatkan pekerjaan tetap pertamanya dan malah sudah berganti tempat kerja yang lain. Sementara saya masih disini saja, diam tidak beranjak dari tempat saya berada. Sungguh, jika bukan karena sepenuhnya meyakini bahwa Tuhan saya tentu memiliki rencana yang lebih baik lagi di waktu yang lain, mungkin saya sudah pergi ke psikiater. Hahaha, mungkin terdengar berlebihan ya, namun percayalah bahwa menyaksikan teman-temanmu melangkah lebih dulu ke jenjang kehidupan berikutnya dengan kamu yang tetap diam di tempat bukanlah hal yang menyenangkan.

Saya, hingga detik ini, masih terus berusaha meyakini sebuah tulisan tentang konsep waktu milik diri kita sendiri. Yaitu sebuah konsep dimana waktu yang kita jalani adalah milik kita, dan hanya kita sendiri, sehingga kita tidak perlu mengukur pencapaian diri sendiri dengan parameter milik orang lain. Tidak ada kata terlambat dalam pengukuran waktu ini. Jika sesuatu memang sudah ditakdirkan datang, maka ia akan datang. Jika belum, maka waktunya belum tepat. Maka, tunggu. Nah, masa-masa menunggu ini adalah masa-masa yang rentan untuk melemahkan iman, menggerus keyakinan, dan mempertipis kepercayaan pada Yang Maha Segala. Ah, memang dasar manusia.

Inti dari postingan ini sebenarnya adalah untuk mengingatkan (dan menghibur) diri sendiri (dan kalian semua) bahwa mungkin waktu kita untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan belum tiba. Dalam kasus saya, waktu saya untuk bekerja, atau Allah masih ingin melihat seberapa keras lagi saya akan berusaha, atau justru saya tidak diberikan pekerjaan tetap untuk memberikan jalan bagi saya mengejar mimpi-mimpi yang lain. Who knows? Hehe meski sekali lagi, ini semua adalah tentang keyakinan untuk percaya pada tiap keputusan-Nya, dengan ikhlas dan ridho. Yaaah, jika kamu sudah tidak bisa yakin dan percaya pada Tuhanmu sendiri, pada siapa lagi kamu bisa yakin dan percaya?
Share:

Saturday, November 25, 2017

Tentang Instastory/Snapgram



Disclaimer: tulisan ini tidak bermaksud menyindir, tapi kalau merasa tersindir, ya mau gimana. Wk nggak deng, maafin saya ya.

Yak, saya udah lama gatel banget mau nulis tentang ini huaha. Kalau ada yang belum tahu apa itu instastory, itu adalah fitur update di sosial media Instagram dengan durasi 24 jam. Di era yang hampir tiap orangnya dikit-dikit upload instastory ini, saya merasa jadi (hampir) satu-satunya orang yang kalau ketemu orang lain atau lagi ngapa-ngapain nggak perlu diumbar kemana-mana (baca: update instastory). Duh, saya gemes banget kalau lagi ketemu teman saya, terus dikit-dikit manggil "Jah, hai hai dong" dan pas saya nengok yang bersangkutan sedang megang HP dan ngerekam saya.

Iya, iya saya tau pasti yang baca ini mikir "ya suka-suka gue dong, hp-hp gue, instagram-instagram gue. Kok situ yang repot?"

Masalahnya ya, wahai saudara-saudariku yang budiman, kebiasaan update instastory ini sudah semakin mengkhawatirkan. Contohnya ya, ada nih orang lain lagi celaka, bukannya dibantuin malah asik dia nge-rekam di instastory. Ih, pengen saya sleding deh rasanya. Hatimu tuh kemana tho? Digondol kucing? Atau ada juga yang orang yang marah gara-gara dia nggak dimasukin ke instastory temannya karena dateng telat. Ngaco banget kan kalo udah kayak gini ceritanya.

Pertanyaan saya yang paling utama: manfaat update-update kegiatanmu tuh opo? Emang orang lain tuh mau tau ya kamu ngapain aja setiap hari? Kamu makan apa, kamu pergi kemana, perginya sama siapa? Kayak Yolanda-nya abang tukang bubur aja diabsen terus. Malah ya, update-update ini tuh berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial dan syak wasangka yang buruk. Gimana ndak kalau yang di-update yang bagus-bagus aja?

Jadi harusnya isi instastory yang kayak gimana dong? Yang baik-baik dong. Nah nah, masalahnya kadang yang baik-baik aja disalahartikan. Misal, si X upload tulisan-tulisan ceramah atau ayat-ayat suci atau apa deh yang sejenis. Eh adaaa aja satu orang yang komentar "ih sok alim banget deh dia updatenya ceramah-ceramah terus.". NAH KAN. Do you get my point?

Satu hal lagi yang bikin saya penasaran banget. Guys, apakah setiap update instastory kalian nge-cek siapa aja yang udah nge-view instastory kalian? Karena setiap orang yang saya tanyain, semuanya bilang iya. Meanwhile saya nggak pernah sama sekali.....keinginan buat nge-cek pun nggak ada. Jadi apa sih alasannya? Aslik, jangan bilang karena iseng doang, please?

Pada akhirnya sih ya, posting ini lagi-lagi cuma berisi unek-unek saya yang masih saja gagal paham akan rajinnya orang-orang update instastory milik mereka. Soalnya saya pribadi cuma update kalau lagi pengen aja, terutama kalau ada yang pengen di-spazzing-in (baca: komik/anime/kpop) hahaha. Terus, kalau saya boleh berpesan nih ya, bagi teman-teman yang rajiiin banget update tiap hari, yang tanpanya hidup terasa hampa, hati-hati ya jangan sampai keranjingan update ini menimbulkan masalah di kemudian hari. Baik masalah sama teman-temanmu atau malah sampai mematikan empati demi update instastory.

Yaudah gitu aja. Sekian dan terima kasih.

Share: