Monday, February 15, 2016

Fall, Once Again

Aku sedang resah, hingga tersungkur dalam sujud yang basah

Memandangnya bolak balik di sekitar dan tak kunjung memudar
Merasakan dia yang dekat namun tidak terikat
Berpaling ketika mata secara otomatis mendeteksi kehadirannya
Menoleh ketika detak jantung berdenyut menyiksa

Ah, barangkali aku sudah bisa dianugerahi puisi surga
Yang kabarnya selalu turun pada para pujangga
Meski aku juga tak peduli, selama aku belum mati

Puisi surga atau bukan, persetan!
Karena Tuhan tahu, syair mana yang hanya bualan

Tapi aku punya pesan
Untuk organ-organ yang kehilangan kontrol diri
Saat dia hadir di sisi

Wahai mata yang diam-diam melirik
Hati-hati
Atau kamu akan menjadi larik-larik sajak bernada sirik

Wahai jantung yang berdentum-dentum
Hati-hati
Atau kamu akan meledak dengan skala kuantum

Wahai hati yang selalu ceroboh setiap jatuh
Hati-hati
Atau kamu akan selalu mengeluh

Namun lagi-lagi
Bait-bait ini hanya akan jadi bait tanpa arti 
yang disimpan di sudut terjauh hati

Aku masih resah, dan akhirnya jatuh ke tanah.



Ppt, 1502
그냥 보고 싶어 그래. 
Share:

Saturday, January 23, 2016

Life's Great Loss

Every soul must taste of death and We try you by evil and good by was of probation; and to Us you shall be brought back. (QS. Al-Anbiya: 35)

I'm wondering how people could survive when one of their primary family member is gone forever. Saya sendiri masih tidak siap ditinggal pergi. Hidup satu atap dengan orang yang sama selama bertahun-tahun, membuat seseorang terbiasa dengan kehadirannya, dan jika dia tidak ada, ruang kosong tersebut akan sangat terasa.

Jika saya ditinggal pergi nanti, saya mungkin akan mengurung diri di kamar berhari-hari, sampai saya lelah dan tak bisa menangis lagi. Saya tahu, menangisi kematian seseorang bahkan berhari-hari sesudahnya tidak baik, namun harus bagaimana jika mata dan hati tidak mau berkompromi dengan logika? Saya jadi teringat ketika ibu dari salah seorang teman kuliah saya meninggal. She was strong, really, like I didn't even see her crying on that day. Hal yang membuat saya membatin, "gilak kalo gue jadi dia, gue nggak bakal keluar kamar kayaknya mah. Nggak sanggup." Tapi mungkin cintanya pada Allah dan ibundanya lah yang membuatnya setegar itu. Tahap yang sampai sekarang pun, rasanya belum mampu saya capai. 

Tapi ternyata, dia tetap menangis. Berminggu-minggu setelahnya, di satu kesempatan ketika saya dan dia berbicara berdua. Mengenang seseorang yang sudah tidak lagi ada di sisi memang menyebalkan, juga menyakitkan. Di sisi lain, orang-orang yang telah pergi tidak mampu hidup lagi selain dalam kenangan orang-orang tersayang.

Mungkin ini sebabnya saya tidak ingin ditinggal. Lebih baik saya yang meninggalkan, karena terdengar lebih baik dibandingkan dengan melanjutkan hidup tanpa orang-orang tersayang. Egois, memang. Memaksakan kehendak untuk selalu ingin senang. Namun, bagaimana lagi, saya merasa tidak mampu menatap ruang-ruang kosong yang dulunya terisi tanpa harus menangis. Saya merasa tidak mampu bergerak tanpa harus mengingat orang-orang yang dulu ada di sisi. Terdengar sangat menyedihkan, bukan? Tapi, jika nanti saya benar-benar ditinggal pergi, semoga Allah berbaik hati memberikan orang-orang yang mampu menopang diri saat yang tersayang tak lagi di sisi. Aamiin.



Post Posting Additional Notes:
Pada akhirnya, saya harus ingat bahwa tak ada yang benar-benar dimiliki diri sendiri. Semuanya akan kembali pada Yang Maha Menciptakan, Allah Azza wa Jalla. Jika sudah begitu, saya tak berhak sedih lagi kan? Semuanya cuma titipan.
Share:

Friday, January 22, 2016

Halo, 2016!

Time flies, and life goes on. New year, new journey, new term to be passed on.


Saya membatalkan banyak rencana berpergian, meski pada kenyataannya saya butuh pergi. Sudah hampir 6 bulan terakhir, mata saya tidak melihat hutan dan jalan berkontur curam untuk dijajaki, tidak juga mencium bau khas keringat yang didapat setelah menapaki tanah-tanah vulkanik dataran tinggi. Tadinya saya berpendapat bahwa liburan kali ini cukup dilakukan di rumah, meruntuhkan tembok pertahanan diri, merenung, dan menangis sejadi-jadinya tentang semua hal yang terjadi di bulan-bulan sebelumnya untuk kemudian membangun kembali tembok pertahanan yang baru. Namun ternyata, saya salah. Saya memang berhasil meruntuhkan tembok itu, merenung, juga menangisi semua hal yang saya sesali, namun untuk membangunnya lebih kuat dari sebelumnya mungkin saya butuh untuk pergi. Seolah-olah ia berfungsi sebagai perekat yang penting bagi tembok pertahanan saya.

Hampir satu bulan terakhir, saya menonton banyak tontonan yang mungkin tidak biasanya saya tonton. Anime dan drama Jepang dengan berbagai genre. Ini merupakan suatu hal yang baru, mengingat sebelumnya saya hampir tidak pernah menonton dorama. Well said, a new thing to start a new year.

Di liburan kali ini juga, saya banyak menimbang-nimbang tentang keinginan melanjutkan belajar ke luar negeri. Apakah saya ingin langsung apply sebelum lulus, atau malah bekerja terlebih dahulu. I honestly might want to work first, mengingat mungkin pengalaman dibutuhkan ketika berada jauh dari keluarga. Tapi satu sisi diri saya yang lain masih terlalu takut, takut akan kehidupan nyata yang harus saya hadapi saat bekerja nanti. Maka cara terbaik untuk lari sementara dari kenyataan adalah dengan mendapatkan beasiswa lanjutan belajar ke luar negeri. Tidak, saya tidak sepenuhnya percaya pada kemampuan berbahasa saya, karena banyak orang di sekitar saya dengan kemampuan yang lebih mumpuni, yang saya sendiri pun terkadang iri. Lagipula, mengandalkan kemampuan berbahasa saja tidak akan banyak membantu. Mimpi ini masih sangat jauh dari jangkauan. Saya ingin membuatnya lebih dekat, namun hal pertama yang harus saya lakukan adalah menentukan pilihan; kerja atau langsung caw, dan keduanya sama-sama memiliki hal yang saya khawatirkan. Cari pekerjaan tidak segampang membalik telapak tangan, saya tahu itu. Namun belajar di negeri orang tanpa persiapan juga sama saja dengan masuk ke kandang harimau yang lapar. Ah Tuhan, tolong bantu hamba-Mu mendapatkan jawaban.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun saya tidak membuat resolusi pasti mengenai apa yang akan saya lakukan. Saya hanya akan berusaha untuk membuat mimpi-mimpi saya lebih dekat, entah bagaimana caranya. Yah, pada akhirnya saya hanya akan memikirkan satu langkah ke depan, bukan dua, apalagi tiga. Karena pada tiap satu langkah yang saya ambil adalah sebuah keputusan yang bisa saya syukuri atau malah sesali. Dan di tiap langkah tersebut, akan banyak terjadi hal-hal di luar perkiraan saya, entah itu baik atau buruk. And I will cherish them all heartily. 

Selamat datang 2016, semoga makin banyak hal-hal baik terjadi di tahun ini. Aamiin.
Share:

Sunday, November 22, 2015

Tentang Teman dan Pertanyaan yang Berseliweran

Satu postingan lain saat hati terus bergerak-gerak gelisah. This was supposed to be another review. Review tentang sebuah buku yang baru selesai gue baca dini hari tadi dan berhasil bikin air mata lumayan deras mengalir. Tapi gue memutuskan untuk menceritakannya sambil mengaitkannya dengan hidup gue sendiri.

Teman. Sebuah predikat yang diberikan pada orang-orang yang kita kenal, atau malah terpaksa kenal. Terpaksa disini berarti mau tak mau, suka tak suka, atau pendeknya takdir menggariskan kita berada dalam satu lingkungan yang sama. Lucu bukan ketika untuk urusan sekecil teman, Tuhan ikut campur tangan? Ah, Tuhan memang selalu teliti, tak peduli sekeras apa kita menolak, jika garis takdir sudah saatnya bersinggungan dengan orang tertentu maka tak bisa kita mengelak. 

Apakah setiap orang yang kita kenal dapat menjadi teman? Pada dasarnya, iya. Namun kembali lagi pada perspektif yang memandangnya. Ada orang yang menganggap orang lain teman saat ia merasa dapat mengobrol lebih jauh daripada sekadar nama. Ada juga yang menganggap saat nama saling disebutkan, saat itulah mereka menjadi teman. Ada pula yang menganggap orang lain teman saat ia dibantu ketika dalam kesulitan.

Gue sendiri ternyata kesulitan mendefinisikan arti teman. Yang gue tahu, teman tidak saling meninggalkan. Yang gue tahu, teman siap menarik saat kita akan jatuh, atau jika sudah terlanjur jatuh, maka ia akan menarikmu bangkit lagi. Teman adalah malaikat kecil lain yang dikirim Tuhan untuk membantu kita bertahan. 

Namun, jika ternyata teman sebaik itu, mengapa banyak pertemanan yang berujung perpisahan? Ego-kah sebabnya? Rasa bosan yang mendera? Atau pada akhirnya mereka menyadari bahwa teman itu fana?

Buku yang gue baca tadi pagi berkisah tentang reuni SMA sebuah kelas kecil terasing yang hanya berisikan 13 murid. Judulnya See You Again, pengarangnya Arini Putri. Buku sederhana yang lumayan menguras mata. Tokoh favorit gue namanya Angin. Nama yang sederhana dan tidak umum digunakan sebagai nama tokoh novel, namun mampu menarik perhatian gue lebih jauh. Angin adalah seorang anak broken home dengan ayah penjudi dan abang pengguna narkoba. Sangat dibenci oleh sang Ayah karena dianggap membuat ibunya meninggal sewaktu melahirkannya, sehingga ia hanya diberi nama Angin. Sebebas angin yang suka berlalu. Suka tidur di kelas, namun pintar dengan tatapan tajam dan tubuh kurusnya. Ah, gue sedih kalo ngomongin tokoh ini. Tapi si penulis mengajarkan banyak hal melalui tokoh ini. Lewat Angin, gue tahu bahwa sebuah kata maaf harganya mahal. Mahal karena kesalahan yang sudah dilakukan tak bisa diulangi kembali. Lewat dia juga, gue belajar bahwa teman pantas untuk dipercaya. Bahwa terkadang, teman yang dihina oleh orang lain lebih menyakitkan daripada jika orang lain yang menghina diri kita sendiri. Ah Angin, makasih banyak! Dan gue sangat menyesal tahu ending lo kayak gitu :( whyyy T___T

Iya, disini gue memposisikan diri gue sebagai teman Angin. Delusional memang, namun gue jadi tahu sesedih apa rasanya punya teman kayak Angin. Sepedih apa rasanya melihat teman lo menyesal sendirian dan berbuat kesalahan yang lebih besar. Ah, baca sendiri deh bukunya. Rating from 1-5 stars : 4.5 stars.

Yah, mungkin esensi teman memang semudah itu didefinisikan. Atau mungkin tidak. Jika pertemanan merupakan komunikasi 2 arah atau lebih, maka jika salah satu pihak tidak mengeluarkan atau menerima sinyal yang diberikan, apa hasilnya akan 0? Sama saja dengan tidak memiliki teman? Ah, memang menyenangkan membaca novel. Things could simply pop and be solved. Padahal nyatanya? Teman tidak semudah itu didefinisikan di dunia nyata. Teman tidak melulu soal ada untuk membantu kapanpun dibutuhkan, tapi juga soal menemukan yang lebih baik dan pergi menjauh setelahnya.

Intinya? Gue mau belajar dari Angin. Juga dari Bagas, Dito, Nira, Sharon, dan G5; teman-teman Angin. Semoga suat saat gue menemukan teman seperti mereka, yang siap menarik gue saat akan jatuh dan tetap berada disana bahkan saat gue lupa dan mulai menjauh. 
Share:

Monday, October 12, 2015

Definisi Rasa

Satu lagi malam yang dihabiskan oleh pikiran yang terus berjalan
Meski tanpa tujuan
Kadang sesuatu memang tak bisa dikontrol sesuka hati
Karena mungkin bisa mati
Entah harus disebut apa rasa seperti ini
Gelisah?
Resah?
Atau malah gundah?

Tuhan, tolong bantu mendefinisikan
Karena hamba-Mu ini punya banyak keterbatasan
Karena banyaknya kosakata yang terdaftar tak mampu melawan angin yang menampar
Karena nalar yang bergerak tak bisa membuat pohon berderak

Jika sudah terdefinisi, setidaknya aku tahu bagaimana harus bertindak
Bahkan di tengah sorak-sorak
Namun jika tidak terdefinisikan jua, lantas aku bisa apa?
Menatap kosong pada hampa yang ada di depan mata?
Mengukir langit dengan asa yang tersisa?
Asa? 
Apakah asa bahkan nyata adanya?



Ppt, 1210
Stomach keeps tingling and I don't even know why.





Share:

Thursday, October 1, 2015

See You, ARS

Senin, 5 Oktober 2015, saya akan kehilangan satu lagi teman saya. Bukan, bukan untuk selamanya, hanya sementara. Namanya Aldi Rizky Setiyawan, kini berhasil diterima di Akademi Imigrasi (AIM) dari Departemen Hukum dan HAM setelah percobaan kedua kalinya. Niatnya untuk menempuh pendidikan di sekolah kedinasan sesungguhnya patut diacungi jempol, karena tetap tidak surut setelah gagal berulang kali di berbagai instansi. Mungkin, tahun ini memang rezeki dan jalannya.

Memulai kehidupan baru di tempat baru pastilah tidak mudah. Namun, jika itu Aldi, saya percaya dia bisa. Kami menyebutnya botak, bibir, di al, apapun panggilan akrabnya. Seorang anak laki-laki dengan badan tegap serta sikap tegas ala tentara, serta ucapan yang kadang suka asal dan agak kasar, namun baik bahkan cenderung lembut jika dihadapkan pada persoalan cinta. Saya kadang suka menertawakannya akan hal ini. Satu hal yang saya salutkan dari Aldi adalah sebagian waktunya yang selalu disempatkan untuk dua rakaat Dhuha.

Saya ingat saya pernah menangis tiba-tiba di suatu Jumat pagi bulan Oktober tahun lalu. Waktu itu saya sedang berada di kelas, mata kuliah Survey dan Pemetaan, ketika tiba-tiba perasaan saya tidak enak dan tidak nyaman. Ada yang akan pergi, itu pesannya. Saya tidak tahu siapa, kenapa, atau kapan seseorang itu akan pergi. Saya juga tidak tahu kenapa saya bisa mendapatkan pesan itu. Tapi beberapa hari kemudian, saya tahu Aldi mendaftar AIM untuk yang kedua kalinya. Saya kira pada awalnya dia akan diterima, saya dan seorang teman saya sampai sering mengecek pengumuman di websitenya. Namun, tidak. Aldi tidak pergi tahun kemarin. Saya jujur saja, senang, meski Aldi pasti kecewa.

Beberapa bulan lalu, tiba-tiba Aldi memberitahu saya bahwa dia mendaftar lagi. Terus terang saya kaget, namun reaksi saya waktu itu hanya menegaskan kembali pernyataannya sebelum mendoakannya berhasil. Kali ini saya mungkin lebih siap melepasnya pergi. Maka tes demi tes yang dijalaninya terus berlanjut, dengan pertanyaan rutin “Gimana Di? Lolos?” dari saya. Dengan jawaban “Alhamdulillah, Jah” yang terus menerus pula. Kali ini, doa saya tulus. Jika memang rezekinya, pasti Aldi diterima. Dan benar saja, saat itu datang. Ketika Aldi mengabarkan bahwa dia diterima, saya tersenyum kecil mengingat perjuangannya yang akhirnya berbuah manis. Namun tetap, ada ruang kosong yang tercipta darinya.

Aldi, pada akhirnya akan pergi. Saya akan sangat merindukan laki-laki ini. Saya senang dia pada akhirnya bisa menggapai jalan menuju impiannya, namun juga sangat sedih mengingat saya tidak akan melihatnya lagi di hari-hari selanjutnya. Take a good care, Al! See you when I see you.
Share:

Monday, August 31, 2015

Tentang Transportasi Umum dan Penumpangnya

Saya suka naik transportasi umum, baik kereta, angkutan kota, metromini, you name it. Alasannya sepele; banyak hal yang bisa saya perhatikan dan dijadikan pelajaran. Tidak seperti saat membawa kendaraan sendiri, berada di transportasi umum akan lebih bebas mengamati apa pun tanpa harus diganggu kewajiban berkonsentrasi saat menyetir. 

Di angkutan kota, misalnya, saya belajar bagaimana saya tidak boleh memandang seseorang melalui penampilannya. Seburuk apa pun ia terlihat. Memang, tak pernah dapat dipungkiri bahwa tampilan fisik seseorang tentulah yang paling besar persentasenya dalam menentukan asumsi diri. Tapi yang saya maksud adalah belajar menghargai. Saya berulang kali, jujur saja, selalu menekankan pada diri sendiri untuk tidak merendahkan orang-orang yang terlihat lusuh. Meski harus bersusah payah, setidaknya perasaan tinggi hati itu tidak jadi raja yang berjaya.

Lain lagi cerita di kereta. Transportasi umum jarak dekat paling nyaman di antara yang lainnya. Mungkin karena faktor inilah, kereta sangat digemari sehingga untuk naik saja diperlukan usaha ekstra. Apalagi saat jam-jam berangkat dan pulang kerja. Tapi disana saya belajar bersabar. Sabar menghadapi orang-orang yang tidak sabar untuk naik ke gerbong kereta. Sabar mendengar semua keluh kesah tentang penuhnya kereta yang mereka tumpangi, tentang masalah-masalah pekerjaan, hingga obrolan ringan soal keluarga antar teman atau sesama penumpang yang sama sekali asing. Hanya di transportasi umum, semua orang asing bisa menjadi teman.

Saya suka mengamati orang-orang, dari kepala sampai kaki, dari baju sampai sepatu yang mereka kenakan. Saya suka menebak-nebak bagaimana kehidupan mereka. Mungkin jauh lebih beruntung daripada saya atau malah sebaliknya? Masalah seperti apa yang harus mereka hadapi setiap hari? Bagaimana keluarganya? Bagaimana pekerjaannya? Dan setiap pikiran-pikiran itu terlintas, lagi-lagi saya harus mengingatkan diri saya sendiri untuk terus bersikap baik pada setiap orang yang saya temui. Karena kita tidak pernah tahu seberapa berat hidup dan masalah yang dialaminya. Selain itu, saya juga diingatkan agar terus bersyukur atas hidup saya. Atas semua masalah yang ada, atas semua nikmat yang telah diberikan-Nya, atas segalanya.
Share: