Tuesday, February 17, 2015

Satu Negeri Satu Kami

Indonesia adalah satu kata dengan berjuta warna dan makna. Negeri yang dilimpahi banyak kekayaan sumber daya alam hayati maupun hewani, juga keindahan bentang alamnya yang terhampar dari Sabang sampai Merauke, juga Sangihe hingga Talaud. Negeri dengan berbagai suku, budaya, bahasa dan agama yang hidup rukun saling berdampingan. Sebuah negeri kecil tempat masa kecil saya dihabiskan, tempat semua mimpi digantungkan.
Mempersatukan negeri besar ini tentulah tak mudah. Ribuan nyawa melayang untuk membelanya. Banyak kepala, banyak ego, banyak hal yang harus dikalahkan demi satu cita-cita; untuk merdeka. Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes adalah pemuda-pemuda yang rela bersimbah peluh dari pelosok negeri demi bersatunya negeri ini. Orang-orang yang membuat saya malu jika tidak berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu.
Bangsa ini, bangsa Indonesia, adalah bangsa yang besar. Bangsa yang akan memimpin peradaban dunia, meski entah kapan masanya. Bangsa yang bisa maju ke depan, dengan belajar dari sejarah para pendahulunya. Bangsa yang mentalnya sekuat baja dan setegar karang, serta hati selembut kapas dan sebening embun. Bangsa yang semangat belajarnya tak pernah padam meski diguyur hujan badai terburuk sekalipun.
Tuhan, tolong berkahi negeri kami...
Negeri ini sungguh kaya, ya Tuhan…
Ribuan pulaunya terhampar seperti permata. Zamrud khatulistiwa, itu julukan negeri ini. Warna hijau dari lebatnya vegetasi hutan hujan tropis yang menyembunyikan keragaman makhluk hidupnya, dipadu warna biru laut yang mengelilinginya menjadikan negeri ini sangat istimewa.
Lihat barisan gunung-gunung di ujung cakrawala sana! Aku pernah mendaki salah satunya. Juga hamparan laut luas tak bertepi di sebelah utara dan selatan pulau-pulau itu! Aduh Mak, amboi nian pemandangannya!
Tapi….
Sebagian dari kami, generasi penerus bangsa ini, adalah para perusak alam tak bermoral yang mendewakan materi di atas segalanya. Lahan-lahan pertanian digusur, pohon-pohon ditebang tanpa izin, hanya untuk mendirikan bangunan-bangunan yang dinilai mempunyai nilai tinggi secara ekonomis. Tak ada lagi pertimbangan daerah resapan air yang berkurang, juga lahan-lahan produktif yang masih bisa ditanami berbagai jenis tanaman. Ikan-ikan ditangkap menggunakan jaring dan pukat harimau, tak lagi memikirkan keseimbangan ekosistem bawah laut.
Alam tak suka keseimbangannya diusik. Alam merasa harus membuat manusia jera. Alam ingin manusia tahu bahwa dirinyalah yang jumawa. Maka air menggenang dimana-mana, membanjiri setiap lahan yang seharusnya ditanami pohon-pohon lebat untuk resapan air. Tanah luruh dari tempatnya karena tak ada yang dapat menahannya lebih lama, longsor jadinya. Bencana dimana-mana. Bencana di negeri ini, di Indonesia kita.
Meski pada akhirnya kami tahu bahwa alam marah, semuanya sudah terlambat. Zamrud khatulistiwa kami telah pergi, hilang ditelan zaman yang semakin mengebiri. Yang terlihat kini adalah atap-atap pemukiman yang penuh sesak diselingi satu-dua gedung pencakar langit di tengah kota. Meski kami ingin mengubahnya lagi, diperlukan waktu yang lama untuk membuatnya kembali. Itupun jika tak ada gangguan dari pihak manapun. Negeri ini dan segala kekayaannya telah tersohor ke penjuru dunia. Warga dunia datang hilir mudik silih berganti untuk berwisata, membuktikan kemashyuran sang permata khatulistiwa. Beruntung jika hanya berwisata, banyak yang melihat peluang untuk memanfaatkan kekayaan negeri ini. Hingga kami menjadi budak di rumah sendiri. Sungguh, ironis melihat rumah kami diacak-acak seperti ini.
Oleh karena itu, ini adalah sebuah pengakuan dan ajakan demi negeri ini.
Saya bangga menjadi bagian dari negara dan bangsa Indonesia. Negeri yang elok dengan berjuta pesonanya, baik yang sudah terungkap maupun yang masih tersembunyi. Negeri yang butuh saya dan kamu perbaiki. Saya bersyukur saya dilahirkan dan dibesarkan disini, karena negeri ini mengajarkan banyak hal dari hal-hal kecil yang harus saya pelajari. Perbedaan bukanlah halangan, justru perbedaan lah yang membuat kita saling menghargai. Negeri ini butuh orang-orang besar untuk membuatnya besar. Yuk, sama-sama ubah Indonesia jadi lebih baik! :)

View Gunung Sindoro dari Punggungan Dsn. Cengklok, Gunung Sumbing, Wonosobo, Jawa Tengah.
Share:

Sunday, February 1, 2015

Belajar (Informal)

Mengingat kata belajar, pikiran sebagian besar orang akan langsung mengarah pada kegiatan formal dengan siswa dan guru sebagai komponen utamanya. Juga ruang kelas, lengkap dengan papan tulis kapur/spidol, juga meja dan kursi. Padahal, belajar tak cuma terbatas sampai disitu saja.

Hari ini, ketika Jakarta diguyur hujan sejak tadi malam hingga saat ini, keluarga saya memilih untuk mengikuti pengajian rutin mingguan di salah satu masjid besar di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Selepas pengajian, kami berjalan mencari case laptop untuk ibu. Hingga kemudian menyempatkan diri makan siang terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan, seringkali banyak topik pembicaraan yang diangkat. Baik antara ayah dan ibu, atau pun antara saya dengan adik-adik. Dalam bentuk obrolan dua arah, maupun diskusi hangat penuh argumentasi semangat dari saya maupun adik-adik tentang suatu masalah yang kami tanyakan pada ayah atau ibu.

Suatu kesadaran menghantam saya dalam perjalanan pulang. Ngobrol dan diskusi kami selama dalam mobil ini juga proses belajar. Meski tanpa guru, tanpa spidol, juga tanpa meja. Obrolan mengalir layaknya bola yang turun dari bidang miring licin; bebas tanpa hambatan. Jika ada yang tidak sependapat, kami boleh langsung membantahnya dan mengajukan pendapat kami. Pun jika ada yang masih tak dapat dipahami. Beruntung, orang tua saya bukan tipe orang tua kolot yang tak membiarkan anaknya bertanya hal-hal aneh dan memiliki pendapat sendiri. Saya jadi teringat akan canggungnya sebuah mobil dengan keluarga lengkap di dalamnya disertai gadget canggih. Dingin, tak ada obrolan, semua sibuk dengan gadgetnya. Sang ayah sibuk menyetir, sang ibu asyik BBM-an dengan teman-teman arisannya, sang adik seru dengan PSP-nya, sedang si kakak terlarut dalam musik di Ipod-nya. Duh, miris sekali. Betapa banyak kesempatan belajar yang mereka lewatkan dengan gadget canggih yang mengelilingi mereka.

Saya hanya ingin mengingatkan siapapun bahwa meski gadget membantu sebagian besar hidup manusia, tak ayal ia juga menjadi salah satu faktor penghancur hidup manusia. Bisa dibilang gadget juga membantu seseorang belajar, meski efek samping yang ditimbulkannya juga akan lebih banyak. Kena efek radiasi, misalnya. Belajar, bagaimanapun caranya dan dimanapun posisinya adalah sebuah proses penerimaan kehidupan dari ketiadaan. Manusia lahir tanpa pengetahuan dan proses belajar membuatnya "tahu" bahwa sesuatu itu ada dan bermakna. Apalagi proses belajar yang disertai hati ikhlas dan lapang serta perasaan senang, akan membuat sesuatu semakin mudah diingat dalam jangka waktu yang lama.
Share:

Saturday, January 3, 2015

Suatu hari, ketika hujan turun

Hari itu, saya berdiri di peron 4 Stasiun Manggarai, menunggu kereta jurusan Bekasi datang. Seperti biasa, sambil menunggu, pikiran saya hanyut memikirkan berbagai hal yang melintas sambil memandang apapun yang ada di hadapan. Tiba-tiba hujan turun. Orang-orang mulai sibuk mengeluarkan payungnya untuk melindungi tubuhnya dari hujan. Saya tetap bergeming, selain karena tidak membawa payung, hujan yang turun juga masih dalam skala kecil alias rintik. Lagipula, saya juga pecinta hujan, tak masalah bila basah, begitu pikir saya. Tapi tak lama, hujan yang turun menjadi lebih deras. Dan seseorang di sebelah saya, tiba-tiba menoleh dan berkata, "Mbak, sini bareng sama saya aja, nanti basah." Terus terang, saya terkejut ditawari berteduh dalam satu payung yang sama seperti itu.

Namanya Tyas, saya masih ingat betul. Saya memanggilnya Kak Tyas, adalah seorang pegawai di salah satu perusahaan asuransi di kawasan Sudirman. Perawakannya mungil dan terlihat gampang akrab dengan orang lain, terbukti dari percakapan kami yang kerap kali diisi dengan pertanyaan-pertanyaan darinya.

Beberapa menit berselang, kereta tujuan Bekasi ternyata dipindah ke peron 1. Masih bersama Kak Tyas, kami berlari kecil menuju peron 1. Ramai, tentu saja. Tapi saya, masih asyik termenung menyadari kebaikan seseorang yang tidak saya kenal hari itu. Ketika kereta akhirnya tiba, semua penumpang berebut naik, tentu saja. Keretanya kosong. Dan kami berdua berhasil mendapatkan tempat duduk. Tapi jujur saja, hari itu adalah pertama kalinya saya tidak ingin duduk meski keretanya kosong, entah kenapa. Saya turun lebih dahulu, sambil mengucapkan terimakasih atas payungnya.

Bahkan setelah turun dari kereta, saya masih termenung. Dalam hati, saya terus bergumam, ternyata masih banyak orang baik di Indonesia.
Share:

Thursday, January 1, 2015

Kuroko no Basuke (Kuroko's Basketball) Review

Well then, halo! January 1st 2015! People said it's new year, new life, new everything. I don't really think so. Like always, none of us will know what will happen next, isn't it? Yet people would always make resolution to be better. I, as expected, definitely haven't made any specific resolution. I just simply wish this year to be better. Aamiin.

Speaking of new year, people always celebrate its eve gloriously, just like last night. And me, just freaking cursed upon those who ignite the firecrackers. What could i say? They're really annoying. I simply locked my self  by watching anime and they seemed to let the firecrackers blown up above my room. Let's call it a night.

Besides, what i want to really write here is some review about the anime i watched. I wouldn't let this slide because....it's just great? Lol but here it is! Kuroko no Basuke! Next sentences will be in English mixed with Bahasa, simply because aku mau spazzingaaan hahaha

So, this anime tells about a boy named Kuroko Tetsuya. A fresh graduate from Teiko middle school, whose basketball club was so famous. Be in there, 5 stars having 5 superb skill called Kiseki no Sedai, or Generation of Miracles, consist of Akashi Seijuro, Midorima Shintaro, Kise Ryota, Aomine Daiki, and Murasakibara Atsushi. Well there's one left, Kuroko Tetsuya, Kiseki no Sedai's 6th member, the shadow. 

Tetsu, Aomine's dearest call for Kuroko, was going to Seirin high school, whose basketball club was just formed a year ago. Di Teiko, dia keluar dari klub basketnya karena ngerasa nggak nyaman sama teman-temannya yang sekarang. They're just too individualist. Semuanya bener-bener mentingin kemampuan individu dan gaada satupun yang berpikir kalo kekuatan tim itu penting, kecuali tentu saja, Tetsu. When he entered Seirin's club, he found his "light", Kagami Taiga. Just like his nickname, shadow, Tetsu can't play without any lights. Because shadow rises from the light, doesn't it? Well, they found the good chemistry, moreover Kagami's skill is actually close to Kiseki no Sedai's member.

If you've been getting curious about Tetsu's skill, then it is Passing! He's awesome at it. His misdirection skill is indeed an expert, he's special, however. Unfortunately, other than his awesome pass, he could do nothing, even such a simple shoot. Sedih ga? Hahahahah jangan khawatir, seiring jalannya episode he's getting better kok. He develops some drive and shoot (taught by Aomine). Aomine was once his light in Kiseki no Sedai, tapi karena udah saking bangga dan yakinnya sama diri sendiri, sampe-sampe mottonya dia itu "yang bisa ngalahin aku itu cuma aku sendiri", dia milih main sendiri dan ninggalin Tetsu gitu aja.

Alasan kenapa Kiseki no Sedai itu terkenal banget, karena emang pemainnya gak main-main skillnya. Gue bakal bilang mereka semua bukan orang, fix! Let me introduce them, then~


  1. Akashi (merah), emperor eye kata bocorannya wkwk means he could predict his opponent's movement. I watched the anime yang baru sampe season 2 so i havent known his specialty yet.
  2. Midorima (hijau), my 3rd favorite, Shooter, gila ini ga ngerti lagi deh gimana cara ngelatihnya, jarak tembakannya satu lapangan! Jadi dia bisa nembak dari ujung lapangan yang satu, ke ring di ujung lainnya. Pokoknya pasti masuk kalo yang ganggguin cuma lawan biasa-biasa aja. Yang lucunya dari dia itu.....percaya abis sama ramalan. He would listen to ramalan dia hari itu pagi-pagi, terus dia bakal bawa benda keberuntungannya atau benda penangkal sialnya. Heran gue -_-
  3. Aomine! (biru gelap) MY ULTIMATE FAVORITEEEEE!!!! Wkwkwk the Ace of Kiseki no Sedai! Bukan orang jugaaa sumpah deh bingung gue nonton dia. Ini anak top scorer nya Kiseki no Sedai, bisa ngapain aja, bisa nembak dari mana aja. Belum lagi lari dan refleknya yang cepat, bikin yang ngelawan cuma bisa bengong doang. Ngerasa paling hebat karena belum nemuin yang lebih hebat dan mau berjuang lebih daripada dia, makanya tiap latihan males-malesan. Sampai akhirnya dikalahin duet Kagami - Tetsu di pertandingan yang kedua (yang pertama kalah karena kekuatan mereka masih rendah dan mentalnya down banget) simply karena Kagami is much more stubborn than he is.
  4. Our main focus, Tetsu (biru muda), Passer & Shadow. Pass nya cepet abis, suka ngilang karena bisa pake misdirection waktu tanding, dan hawa adanya dia kecil banget jadi sering banyak yang ga sadar kalo dia ada disitu. Selalu percaya kalo basket itu olahraga tim, biarpun nggak mengabaikan kekuatan individu. Dia percaya banget sama teman-teman satu timnya, apalagi sama Kagami.
  5. Kise! (kuning) my 2nd favorite. Pembelajar yang handal, bahkan saking handalnya bisa mengopi tehnik orang dengan sekali lihat. Always admires Aomine, karena gara-gara Aomine dia jadi main basket. He's a model dan suka tebar pesona wkwkwk he's handsome though jadi gapapa lah ya.
  6. Murasakibara (ungu), mageran makanya jagonya defense. Eits tapi jangan salah, he's also good at offense. Cuma buat apaan offense kalo udah ada yang lain? Wkwkwk. Badannya tinggi gede, lawannya jadi banyak yang jiper duluan gara-gara itu. Suka ngemil dan males-malesan kalo jaga gawang karena katanya dia benci basket. Tapi di satu pertandingan ngelawan Tetsu dan Kagami, dia kalah dan akhirnya (mungkin) (mulai) mengakui kalau dia cinta basket.
Jadi, udah ngerti kenapa dibilang bukan orang? Kenapa ditakutin lawan? Indeed because they're too scary to be against to. Anyway, alasan gue suka banget Aomine adalah karena selain dia biru (Ao) (iya gue biased banget emang) dia juga jago banget mainnya. Walaupun yah harus gue bilang gue sebel banget sombongnya itu. But i really love seeing him playing with Tetsu. Senyumnya ituuu huhuhu senyum tulus anak bocah kesenengan ngelakuin apa yang dia senengin T_____T

Oiya, I haven't told you about Tetsu's partner in duet yet, Kagami!
Mirip Aomine. Nggak, bukan cuma mirip, tapi sangat mirip Aomine. Bukan orang juga gue rasa, but yah setidaknya dia terasa jauh lebih "orang" kalo dibanding Aomine. Kelebihannya ada di letak daya juangnya yang tinggi banget sih, selain skillnya ya. Percaya banget sama Tetsu dan timnya sampe gamau ngebiarin mereka sedih dan nangis lagi. Hasilnya? Ngalahin Aomine dong!

After taste: baper gue baper abis gatau kenapa tapi seneng dan terharu banget mereka sehebat dan mau berjuang sekeras itu demi menang dengan kekuatan tim. Sampe-sampe ada satu episode yang gue nangis gara-gara lawannya itu kasar banget mainnya dan gue kesel banget nontonnya. I still remember the opponent's name, Hanamiya. Dan makin sayang Aomine tentunya! Hahahah

Best Part: (sampe season 2 ya) one-to-one nya Kagami - Aomine in Zone! Gilaaaa keren abis!!!! Sama flashback Aomine - Tetsu pas masih main bareng dong ah, senyumnyaaa wkwkwk cannot say anything but genuinely cute uhuhu

Values: dont be so self-centric; kamu mungkin hebat dalam satu hal, tapi tak semua hal bisa dilakukan sendiri. Tak pernah ada usaha yang sia-sia; selelah dan sekeras apapun kamu berjuang, kamu pasti dapat balasannya. Akan selalu ada orang hebat yang mengalahkanmu, makanya jangan sombong.

I'm glad that Kise nyadar duluan kalo kerjasama tim itu penting setelah kalah latih tanding bareng Seirin. Alhasil dia selalu dukung Tetsu dan Seirin kalo mereka lagi tanding lawan anak Kiseki no Sedai yang lainnya, semata-mata cuma buat nyadarin anak Kiseki no Sedai yang lainnya kalo mereka selama ini salah dan bisa kalah. Midorima nyadar abis Kise! Wkwkwk lucu banget sayang mereka semuaa

Well, I'm also glad that I write this. Anime ini ngajarin gue banyak hal positif lewat sebuah olahraga bernama basket. Selain, tentu saja, gue nemuin objek baper lainnya wkwkwk. See you soon, I guess? Bye!
Share:

Wednesday, December 10, 2014

Idealisme?

Hari senin kemarin, kami mulai memasuki minggu UAS. Hanya ada satu ujian di hari itu, jam 3 sore. Salah seorang temanku marah di ruangan tempat kami akan melaksanakan ujian, marah pada teman-teman sekelasnya yang mencontek saat UTS hingga UTS nya harus diulang. Khusus kelas itu. Aku yang baru datang, baru sempat melongok ke dalam, mendengar sedikit dari apa yang ia bicarakan; tak lebih, hanya mengajak teman-temannya jujur dan percaya pada kemampuan sendiri. Aku terdiam. Salut pada ajakannya yang mungkin terlihat menyebalkan bagi beberapa orang. Saat itu, salah seorang seniorku menghampiri dan bertanya, "Ada apaan jah? Itu kok marah-marah?" Aku yang memang belum tahu perkara detilnya (aku tahu setelah masuk ruangan) hanya sekedar menjawab "Itu kak, dibilangin biar UASnya jangan pada nyontek." Dan tahu apa jawabannya? "Alah, sok idealis temen lo." Dan aku menanggapinya dengan "Yeee kok gitu" kemudian ia ngeloyor pergi.

Jujur. Satu kata yang mudah terucap namun sangat sulit dilakukan. Kerap kali justru digunakan dalam konteks yang salah. Sifatnya prinsipil, harusnya jadi landasan hidup seseorang dalam melakukan kegiatan sehari-hari. 

Harus kuakui, satu kalimat dari seniorku diatas menamparku juga. Seketika berbagai pertanyaan berkelebat saat ia pergi. Idealis? Jadi itu sebutan untuk orang yang tetap mencoba jujur di zaman sekarang? Dimana letak salahnya? Apa salahnya jadi jujur? Aku tak melihat kesalahan dimanapun dari seseorang yang mempertahankan prinsipnya untuk jujur. Dan mengajak orang? Tak ada salahnya juga. Ia hanya mengajak, bukan memaksa. Toh ia tak melakukan apapun selain mengajak. Ia tak tahu. Aku, salah satu dari mereka yang ia bilang idealis. Atau naif, mungkin beda tipis. Aku tak tahu. Yang jelas, aku dari sekian orang yang berprinsip bahwa jujur di atas segalanya, apalagi saat ujian, mau nilaimu bagus atau tidak, itu  hasil usahamu sendiri. Aku, satu dari sekian orang yang mengutuk orang yang bahagia dengan nilai bagus karena hasil menyontek. Aku, satu dari sekian orang yang mencibir orang-orang yang mau dijajah kebohongan, membuatnya besar dan jumawa.

Baiklah, bilang aku idealis. Bilang aku tidak riil, tidak mampu menafsirkan situasi dan kondisi yang sedang terjadi di dunia masyarakat sekarang ini, tidak mampu menyesuaikan diri, atau apalah, aku tak peduli. Aku masih tetap seseorang yang akan menganggap semua orang baik, meski tak pelak kadang dirundung curiga. Aku masih tetap seseorang yang akan berusaha maksimal dalam setiap usahanya untuk apapun, tak peduli bagaimanapun hasilnya. Aku masih tetap seseorang yang akan selalu percaya bahwa Allah punya tabungan kebaikan amal kita yang belum diberikannya lunas saat kita gagal melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Aku masih tetap percaya bahwa jujur adalah hal paling penting yang harus seseorang pegang saat bermasyarakat. Aku tak berlagak jadi suci, aku hanya berlatih menakar kapasitas diri. 
Share:

Thursday, November 6, 2014

Sepi (Kekecewaan yang Meledak)

Malam. Posting lain di tengah padatnya hiruk pikuk tugas semester 3 yang seperti tak ada habisnya. Namun anehnya, malam ini aku malah tak mengerjakan apapun. Bebas. Luang. Dan lagi-lagi memberi ruang untuk menerawang.

Saat ini sepi. Entah sekadar jenuh atau karena dahi yang bersimbah peluh. Entah karena diliputi duka, atau malah disapa nestapa yang jahil belaka. Ah sepi, ada apa?

Mungkin karena aku sekarang sendiri? Ya, sendiri. Karena aku memutuskan untuk mengubur kejadian-kejadian itu dalam-dalam. Lelah. Aku tak mau lagi berurusan dengan mereka. Biar mereka dan Tuhan yang tau akan mengarah kemana dan dimana muaranya. Sudahlah, aku tak mau tau lagi. Aku lelah menjadi bayang-bayang yang selalu mengikuti; ada tapi dianggap tak ada, disadari namun tak diajak bicara. Aku lelah menjadi opsi kedua, yang seakan selalu ada tiap yang pertama pergi. Hanya segitu nilaiku?

Sepi mungkin selalu identik dengan sendiri. Namun tak di setiap sendiri kamu jumpai sepi. Sepi terkadang muncul di tengah keramaian, makhluk aneh, meski aku lebih suka mengakrabinya saat sendiri. Apalagi ketika kutemui sepi di atas ribuan mdpl sana, dengan langit berbintang sebagai atapnya.

Aku mungkin salah saat menjauhinya. Mungkin. Tapi toh hanya sedikit bagian dari hatiku yang merasa bersalah. Toh aku merasa lebih baik. Jadi aku simpulkan, tak apa. Aku merasa perlu membangun benteng yang kokoh sebelum kembali perang, tentu saja. Aku hanya belum pernah merasa sekecewa ini. Seakan semua yang sudah kami lalui bersama tak ada artinya. Begitukah? Jika harus berakhir begini, sejak dulu saja tak kucari kau dengan nama itu. Sejak dulu saja kita terpisah waktu. Dulu, mungkin aku memaklumi. Tapi sekarang? Tidak lagi.

Sepi selalu membawa angin semilir bersamanya. Membelai wajah dengan lembut dan mengangkat awang jauh entah kemana. Sepi selalu jadi teman terbaik saat yang dianggap terbaik tak lagi baik. Ah manusia, kenapa tak bisa seperti sepi?

Aku sudah mengucapkan selamat tinggal. Tak bisakah kau lihat itu? Aku benci. Benci padamu yang berpura-pura tak tahu. Berpura-pura tak peka kecuali padanya. Berpura-pura segalanya baik saja padahal kau tahu tidak. Ingin rasanya aku berteriak sambil menampar wajahmu yang menyebalkan itu, paling tidak agar kau sadar! Sadar bahwa kau yang sekarang sudah jauh berbeda. Sadar bahwa kau yang sekarang hanya seorang pengemis masa lalu yang baru menyesali perbuatannya, kemudian merengek minta kembali. BAH! Kau pikir kau itu siapa?! Kau pikir dunia ini milikmu?! Kau pikir isi duniamu hanya dia?! HAHAHA PIKIR! Aku muak dengan semua tingkahmu! 

Lebih baik aku pergi, meski harus ditelan sepi.


Jakarta, 6 November 2014
Untuk seseorang yang sudah terlalu jauh dari sisi, pergi dan jangan pernah menoleh lagi.
Share:

Wednesday, October 1, 2014

New Story

Been a month since the last time I wrote here. Things happened. Stories begin and end. Terlalu banyak yang berubah dari yang seharusnya. Kejutan dimana-mana. Ah, hidup.

Mungkin harus dimulai dari hal-hal yang tetap sama hingga sekarang. Gue masih suka naik gunung, masih kangen bahkan meski baru seminggu setelah turun. Gue sampe mikir kalo ini candu baru gue. Cara gue kabur dari kenyataan, atau seenggaknya biar makna hidup tetap ada di gue. Ya, gue dapet semuanya dari alam. Dari perjalanan-perjalanan gue kemarin, gue banyak belajar. Bentuknya mungkin tidak nyata, tapi gue tahu ada yang berubah di dalam sana. This is maybe the reason why I won't ever regret taking Geography as my major. Gue gatau, tapi yang pasti satu lagi khayalan gue tercapai.

I went to travel a lil too much these days. Baiknya, gue jadi deket sama temen yang tadinya gue ga deket. Buruknya......gue maunya jalan-jalan mulu............

Banyak hal yang harusnya gue ceritain disini, sayangnya gabisa. Yang gue bisa tulis adalah bahwa hal-hal itu berubah secara drastis, sampai-sampai gue nangis. Hal-hal diluar ekspektasi gue selama ini. Hal-hal yang meruntuhkan tembok dan berbagai macam sikap yang susah payah gue bangun selama sebulan terakhir ini. Things that put me in such a difficult situation. Rumit dan banyak. Banyak yang terlibat di dalamnya, banyak orang, banyak lingkaran.

Gue gatau harus gimana, sampai seseorang di perjalanan terakhir gue kemarin bilang "know and care less, happy more". Satu kalimat yang dengan ajaibnya  masih terus nempel di pikiran gue sampai saat  ini. Ya, mungkin gue yang emang terlalu peduli dan terlalu ingin tahu, sampai-sampai urusan sendiri terbengkalai. Mungkin gue emang selalu mikirin orang lain dan mengabaikan diri sendiri. Mungkin.......ah sudahlah.

I'd like to move on. I'd like to put things aside and think about my self more, yet I'm just afraid of getting more selfish than before. Entahlah bagaimana hal-hal yang gue sebutin di atas tadi akan berakhir, gue gatau. Yang pasti, gue bakal tetap disini. Menjadi satu irisan dari berbagai lingkaran yang rumit itu. Menjadi Faizah yang sama dengan yang dulu belum kecewa, sekaligus menjadi Faizah yang berbeda dengan yang dulu pernah ada.


Ps: Alam, tolong ajari aku lebih banyak lagi. Sampai ketemu di Gunung Cikuray tanggal 25 bulan ini! Semoga aku bisa ikut dan belajar lagi :) aamiinnnn
Share: