Monday, December 12, 2016

Bakso dan Kenangan

They said, bakso adalah makanan rakyat Indonesia. Sejauh ini, selama pergi kemana-mana saya selalu menemukan penjual bakso, atau mungkin saya hanya belum pergi terlalu jauh. Terlepas dari rasa enak atau tidaknya, kita ternyata pernah makan bakso, walau cuma sekali.

Jika untuk orang-orang bakso hanyalah sekadar makanan, buat saya dan keluarga, bakso juga sekaligus menjadi barang pengingat kenangan. A commemorative food to commemorate my grandfather. Beliau dulunya adalah seorang penjual bakso keliling, berjualan untuk menghidupi kedua anaknya (yang mana adalah ibu dan paman saya) agar bisa tetap sekolah. Beliau adalah seorang yang pendiam dan cenderung cuek, namun baik hati. Perhatian-perhatiannya ditunjukkan dengan gestur-gestur kecil seperti pertanyaan mau makan atau tidak jika kami ada di rumah juga menawari permen dari kantong plastik kemeja batiknya tiap kami bepergian. Saya masih ingat ketika dulu beliau masih membawa sepeda dengan kedua keranjang besar di belakangnya ke pasar dan saya masih bisa masuk ke dalamnya untuk ikut ke pasar, rasanya malu dan menyenangkan. Malu karena ditatap orang-orang yang lewat (anak kecil di keranjang tertawa kegirangan, who wouldn't notice eh?) tapi juga senang karena bisa main-main ke pasar. Ah, bahagia rasanya begitu sederhana. 

Setelah memiliki cucu, mbah akung (mbah kakung-kakek, jawa) sudah tidak berjualan bakso dengan menggunakan gerobak lagi. Beliau berganti membuka toko kelontong di rumah serta berjualan gorengan di pagi hari. Bakso hanya dibuat jika ada pesanan. Bakso yang dibuat mbah akung saya terasa paling enak, karena memang begitu kenyataannya. Hahaha, setidaknya setiap kali saya makan bakso tidak pernah ada yang seenak buatannya. Rasa-rasanya dulu saya lebih sering makan bakso di luar hanya untuk membandingkan rasanya dengan rasa bakso si mbah. Sekarang setelah beliau pergi, saya sudah sangat jarang makan bakso di luar. Entah faktor bosan, atau karena saya tahu tidak ada yang seenak bakso buatan mbah akung. Saya baru makan bakso lagi di warung kecil beberapa minggu yang lalu bersama teman-teman waktu saya menyadari bahwa saya sudah lama tidak makan bakso di luar rumah. Saya masih makan bakso, tapi bakso bikinan rumah, yang dibuat ibu dan ayah saya dengan bumbu racikan mbah uti (mbah putri-nenek, jawa) sehingga rasanya masih sama dengan buatan mbah akung.

Sudah hampir 3 tahun beliau pergi, namun rasanya saya masih kangen beliau. Masih juga menyesali kenapa dulu tidak langsung menemui beliau di rumah sakit setelah pulang kuliah, jika ternyata malam harinya beliau berpulang. Hehe, saya jadi sebel sama diri saya sendiri kalau ingat itu. Tapi ya, mungkin memang sudah seharusnya seperti itu. Mbah akung, semoga baik-baik ya disana. Semoga kuburnya lapang dan terang. Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihi wa'fu 'anhu. Aamiin.
Share:

Wednesday, December 7, 2016

Kapan Selesai?

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---


This is gonna be a post full of grumble, not like those posts full of self motivation before. D-2 deadline submit proposal di semester ini and I have done nothing. Gilak. Separah ini pressurenya. HAHAHA mau ketawa aja. Gue perlu nangis-nangis dulu kali ya? Udah nangis malah hahaha lol banget. Gue ingin cepat-cepat berpisah dengan semester ini. Like....it's been toooo stressful for me. Getting through a semester has never been this difficult. Apalagi omongan-omongan temen gue yang ngomongin skripsi mulu. Ya tuhaaaan gue sendiri yang mau marah-marah. Rasanya tuh kayak diledekin gara-gara belum ngapai-ngapain tau nggak? HHHHH makanya gue kalo lagi ngumpul abis kelas biasanya diem doang sambil pake earphone haha ya...that's why.

Btw, gue mau buat pengakuan dosa. Mungkin ini karma juga kali ya wk dulu sebelum gue menginjak semester ini dan merasakan pressure yang udah kayak setan karena nggak pergi-pergi ini, gue pernah dengan sangat yakinnya bilang kalo ngerjain skripsi tuh kayak bikin makalah, tidak lupa juga mempertanyakan kenapa orang-orang malas ngerjainnya padahal cuma kayak bikin makalah. THAT'S IT GOD DAMN IT! Now that I am on it, I feel like I have to curse my late god-damn arrogancy. Karma banget nggak sih???? Ya allah ampuni hamba-Mu yang satu ini ya :"(

Terus sekarang pikiran gue udah nggak di kampus lagi. Padahal mah masih ada UAS. Ngikik banget coooy. Tapi dipikir-pikir ya, manusia-manusia semester akhir kayak gue gini kalo nggak ngerjain skripsi emang gabut banget ya, gabut parah. Gue rasanya malah mau mengunci diri di kamar dengan berpuluh-puluh episode drama atau bertumpuk-tumpuk buku yang belum sempet gue baca. Oke, let's bring my ass to a vacation because Godddd the air I am now breathing already feels suffocating.
Share:

Sunday, November 20, 2016

Just One Smile is Very Alluring (Love O2O) Review


Hello again! So, after a while of not doing any review, now I am! This review is about a Chinese drama called Love O2O, consists of 30 episodes with a male lead actor named Yang Yang and a female lead actress named Zheng Shuang. Why do I feel like writing the review? Because this is pure gold and I just can't let this slide HEHEHE. This is my first time watching 30 episodes of drama, moreover the Chinese one, yet I didn't have the slightest regret for watching lol.

The story started with Bei Wei Wei (Zheng Shuang), a computer science top student, playing in an online game called Chinese Ghost Story. This game had a feature to pair a player with another player. Long story short, Wei Wei paired up with Xiao Nai (Yang Yang) in the game. Wei Wei had no idea that Xiao Nai was actually her senior. Being in the same department, Xiao Nai was also a top student, a college prince, a perfect boyfriend any girl could have. When the day the first met, Wei Wei couldn't help but stare blankly by seeing Xiao Nai standing in the place she and her pairing promised. Because Wei Wei somehow had a crush on him while Xiao Nai has actually been a secret admirer of Wei Wei. They end up being the most wanted couple, because who doesn't want to be Xiao Nai's girl?

Okay, this part would be in Bahasa. Because I want to spazz over the lead characters hehe. Pemain cowoknya ganteng, pemain ceweknya cantik. Klise sih, tapi suka alurnya banget. Kayak jarang banget kan drama ngangkat tema anak IT main game online, pinter, jago basket, cakep pulak. Terus si Xiao Nai ini tuh sayaaaang banget sama Wei Wei, sesayang itu. Posesif, tapi posesif yang cool gitu loh, nggak diomongin. Jadi misalnya si Wei Wei dijahatin sama temen-temen sekampus via web kampus gitu nih ya, nanti sama Xiao Nai artikelnya di-hack terus dihapus, tapi yaudah gitu aja nggak pake bilang ke si Wei Wei. Kan gemes banget ya. Terus percaya banget sama ceweknya, like she can't do any wrong. Ya emang nggak salah sih nyatanya, cuma banyak banget gosip gitu kan soal ceweknya, tapi dia ya yang kalem aja. Pokoknya wise banget deh pacarannya dan lucuu huhu. 

This review is short and sucks hahaha but somehow I'm happy! Nonton 30 episode tuh PR banget asli PR parah, tapi nggak berasa masa.....ini juga rekor baru gue sih nonton sampe 30 episode tuh wow banget *O*

Best part: Xiao Nai wearing black sleeveless shirt for running! And the way he trust his girl so much makes my heart aches because....so cute....

After taste: wanting to set a new life goal -> play an online game and find a cool boyfriend like Xiao Nai!
Share:

Saturday, November 12, 2016

Re-starting : Is It Tough Enough?

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.


---

It's been about 3 weeks after my lecturer suggested me to change my undergradute thesis title. And I have done nothing to it since then. Di satu sisi karena 2 minggu yang lalu memang sedang menyiapkan suatu hal yang lain, dan seminggu lainnya (mungkin) digunakan untuk menata hati.

Pada kenyataannya, saya belum mampu membangkitkan minat untuk menulis lagi. Lucu kalau dipikir-pikir, karena bahkan bab 1-3 saya dengan judul yang sebelumnya belum mampu mengambil seluruh kepercayaan saya. Tapi setidaknya, saya suka. Memulai menulis tentang topik yang baru itu sulit, sangat sulit, apalagi jika tidak sesuai keinginan. Duh Gusti, rasanya mau cari judul lain aja. Yet finding one is another difficult task to do. Serba salah.

The deadline is getting closer dan teman-teman saya mulai sibuk dengan "eh gue belom masukin proposal gue ke TU nih", "eh gue pengujinya ini gimana ya", atau "iya si pak/bu X penguji/pembimbing gue". Tertekan? Jangan ditanya. Sangat.

Saya sedang mencoba menelaah tentang kenapa saya belum bisa menulis tentang topik yang baru ini. Hipotesis sementara: tidak terlalu suka topiknya / tidak mengerti topiknya / bingung membuat latar belakang dan serentet alasan ilmiahnya / bingung / bingung /  malas / tertekan dan tidak tahu harus apa. Banyak dan mulai ngaco yaYah, tapi bagaimanapun juga yang satu ini memang benar-benar harus diupayakan hingga titik darah penghabisan. Diperjuangkan sekuat-kuatnya, dipertahankan semampunya. 

They said, it's impossible until it's done. So just hang on there, girl.

"Then, surely with hardship comes ease. Surely, with hardship comes ease." (Al-Insyirah: 5-6)
Share:

Monday, October 31, 2016

Hello is Hard, Goodbye is even Harder


Crossing path with new people made you learn something new, either the language, culture, social life or even just adding the new perspective into your life. That's why people travels; to get new way of seeing life, to meet new people, to smell the air they have never smelled.

Meeting someone or some people for the first time is hard. It must have been awkward when you are forced to interact with them, and in a new environment evenmore. You don't know what to talk, how to behave, what kind of person she/he is; sooo many things to worry about. I even found it double-extra hard for an introvert like me, but I gotta keep trying. Everything is never gone to waste, eventually.

But even if the start was so hard, the end will be even harder. The time we spent for talks, laughs, and things we experienced together won't last forever. The time binds character, builds the understanding, and made us ended up feeling happy. When the time is up, you lose them. You couldn't do things you usually do with them. You will think about it for a while, get frustrated, and even cried. You will feel empty for some time. The longer period the meeting had, the deeper it became.

Saying good bye is painful, I will personally say so. Either it's for temporary or forever.

Good bye never hurts less.





[4 pm sudden thought. After watching RM and realized there might be no more Gary in the next 2 eps]
Share:

Monday, October 17, 2016

Niat dan Tekad Sekeras Baja

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---

Now I know why students working on their final thesis seem to always have such a big pressure with them. Hahaha. But really, it really is hard to keep your spirit on with pressure this much. Ternyata, menulis tugas akhir bukan hanya sekadar menulis, tapi juga melatih kesabaran dan tekad seseorang.

Lagi-lagi, semua kembali ke niat awal. It's all back to square one. Ingin lulus secepat apa dan bagaimana, dengan skripsi penuh manfaat bagi masyarakat atau sekadar penelitian asal memenuhi syarat, semua bisa. Meski terkadang niat tidak sejalan dengan yang diinginkan, meski terkadang yang diinginkan telah diambil orang. Belum lagi fakta pahit bahwa yang diinginkan kadang ditolak. Ya, semua kemungkinan selalu tersedia.

Setelah niat terwujud, tekad adalah batu pijakan selanjutnya. Butuh tekad kuat yang lebih dari cukup, yang sekuat baja kalau perlu, agar niat tersebut tidak goyah. Masalahnya, godaan yang akan menggoyang tekad tersebut tidaklah sedikit. Mulai dari rasa malas, bosan, lelah, sampai minder melihat teman-teman yang progresnya pesat akan terus menghantui. Sehingga jika tekad yang dimiliki tidak kuat, bubarlah semua. Layaknya membangun rumah dengan pondasi yang rapuh, seperti itu pula menulis tanpa tekad yang kuat.

Menulis tugas akhir pada hakikatnya adalah menumpahkan semua pengetahuan yang diraih selama periode belajar yang telah dilewati. Kualitasnya bukan ditentukan oleh tingkat kepintaran seseorang, tapi kesungguhan dan kedalaman ilmu yang dicurahkan. Meskipun sering terlihat bahwa teman yang pintar menulis tentang hal-hal tak biasa yang sering mengundang decak kagum, saya terkadang tetap susah mencerna maksud dan tujuan dari hal tersebut. Entah karena istilah-istilahnya yang sulit, atau karena saya tidak menemukan korelasinya dengan kondisi masyarakat. Hingga pada akhirnya, saya lebih berusaha untuk menulis hal-hal ringan yang (semoga) dapat dimanfaatkan.

Selamat mengumpulkan niat dan menguatkan tekad!
Share:

Sunday, October 9, 2016

Judul - First Step to Start Moving

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---

Seringkali memulai sesuatu adalah hal paling sulit yang dilakukan oleh seseorang, terlebih jika hal tersebut merupakan hal yang baik. Langkah pertama selalu menentukan berjalan atau tidaknya hal yang kita rencanakan, meski kesalahan mungkin terjadi di tengahnya, setidaknya kita telah mulai melakukannya. Memulai sesuatu layaknya bongkahan batu besar yang harus disingkirkan dari jalan yang ingin kita lalui; butuh kerja keras dan tentu saja kemauan yang lebih besar agar kita pada akhirnya dapat lewat di jalan itu. First step is always hard, but not impossible to do.

Layaknya menyingkirkan batu besar, menulis skripsi juga membutuhkan kemauan yang kuat juga tekad sekuat baja agar dapat memulai. Memikirkan hal apa yang ingin diteliti, kenapa memilih hal tersebut, kaitannya dengan bidang studi, dan dimana penelitiannya dapat dijalankan menjadi suatu sinkronitas yang tidak dapat dipisahkan. Pun tekanan-tekanan yang berasal dari teman-teman yang sudah terlebih dahulu mendapatkan judul dan mulai menulis hingga mendapatkan pembimbing menjadi suatu atmosfer tak terelakkan saat ini. 

Mencari judul skripsi seperti mencari jodoh, kata salah seorang teman saya. Mencari yang cocok di hati dan betah digeluti berhari-hari. Ya, dipikir-pikir memang tak ada salahnya. Judul yang diambil akan menentukan seberapa serius kita memikirkannya dan melakukannya di hari kemudian. Judul itu pula yang akan mengantar kita pada tujuan akhir: menjadi sarjana. Jika sejak awal sudah tidak cocok, mungkin hanya akan tersisa dua pilihan; mengganti judul dan merenung kembali atau memaksakan judul dan menyiksa diri. Yah, pada akhirnya tak pernah ada pilihan yang mudah, bukan? 

Selamat merenung dan mencari inspirasi!
Share: