Sunday, November 20, 2016

Just One Smile is Very Alluring (Love O2O) Review


Hello again! So, after a while of not doing any review, now I am! This review is about a Chinese drama called Love O2O, consists of 30 episodes with a male lead actor named Yang Yang and a female lead actress named Zheng Shuang. Why do I feel like writing the review? Because this is pure gold and I just can't let this slide HEHEHE. This is my first time watching 30 episodes of drama, moreover the Chinese one, yet I didn't have the slightest regret for watching lol.

The story started with Bei Wei Wei (Zheng Shuang), a computer science top student, playing in an online game called Chinese Ghost Story. This game had a feature to pair a player with another player. Long story short, Wei Wei paired up with Xiao Nai (Yang Yang) in the game. Wei Wei had no idea that Xiao Nai was actually her senior. Being in the same department, Xiao Nai was also a top student, a college prince, a perfect boyfriend any girl could have. When the day the first met, Wei Wei couldn't help but stare blankly by seeing Xiao Nai standing in the place she and her pairing promised. Because Wei Wei somehow had a crush on him while Xiao Nai has actually been a secret admirer of Wei Wei. They end up being the most wanted couple, because who doesn't want to be Xiao Nai's girl?

Okay, this part would be in Bahasa. Because I want to spazz over the lead characters hehe. Pemain cowoknya ganteng, pemain ceweknya cantik. Klise sih, tapi suka alurnya banget. Kayak jarang banget kan drama ngangkat tema anak IT main game online, pinter, jago basket, cakep pulak. Terus si Xiao Nai ini tuh sayaaaang banget sama Wei Wei, sesayang itu. Posesif, tapi posesif yang cool gitu loh, nggak diomongin. Jadi misalnya si Wei Wei dijahatin sama temen-temen sekampus via web kampus gitu nih ya, nanti sama Xiao Nai artikelnya di-hack terus dihapus, tapi yaudah gitu aja nggak pake bilang ke si Wei Wei. Kan gemes banget ya. Terus percaya banget sama ceweknya, like she can't do any wrong. Ya emang nggak salah sih nyatanya, cuma banyak banget gosip gitu kan soal ceweknya, tapi dia ya yang kalem aja. Pokoknya wise banget deh pacarannya dan lucuu huhu. 

This review is short and sucks hahaha but somehow I'm happy! Nonton 30 episode tuh PR banget asli PR parah, tapi nggak berasa masa.....ini juga rekor baru gue sih nonton sampe 30 episode tuh wow banget *O*

Best part: Xiao Nai wearing black sleeveless shirt for running! And the way he trust his girl so much makes my heart aches because....so cute....

After taste: wanting to set a new life goal -> play an online game and find a cool boyfriend like Xiao Nai!
Share:

Saturday, November 12, 2016

Re-starting : Is It Tough Enough?

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.


---

It's been about 3 weeks after my lecturer suggested me to change my undergradute thesis title. And I have done nothing to it since then. Di satu sisi karena 2 minggu yang lalu memang sedang menyiapkan suatu hal yang lain, dan seminggu lainnya (mungkin) digunakan untuk menata hati.

Pada kenyataannya, saya belum mampu membangkitkan minat untuk menulis lagi. Lucu kalau dipikir-pikir, karena bahkan bab 1-3 saya dengan judul yang sebelumnya belum mampu mengambil seluruh kepercayaan saya. Tapi setidaknya, saya suka. Memulai menulis tentang topik yang baru itu sulit, sangat sulit, apalagi jika tidak sesuai keinginan. Duh Gusti, rasanya mau cari judul lain aja. Yet finding one is another difficult task to do. Serba salah.

The deadline is getting closer dan teman-teman saya mulai sibuk dengan "eh gue belom masukin proposal gue ke TU nih", "eh gue pengujinya ini gimana ya", atau "iya si pak/bu X penguji/pembimbing gue". Tertekan? Jangan ditanya. Sangat.

Saya sedang mencoba menelaah tentang kenapa saya belum bisa menulis tentang topik yang baru ini. Hipotesis sementara: tidak terlalu suka topiknya / tidak mengerti topiknya / bingung membuat latar belakang dan serentet alasan ilmiahnya / bingung / bingung /  malas / tertekan dan tidak tahu harus apa. Banyak dan mulai ngaco ya. Yah, tapi bagaimanapun juga yang satu ini memang benar-benar harus diupayakan hingga titik darah penghabisan. Diperjuangkan sekuat-kuatnya, dipertahankan semampunya. 

They said, it's impossible until it's done. So just hang on there, girl.

"Then, surely with hardship comes ease. Surely, with hardship comes ease." (Al-Insyirah: 5-6)
Share:

Monday, October 31, 2016

Hello is Hard, Goodbye is even Harder


Crossing path with new people made you learn something new, either the language, culture, social life or even just adding the new perspective into your life. That's why people travels; to get new way of seeing life, to meet new people, to smell the air they have never smelled.

Meeting someone or some people for the first time is hard. It must have been awkward when you are forced to interact with them, and in a new environment evenmore. You don't know what to talk, how to behave, what kind of person she/he is; sooo many things to worry about. I even found it double-extra hard for an introvert like me, but I gotta keep trying. Everything is never gone to waste, eventually.

But even if the start was so hard, the end will be even harder. The time we spent for talks, laughs, and things we experienced together won't last forever. The time binds character, builds the understanding, and made us ended up feeling happy. When the time is up, you lose them. You couldn't do things you usually do with them. You will think about it for a while, get frustrated, and even cried. You will feel empty for some time. The longer period the meeting had, the deeper it became.

Saying good bye is painful, I will personally say so. Either it's for temporary or forever.

Good bye never hurts less.





[4 pm sudden thought. After watching RM and realized there might be no more Gary in the next 2 eps]
Share:

Monday, October 17, 2016

Niat dan Tekad Sekeras Baja

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---

Now I know why students working on their final thesis seem to always have such a big pressure with them. Hahaha. But really, it really is hard to keep your spirit on with pressure this much. Ternyata, menulis tugas akhir bukan hanya sekadar menulis, tapi juga melatih kesabaran dan tekad seseorang.

Lagi-lagi, semua kembali ke niat awal. It's all back to square one. Ingin lulus secepat apa dan bagaimana, dengan skripsi penuh manfaat bagi masyarakat atau sekadar penelitian asal memenuhi syarat, semua bisa. Meski terkadang niat tidak sejalan dengan yang diinginkan, meski terkadang yang diinginkan telah diambil orang. Belum lagi fakta pahit bahwa yang diinginkan kadang ditolak. Ya, semua kemungkinan selalu tersedia.

Setelah niat terwujud, tekad adalah batu pijakan selanjutnya. Butuh tekad kuat yang lebih dari cukup, yang sekuat baja kalau perlu, agar niat tersebut tidak goyah. Masalahnya, godaan yang akan menggoyang tekad tersebut tidaklah sedikit. Mulai dari rasa malas, bosan, lelah, sampai minder melihat teman-teman yang progresnya pesat akan terus menghantui. Sehingga jika tekad yang dimiliki tidak kuat, bubarlah semua. Layaknya membangun rumah dengan pondasi yang rapuh, seperti itu pula menulis tanpa tekad yang kuat.

Menulis tugas akhir pada hakikatnya adalah menumpahkan semua pengetahuan yang diraih selama periode belajar yang telah dilewati. Kualitasnya bukan ditentukan oleh tingkat kepintaran seseorang, tapi kesungguhan dan kedalaman ilmu yang dicurahkan. Meskipun sering terlihat bahwa teman yang pintar menulis tentang hal-hal tak biasa yang sering mengundang decak kagum, saya terkadang tetap susah mencerna maksud dan tujuan dari hal tersebut. Entah karena istilah-istilahnya yang sulit, atau karena saya tidak menemukan korelasinya dengan kondisi masyarakat. Hingga pada akhirnya, saya lebih berusaha untuk menulis hal-hal ringan yang (semoga) dapat dimanfaatkan.

Selamat mengumpulkan niat dan menguatkan tekad!
Share:

Sunday, October 9, 2016

Judul - First Step to Start Moving

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---

Seringkali memulai sesuatu adalah hal paling sulit yang dilakukan oleh seseorang, terlebih jika hal tersebut merupakan hal yang baik. Langkah pertama selalu menentukan berjalan atau tidaknya hal yang kita rencanakan, meski kesalahan mungkin terjadi di tengahnya, setidaknya kita telah mulai melakukannya. Memulai sesuatu layaknya bongkahan batu besar yang harus disingkirkan dari jalan yang ingin kita lalui; butuh kerja keras dan tentu saja kemauan yang lebih besar agar kita pada akhirnya dapat lewat di jalan itu. First step is always hard, but not impossible to do.

Layaknya menyingkirkan batu besar, menulis skripsi juga membutuhkan kemauan yang kuat juga tekad sekuat baja agar dapat memulai. Memikirkan hal apa yang ingin diteliti, kenapa memilih hal tersebut, kaitannya dengan bidang studi, dan dimana penelitiannya dapat dijalankan menjadi suatu sinkronitas yang tidak dapat dipisahkan. Pun tekanan-tekanan yang berasal dari teman-teman yang sudah terlebih dahulu mendapatkan judul dan mulai menulis hingga mendapatkan pembimbing menjadi suatu atmosfer tak terelakkan saat ini. 

Mencari judul skripsi seperti mencari jodoh, kata salah seorang teman saya. Mencari yang cocok di hati dan betah digeluti berhari-hari. Ya, dipikir-pikir memang tak ada salahnya. Judul yang diambil akan menentukan seberapa serius kita memikirkannya dan melakukannya di hari kemudian. Judul itu pula yang akan mengantar kita pada tujuan akhir: menjadi sarjana. Jika sejak awal sudah tidak cocok, mungkin hanya akan tersisa dua pilihan; mengganti judul dan merenung kembali atau memaksakan judul dan menyiksa diri. Yah, pada akhirnya tak pernah ada pilihan yang mudah, bukan? 

Selamat merenung dan mencari inspirasi!
Share:

Wednesday, September 21, 2016

Last Semester and Its Stuffs

Hai lagi! Dari judulnya aja udah ketauan kan post ini tentang apa? Hahahaha.


So yeah, the last semester is finally coming and I still have no idea about how my mini thesis will turn out to be. I mean, gue masih nggak tau mau research tentang apa dan dimana. Apalagi nyari pembimbing. Kayak masih jauh di angan-angan while the fact says otherwise. Gue kadang ngerasa apa ya, jiper kali ya, liat temen-temen gue ngomongin judul, ngomongin konsul, ngomongin tempat, sampai ngomongin proposal mereka sudah sampai mana. Sementara gue? Masih dengan progres 0%. Sedih sih, terus mikir like why the idea isn't coming to me too, why it has to be me that suffers thinking for the title and what it's all about, why didn't I be blessed with that kind of research stuffs idea that flooding mind? Fucked up is really not a good feeling you can choose to feel.

Di sisi lain gue merasa berkewajiban menyelesaikan ini secepat mungkin, gue mau dan harus lulus tahun depan, mau nge-banggain orang tua gue, mau lanjut sekolah ke luar negeri, mau jalan-jalan keliling dunia, dan sejuta mau-mau lainnya. Yet my tenacity has been going for a while, because my purpose is still flying mid-air. Bukannya gue nggak mau berusaha nyari juga, I have tried, I really did, but my heart just denied??????? Like it says it's not the time yet. Mungkin pada akhirnya nanti gue harus menyeret kepala dan kesadaran gue kembali ke area dimana semuanya dipaksa untuk bekerja. Bukan dengan hati, tapi dengan tekanan akan beban moral dan tanggung jawab sebagai seorang anak. Wish me luck! #guemaululustahundepan
Share:

Wednesday, August 31, 2016

Tentang Teman dan Rasa Kepemilikan

posesif/po·se·sif/ /posésif/ a bersifat merasa menjadi pemilik; mempunyai sifat cemburu


Hi. The last 2 semesters of college are starting. Will be tough, guess so. Saat bertemu teman-teman setelah liburan kali ini, saya merasakan hal yang berbeda. Entah kenapa atmosfer yang terasa lebih hangat, atau mungkin hanya perasaan saya saja. Tapi mungkin juga karena saya menyadari bahwa waktu kami untuk main-main bersama hanya tinggal 1 tahun lagi. Time flies, for sure.

Saat berteman dan mengamati teman-teman, saya menyadari adanya suatu perasaan yang dapat disebut posesif menguar dari aura mereka. Saat seseorang sudah terlalu nyaman dalam zonanya, dengan orang-orang tertentu, rasa ini pasti muncul. Sayangnya, ini terkadang mengganggu. Seperti menggugu burung elang dalam sangkar, orang-orang dalam satu lingkaran dibatasi berteman dengan orang-orang dalam lingkaran yang sama. Saat ada seseorang yang berhubungan baik dengan yang lain di luar lingkaran, orang yang memiliki perasaan ini akan memandangnya dengan tidak suka hingga cenderung membenci hal tersebut. S/he will be like "s/he is my friend. Don't you dare get close to her/him." Me personally can't deny that. Ada beberapa orang teman yang sangat saya sayang, hingga kadang rasanya terancam melihat mereka berteman dekat dengan orang lain. It's merely an expression of ego, dan saya harus berusaha menekannya agar tidak muncul ke permukaan. It's foolish, yet I can't stop to have the feeling. Walaupun kadang, merasa posesif dalam berteman sangat dibutuhkan. It means that a person cares so much about you, to the point if you got hurt, so did s/he.

Menjadi teman bukan berarti membatasi bergaul dengan siapa, tapi melihat kualitas dari pergaulan itu sendiri. Teman ada sebagai tumpuan untuk bangkit, pundak untuk bersandar, juga tongkat bantuan untuk melangkah. Teman ada untuk berbagi segala, meski dalam beberapa kasus, tidak semuanya bisa seperti itu. Kita cuma harus menemukan orang yang tepat untuk berbagi, orang yang benar-benar mengerti.
.
.
.
.
.
Well then, if you still couldn't find anyone, just go back to Allah. He's there. He always be.
Share: