Monday, February 5, 2018

"Jangan Ngerasa Paling Menderita deh! "

Kalimat pada judul posting ini adalah kalimat candaan yang sering dilontarkan teman-teman kantor saya selama sebulan terakhir. Sebagai seorang freelancer aka pekerja cabutan, saya dan teman-teman punya target yang harus dicapai setiap harinya. Sebagaimana juga orang-orang dengan target real berupa banyaknya barang yang harus dicapai tiap harinya (iya kayak buruh lol), kita berusaha biar target itu tercapai. Sering di tengah-tengah kerjaan, kami menghitung-hitung jumlah barang yang sudah dikerjakan hari itu. Sering pula ternyata saya yang jumlah akhirnya paling sedikit di antara teman-teman yang lain. Kadang jika di tengah-tengah jumlah barang yang sudah saya kerjakan lebih banyak dibanding yang lain dan saya berkata sambil bercanda "eh gue baru segini masa", mereka akan bilang "yaudah sih gue juga baru segini. Gausah sok paling menderita deh!" sambil tertawa. Saya juga ikut tertawa sambil balas berkata "lah siapa yang merasa menderita jir? Cuma bilang?!"

Baru beberapa hari terakhir saya menginsyafi bahwa candaan itu bisa bermakna lebih dalam. Berpikir bahwa kita adalah orang yang memiliki paling banyak kesusahan, paling banyak kesedihan, dan jika mengutip kata teman-teman saya, jadi orang yang paling menderita, adalah hal bodoh yang kebanyakan tidak sadar dilakukan hampir semua orang ketika ditimpa musibah. Hanya karena kita sedang sedih dan mengalami mental breakdown, kemudian kita menganggap semua orang jauh lebih beruntung dan bahagia daripada kita. Menganggap semua orang tidak mengerti apa yang sedang kita lalui dan apa yang kita rasakan. Padahal kita tidak pernah tahu kesusahan seperti apa yang menimpa mereka. Padahal kita tidak pernah tahu kesedihan macam apa yang telah mereka lewati. Kita luput menyadari bahwa ada banyak hal yang harus disyukuri karena masih kita miliki.
Share:

Sunday, January 21, 2018

Fullmetal Alchemist: Brotherhood Review



Hiyaaa here I come again with the anime review!!!! It's a first-ranked anime on MAL that me myself has to acknowledge that it deserves the spot : Fullmetal Alchemist Brotherhod aka FMA-Brotherhood. This anime was first broadcasted in 2003, with Fullmetal Alchemist as the title. Then there was a remake for that version, which was this one, aired in 2009. Some who have watched both versions said the first one felt rushed and not according to the manga, while this one was exactly based on it. As an anime-only fan, I can't give any comments on that. Lol.

Okay, to start it all, I don't want to watch this at first, to be very honest. The reason? Because for god's sake, IT FREAKING HAS 64 EPISODES!!!!!! How the hell did I end up watching this? Thanks to the huge curiousity of how-good-an-anime-sitting-on-MAL's-first-place-could-be and the jobless me, I finished this in only 4 days. Yea, I got no life, I freaking knew it.

This story tells about two brothers, Edward and Alphonse Elric, who could perform alchemy. With the basic rules of you get as much as you give; the Law of Equivalent Exchange. And as there's always "but" in every thing, this law could be overcome using the Philosopher's Stone.

Well, let's skip to the basic questions to help me writing the summary.
  • What robot is it in the poster? It's not a robot. It's Alphonse. The main character.
  • Why is he a robot? There's no science-fiction genre tagged with this anime? [spoiler] It's only his soul affixed to the armor.
  • How could he affix the soul? And why? [spoiler] They performed one forbidden act in alchemy, the human transmutation.
Okay I do give up writing the summary. I can't do that without giving you any spoiler sigh sorry!

What I love about this anime : the brothers relationship (they love and rely on each other's so much), each one with their own strong characters (one is so strong-witted and gets worked up easily while the other one is softer and more cold-headed). Also the plot and how side characters are giving impacts as powerful as the main characters.

After taste
  • Seriously, what is trust? YOU CAN'T TRUST ANYONE IN THIS ANIME I TOLD YA
  • Anticipate the tear-jerking and heart-wrenching scenes! Do prepare a box of tissues!!!!! I was just on episode 4 and I cried already /sobs/
  • Calling all Roy/Riza shippers! God damn it, this two really need to get married! THEY ARE BEYOND CUTE!!! GET A ROOM ALREADYYYY
  • You'll be easily hooked with the side characters and the villains!
Best part : "The Colonel always calls me Riza when we're alone together" the line that got me screaming so loud (glad I didn't flip my laptop down lol)

Rating : 10/10! Cast aside the ship and bias, this anime really deserves its top spot! I'll definitely rewatch this again someday!

Well, although this review sucks, I just feel that I have to write this because it touched me a lot in my soft spot and I can't let it slide just then. See you on another (terrible) review!
Share:

Waktu Milik (Kita) Sendiri

AllĂ´! Setelah sebulan lebih tidak mem-posting sesuatu (walaupun draft-nya ternyata ada lumayan banyak), here I am!

Pertama, untuk update kondisi terbaru kesehatan fisik saya, saya (cukup) baik-baik saja. Alhamdulillah.
Kedua, untuk update kondisi terbaru kesehatan mental saya, masih diusahakan baik-baik saja. Insya Allah.

Jika kalian bertanya-tanya kenapa harus dirinci dengan kedua poin di atas, jawabannya karena tidak semua orang sehat di keduanya. Dengan beberapa kejadian belakangan ini, saya semakin aware bahwa kesehatan keduanya amat lah penting, bahkan berkaitan. Oke, cukup sampai disini dulu tentang kesehatan fisik dan mental.

Pada postingan kali ini, saya ingin bercerita tentang apa-apa yang terjadi selama sebulan lebih saya menghilang. Mencari pekerjaan tentu lah masih menjadi list pertama saya saat ini. Iya, jika kalian penasaran apakah saya sudah bekerja sekarang, jawabannya belum. Yah, belum full time. Long story short, saya bekerja freelance di salah satu gedung di daerah Tebet. Dengan semua plus minusnya. Namun, bukan itu sebenarnya yang menjadi titik berat tulisan ini, tapi kejadian-kejadian diantaranya.

Saya punya seorang teman, sebut saja teman A, yang sampai bulan lalu masih menjadi pengangguran seperti saya, berkeluh kesah akan susahnya mencari pekerjaan, hingga sekarang sudah bekerja di salah satu kementerian. Kemiripan saya dan teman A ini, kami berdua sudah melamar kesana sini namun yang diterima hanya dia. Saya juga punya seorang teman lain, teman B, yang baru saja menyelesaikan kontraknya dengan salah satu konsultan GIS dan bercerita akan kekhawatirannya menganggur. Padahal menurut saya, dia belum benar-benar merasakan apa itu menganggur (anggur/ang·gur/menganggur/meng·ang·gur/ v tidak melakukan apa-apa; tidak bekerja) karena tidak lama setelahnya (tidak sampai sebulan!) dia langsung mendapat pekerjaan baru. Kondisinya, saya melamar juga di tempat si teman B melamar, dengan banyak kemiripan akan kesalahan saat pendaftaran namun ternyata dia diterima dan saya tidak. Kok bisa?

Pertanyaan "kok bisa" ini yang sering menghantui saya, sejujurnya. Bagaimana tidak, rasanya-rasanya kok hanya saya sendiri yang ditinggalkan? Semua teman-teman terdekat saya sudah mendapatkan pekerjaan tetap pertamanya dan malah sudah berganti tempat kerja yang lain. Sementara saya masih disini saja, diam tidak beranjak dari tempat saya berada. Sungguh, jika bukan karena sepenuhnya meyakini bahwa Tuhan saya tentu memiliki rencana yang lebih baik lagi di waktu yang lain, mungkin saya sudah pergi ke psikiater. Hahaha, mungkin terdengar berlebihan ya, namun percayalah bahwa menyaksikan teman-temanmu melangkah lebih dulu ke jenjang kehidupan berikutnya dengan kamu yang tetap diam di tempat bukanlah hal yang menyenangkan.

Saya, hingga detik ini, masih terus berusaha meyakini sebuah tulisan tentang konsep waktu milik diri kita sendiri. Yaitu sebuah konsep dimana waktu yang kita jalani adalah milik kita, dan hanya kita sendiri, sehingga kita tidak perlu mengukur pencapaian diri sendiri dengan parameter milik orang lain. Tidak ada kata terlambat dalam pengukuran waktu ini. Jika sesuatu memang sudah ditakdirkan datang, maka ia akan datang. Jika belum, maka waktunya belum tepat. Maka, tunggu. Nah, masa-masa menunggu ini adalah masa-masa yang rentan untuk melemahkan iman, menggerus keyakinan, dan mempertipis kepercayaan pada Yang Maha Segala. Ah, memang dasar manusia.

Inti dari postingan ini sebenarnya adalah untuk mengingatkan (dan menghibur) diri sendiri (dan kalian semua) bahwa mungkin waktu kita untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan belum tiba. Dalam kasus saya, waktu saya untuk bekerja, atau Allah masih ingin melihat seberapa keras lagi saya akan berusaha, atau justru saya tidak diberikan pekerjaan tetap untuk memberikan jalan bagi saya mengejar mimpi-mimpi yang lain. Who knows? Hehe meski sekali lagi, ini semua adalah tentang keyakinan untuk percaya pada tiap keputusan-Nya, dengan ikhlas dan ridho. Yaaah, jika kamu sudah tidak bisa yakin dan percaya pada Tuhanmu sendiri, pada siapa lagi kamu bisa yakin dan percaya?
Share:

Saturday, November 25, 2017

Tentang Instastory/Snapgram



Disclaimer: tulisan ini tidak bermaksud menyindir, tapi kalau merasa tersindir, ya mau gimana. Wk nggak deng, maafin saya ya.

Yak, saya udah lama gatel banget mau nulis tentang ini huaha. Kalau ada yang belum tahu apa itu instastory, itu adalah fitur update di sosial media Instagram dengan durasi 24 jam. Di era yang hampir tiap orangnya dikit-dikit upload instastory ini, saya merasa jadi (hampir) satu-satunya orang yang kalau ketemu orang lain atau lagi ngapa-ngapain nggak perlu diumbar kemana-mana (baca: update instastory). Duh, saya gemes banget kalau lagi ketemu teman saya, terus dikit-dikit manggil "Jah, hai hai dong" dan pas saya nengok yang bersangkutan sedang megang HP dan ngerekam saya.

Iya, iya saya tau pasti yang baca ini mikir "ya suka-suka gue dong, hp-hp gue, instagram-instagram gue. Kok situ yang repot?"

Masalahnya ya, wahai saudara-saudariku yang budiman, kebiasaan update instastory ini sudah semakin mengkhawatirkan. Contohnya ya, ada nih orang lain lagi celaka, bukannya dibantuin malah asik dia nge-rekam di instastory. Ih, pengen saya sleding deh rasanya. Hatimu tuh kemana tho? Digondol kucing? Atau ada juga yang orang yang marah gara-gara dia nggak dimasukin ke instastory temannya karena dateng telat. Ngaco banget kan kalo udah kayak gini ceritanya.

Pertanyaan saya yang paling utama: manfaat update-update kegiatanmu tuh opo? Emang orang lain tuh mau tau ya kamu ngapain aja setiap hari? Kamu makan apa, kamu pergi kemana, perginya sama siapa? Kayak Yolanda-nya abang tukang bubur aja diabsen terus. Malah ya, update-update ini tuh berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial dan syak wasangka yang buruk. Gimana ndak kalau yang di-update yang bagus-bagus aja?

Jadi harusnya isi instastory yang kayak gimana dong? Yang baik-baik dong. Nah nah, masalahnya kadang yang baik-baik aja disalahartikan. Misal, si X upload tulisan-tulisan ceramah atau ayat-ayat suci atau apa deh yang sejenis. Eh adaaa aja satu orang yang komentar "ih sok alim banget deh dia updatenya ceramah-ceramah terus.". NAH KAN. Do you get my point?

Satu hal lagi yang bikin saya penasaran banget. Guys, apakah setiap update instastory kalian nge-cek siapa aja yang udah nge-view instastory kalian? Karena setiap orang yang saya tanyain, semuanya bilang iya. Meanwhile saya nggak pernah sama sekali.....keinginan buat nge-cek pun nggak ada. Jadi apa sih alasannya? Aslik, jangan bilang karena iseng doang, please?

Pada akhirnya sih ya, posting ini lagi-lagi cuma berisi unek-unek saya yang masih saja gagal paham akan rajinnya orang-orang update instastory milik mereka. Soalnya saya pribadi cuma update kalau lagi pengen aja, terutama kalau ada yang pengen di-spazzing-in (baca: komik/anime/kpop) hahaha. Terus, kalau saya boleh berpesan nih ya, bagi teman-teman yang rajiiin banget update tiap hari, yang tanpanya hidup terasa hampa, hati-hati ya jangan sampai keranjingan update ini menimbulkan masalah di kemudian hari. Baik masalah sama teman-temanmu atau malah sampai mematikan empati demi update instastory.

Yaudah gitu aja. Sekian dan terima kasih.

Share:

Friday, October 20, 2017

Berdiri Sendiri

Seringkali pada satu titik singgah dalam hidup saya, saya berpikir bahwa meskipun manusia dilabeli sebagai makhluk sosial, pada hakikatnya manusia tetaplah makhluk individual. Mengapa? Karena meskipun manusia membutuhkan bantuan orang lain, menerima ataupun meminta bantuan dikembalikan pada kehendak individu tersebut. Benar kan? Hingga saya sampai pada satu kesimpulan bahwa bagaimanapun dan dengan siapapun kita berjalan saat ini, pada akhirnya kita tetap berakhir sendiri. Hingga mati.

Berdiri sendiri sesungguhnya adalah ketakutan terbesar setiap individu. Takut dicaci, dimaki, di-cap aneh, dan lain sebagainya. Maka, orang-orang yang mampu berdiri sendiri dengan segala resikonya adalah orang hebat. Mereka bertahan meski bagaimana pun angin menerjang. Orang-orang yang berdiri sendiri bertahan pada podium prinsipnya, tidak peduli tiada teman, tidak peduli dicibir lawan.
.
.
.
.
It's tough. But life goes on. 
People don't care about the way you live, they just see you based on your mere appearance. 
They hate, they sneer, but they don't really know you.
So self, when your time to be alone came, just toughen up and keep living!



Note:
This post is intended to be an encouragement note for my very own self.
Share:

Wednesday, September 27, 2017

Menghitung Waktu

Ternyata bulan September sudah hampir habis dan Jakarta baru mulai dirundung gerimis.

Halo semua! Saya harus mulai dengan mengatakan tidak tahu harus bagaimana menggambarkan bulan ini. Rasanya bulan ini berlalu begitu saja tanpa ada artinya. Rasanya lagi-lagi waktu berjalan cepat meninggalkan saya. Sebagian besar hari dalam bulan ini saya habiskan di rumah, mengerjakan proyek serabutan, juga melamar pekerjaan kesana-sini. Ah, juga mendampingi mbah uti (mbah putri-Jawa) yang kini tak lagi ada di sisi.

Meninggalnya mbah uti merupakan satu peristiwa besar bagi saya di bulan ini, ah mungkin di sepanjang hidup saya tepatnya. Kepergian beliau menjadi penanda rumah yang lebih lengang dan sepi. Juga menjadi awalan kewajiban mengunci rumah tiap hari. Tidak seperti mbah akung (mbah kakung-Jawa) yang pergi mendadak, mbah uti pergi dengan sakit hingga akhir hayatnya. Hal yang membuat saya dan keluarga mau tak mau menyiapkan diri sebelumnya. It was another gloomy Tuesday, I should say.

Banyak yang berlarian dalam pikiran saya setelahnya. Menjadi pengangguran di rumah yang sepi merupakan sebuah penjara tersendiri. Tapi mungkin ini merupakan salah satu cara introspeksi. Sudah dua minggu sejak mbah uti tidak disini lagi. Sudah satu bulan berlalu sejak saya resmi lulus dan merasa kangen kampus. Sudah empat tahun berlalu sejak saya lulus SMA dan memiliki teman-teman dekat dari dunia maya yang kemudian berpisah dengan cepatnya. Sudah sepuluh tahun sejak saya bertemu guru-guru favorit saya di SMP dan mengingat satu hari ketika kecelakaan motor seorang siswi menjadi berita yang begitu pedihnya. Sudah dua puluh satu tahun sejak saya lahir dan masih  juga tidak berguna bagi bangsa.

Hahaha saya ingin tertawa sedih jika mengurutkan waktu ke belakang seperti ini. Rasa-rasanya tidak ada pencapaian yang dapat dibanggakan selama 21 tahun saya hidup di dunia. Rasa-rasanya saya hanya menghabiskan pasokan oksigen yang tersedia di bumi saja tanpa memberi andil kebermanfaatan di atasnya. Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang satu ini ya. Semoga setelah ini ada hal-hal baik yang mengalir dari diri ini sampai tiba akhir waktunya. Aamiin.
Share:

Monday, August 14, 2017

Menginsyafi Kehilangan

Sudah 4 hari berlalu sejak saya kehilangan pie susu. Iya pie susu, kalian tidak salah baca. Saya kehilangan pie susu saya di bandara karena kecerobohan saya sendiri, yang entah kenapa sangat skip sebelum naik bus damri dan baru ingat satu jam setelahnya. Pie susu itu, yang merupakan sedikit buah tangan dari hasil seminggu terpanggang matahari Bali dan Lombok, sirnalah sudah. Merasa bersalah tentu, karena niat saya untuk memberikannya pada teman dan keluarga tentulah harus batal pula. Saat itu, yang bisa saya lakukan hanya tertawa, tertawa menyadari dan menyesali betapa cerobohnya saya sebagai seorang manusia.

Tapi ada satu hal lain yang saya sadari saat itu (selain kecerobohan saya yang ternyata parah), bahwa kehilangan tidak melulu harus melalui perantara. Bahwa kehilangan tidak melulu harus melalui orang lain. Dan bahwa kehilangan tidak selalu berarti ada yang dicuri, namun bisa juga disebabkan oleh diri sendiri. Saat sesuatu ditakdirkan untuk hilang dan pergi, maka hilanglah, maka pergilah. Tak peduli dengan cara sekonyol dan sesepele apapun kelihatannya.

Semoga apa-apa yang hilang, baik yang telah diambil dari dan/atau ditinggalkan oleh kalian dihitung sebagai pahala keikhlasan.

((dan semoga saya tidak ceroboh lagi))

Ps: As I also post on my tumblr
Share: