Monday, June 30, 2014

Sumbing - Solo - Jogja


Traveling, a word for those who wander much. Ibn Battuta said that travel leaves us speechless then turns us into storyteller. Ya, karena sebuah perjalanan akan selalu membawa cerita. Karena setiap perjalanan akan mengambil sedikit bagian dari hati untuk tinggal. Karena kita sebenarnya tak pernah benar-benar pulang.

Masih dalam rangkaian acara prasyarat menjadi anggota GMC UI, saya dan teman-teman lainnya diminta membuat database Gunung Sumbing di Wonosobo, Jawa Tengah melalui 3 jalur; Jalur Tedeng, Bowongso, dan Cengklok. I've got the last one, yang rupanya merupakan jalur yang harus kami rintis sendiri untuk mencapai puncak. We made the map, we made the way. Hahaha pada akhirnya kami harus puas berdiri tegak di titik tinggi 2864 mdpl karena punggungan putus yang dipisahkan oleh lembah yang dalam. Mungkin memang belum jodoh sampai di puncak, next time for sure. InsyaAllah. Kalau mau diceritakan jalurnya....duh perjuangan. Hutan dengan semak berduri, ilalang setinggi 1,5 m, jalan yang terus menanjak, wah apalagi kalau sudah sampai di lahan dengan vegetasi terbuka, angin yang berhembus kencang hingga punggungan jalur resmi pun bisa terlihat (Jalur Garung) tentu saja dibatasi lembah yang menganga diantaranya. Tapi sungguh, berdiri di titik 2864 mdpl saja sudah sangat bersyukur jika mengingat medan yang harus kami lalui untuk sampai disana. Toh dari ketinggian itu, Sindoro tetap menjulang gagah di hadapan, dikelilingi awan-awan yang melayang tenang bak terbang.

Tidak, kami tidak langsung pulang setelah turun dari Sumbing. Beberapa diantara kami memutuskan untuk pergi keliling Solo dan Jogja dengan anggapan bahwa sayang jika pergi jauh dari ibukota hanya untuk mendaki Sumbing semata. Alhasil, pergilah kami ke Solo dengan 3 kali ganti bus dari Wonosobo. Haaah, lelah? Tentu saja. Begitu sampai di rumah yang dituju, kami bertujuh langsung melepas keril sambil duduk meluruskan kaki. Selonjoran. Hari itu, kami cuma beristirahat sepanjang hari. Keesokan harinya, perjalanan dimulai! Mulai dari UNS, Masjid Ageng Surakarta, hingga Stadion Manahan kami kunjungi. Kami bahkan sempat ke Jogja untuk mengunjungi Prambanan dan balik lagi ke Solo. Di Jogja, kami hanya mengunjungi Malioboro dan Alun-alun selatan Keraton Jogja saja. 

A waste? Mungkin. Toh, ini kota-kota yang biasa dikunjungi oleh orang awam sekalipun. Tapi bagi saya, ini suatu awal. Awal untuk melakukan perjalanan yang lain, untuk pergi ke kota lain yang lebih jauh. Mungkin ke lain pulau? Lain negara? Lain benua? I do want to go everywhere, just to make sure i live the world i live in. Karena dengan traveling, kita tahu bahwa kita tidak sendiri. Bahwa kita masih punya banyak kebudayaan yang harus kita ketahui. Bahwa masih banyak orang baik yang akan membantu kita selama di perjalanan, regardless your ethnic group. Bahwa dengan perjalanan, kita menemukan suatu sudut pandang baru tentang hidup; tentang orang-orang di sekitar kita, tentang bagaimana memaknai hidup dan menghadapi rintangan di dalamnya dengan lapang dada, juga tentang cinta yang akan kita lihat di sepanjang perjalanan itu sendiri. Karena perjalanan, mengajarkan kita banyak hal untuk bertahan hidup. Go grab your chance!
Share:

Saturday, May 24, 2014

Within our world

Aku berpikir tentang satu cerita
Cerita dengan banyak alur di dalamnya
Alur yang begitu banyak dan saling bersilangan
Juga pemain yang berjalan saling bersisian
Kupikir semuanya akan berjalan lancar
Tanpa hambatan
Tanpa tabrakan
Tanpa para pemainnya dipertemukan
Tapi aku salah

Mungkin sebenarnya itu definisi dunia 
Dunia dengan banyak kehidupan
Kita mungkin hanya hidup pada satu dimensi
Dimensi yang kita sendiri tak tahu namanya
Sementara dimensi lain bergerak paralel dengan dimensi kita
Dengan dunia kita
Mungkin suatu saat nanti dimensi kita bisa saling bersilangan?
Aku tak tahu

Atau mungkin itu definisi takdir
Takdir yang mempunyai garis-garis yang berbeda bagi tiap anak manusia
Meski ada kalanya garis-garis itu bersinggungan dan mempertemukan sang empunya
Tetap saja garis itu berbeda

Tapi dunia berubah, Tuhan
Manusia juga
Apa takdir turut serta?
Share:

Wednesday, May 21, 2014

140521. H-1 Junmyun's b'day yet my last project execution

Anggap saja tulisan ini dipaksakan ada karena saya sudah sangat-sangat jenuh dengan ini semua hingga menulis pun seperti tak lagi punya daya. Banyak hal yang saya lewati beberapa hari terakhir ini, namun kebanyakan di antaranya hanya berakhir tanpa makna. Saya tidak tahu apa yang akan saya tulis disini. Namun yang pasti, cerita-cerita pada tulisan ini tidak akan saling terkait satu sama lain.

140504. Gunung Gede, 2958 mdpl. Alhamdulillah. Perjalanan kali ini entah kenapa hanya berlalu begitu saja, meski kali ini hasil yang dicapai jauh lebih besar dan lebih berarti. Meski alam memang tak pernah main-main ketika menunjukkan kemegahannya. Meski saya masih tetap terpana ketika berdiri di puncaknya. Mungkin karena hati yang tak seirama, atau malah tubuh yang merangkak menuju titik jenuhnya. Saya tidak tahu, tapi yang pasti ini merupakan salah satu titik tolak agar saya terus berusaha berjalan menuju mimpi saya yang lebih besar, menuju puncak yang lebih tinggi; Mahameru.

140515. Ini dia. Ini titik kulminasi saya. Titik balik dari semuanya. Hari dimana saya menjadi seseorang yang sama sekali berbeda. Hari dimana saya sama sekali tak menyangka bahwa suatu kejadian yang terjadi nun jauh di belahan dunia sana akan memberikan dampak yang cukup besar bagi saya. Lagi-lagi saya tidak tahu kenapa. Yang saya tahu, hari itu saya izin pulang setelah jogging karena demam dan pusing serta mood yang sama sekali tidak membaik sejak pagi. Saya menangis, menangis untuk seseorang yang bahkan tidak saya kenal sama sekali. Menangis untuk seseorang yang bahkan bayangannya saja belum pernah saya lihat. Hari itu saya hanya ingin menangis, untuk alasan apapun. Dan mungkin, alasan itulah yang terlihat oleh saya hingga saya menangis. Saya kecewa, marah, khawatir, juga takut akan kelanjutan kisahnya. Saya tidak tahu harus berbuat apa selain berdoa diam-diam agar semuanya baik-baik saja. Agar saya, dia, kami, dan mereka baik-baik saja.

140521. Saya masih dalam state dimana saya tidak mau melakukan apapun kecuali menggulung diri di bawah selimut. Saya masih berusaha memperbaiki mood saya yang hilang entah kemana. Besok kelas saya akan mengadakan pertunjukkan projek akhir dari sebuah matkul dengan bobot paling banyak. Saya bertugas bermain drama bisu dan membacakan puisi. Saya tidak tahu bagaimana besok semuanya akan berjalan. Sama sekali tidak tahu. Semuanya terasa blur buat saya. Besok juga, seseorang itu merayakan hari jadinya yang ke-23. Entah harus senang atau sedih, saya tidak dapat menebak perasaannya. Besok seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan baginya karena 2 hari setelahnya dia akan menggelar konser perdana bersama grupnya. Namun, karena masalah itu semuanya harus berubah. Atmosfirnya terasa aneh, terasa ganjil, terasa tak sama lagi setelah hari itu. Tapi tanggung jawab adalah tanggung jawab, yang harus kamu pikul meski peluh dan darah mengucur. Buat kamu yang disana, semangat ya! I know you can get through this. You have them and me, I'm gonna watch your back till you could stand on your own again. Xo! 
Share:

Thursday, April 3, 2014

Sleepless night

Hai! Saya sedang butuh teman, teman yang bisa diajak pergi ke satu tempat sepi yang terbuka untuk kemudian diam. Iya, diam. Saya hanya butuh seseorang untuk mengisi ruang kosong di sebelah saya, tanpa bermaksud mengajaknya bicara dan malah membuatnya mendengar cerita-cerita kehidupan saya yang membosankan. Saya hanya ingin diam, asik dengan pikiran-pikiran liar saya sendiri ditemani angin sepoi lembut yang menerbangkan anak-anak rambut yang menggantung di pelipis. Ah, andai saja ada yang bersedia......

Saya kangen, kangen bercerita dan bersenda gurau bersama adik juga teman-teman terdekat saya. Tapi saya juga takut, takut kalau mereka bosan mendengar saya mengeluh tentang hidup dan teman-teman di kampus. Saya sadar, saya menghabiskan banyak waktu dan tenaga saya untuk perekrutan anggota baru GMC yang bahkan belum jelas akhirnya. Saya mempertaruhkan terlalu banyak hal di hidup saya. Uang, tenaga, waktu saya bersama keluarga dan teman, perasaan, juga akademis saya. Namun....bukankah setiap pilihan memiliki resiko? Bukankah semua mimpi diraih dengan usaha dan kerja keras? Terlepas dari benar atau salah, saya ingin melakukannya, jadi saya terus.

Banyak hal yang ingin saya renungkan sendiri, di bawah langit berbintang kalau bisa. Ingin rasanya saya bertengkar dengan pikiran-pikiran ini, mengurai satu persatu benang kusut yang terlihat tidak berujung seperti sebuah lingkaran sempurna. Itulah kenapa saya ingin berada di bawah langit berbintang, agar ketika saya bosan dan ingin rehat, bintang-bintang itu mengalihkan pikiran saya. Mungkin memang terdengar galau dan mellow, tapi saya tidak peduli. Saya tetap suka melihat bintang-bintang yang menggantung jauh di atas sana, mengingatkan saya bahwa masih ada yang serupa dengan matahari, bahwa yang terlihat besar belum tentu yang paling kuat. Saya suka sinarnya yang lembut dan tidak menyakitkan, berkelap-kelip ramah tiap kali saya melihatnya. Ah, jadi kangen tempat camp pertama perjalanan kedua saya.

Tulisan ini lagi-lagi, bukan untuk apa-apa. Saya hanya merasa kalau saya harus menulis karena saya sudah terlalu lama memendam pikiran-pikiran yang terus meracau bagai burung yang tak henti berkicau. Walaupun toh pada akhirnya, hanya tulisan-tulisan random yang tercipta, setidaknya itu tetap membantu. Membantu menyalurkan sampah-sampah pikiran dan perasaan yang mendesak minta dikeluarkan. Selamat malam.
Share:

Monday, March 3, 2014

Gunung Joglog, 1844 mdpl

Kata orang, ada hal-hal tertentu yang bisa membuat seseorang melupakan kenyataan. Dan bagi gue, hiking ternyata salah satunya. Ini bukan sekadar catatan perjalanan, tapi ini juga catatan kenangan yang akan terus terkubur dalam ingatan.

Hiking pertama gue, perjalanan pendek caang GMC UI. Puncak Joglog, 1844 mdpl via Geger Bentang. Puncaknya pendek? Emang. Karena ini cuma salah satu punggungan gunung Gede/Pangrango. Gausah ngeremehin puncak yang pendek karena lo bakal nyesel udah ngomong gitu kalo liat track-nya. Tanjakan 90 derajat, pacet yang nempel dimana-mana, tanah gembur yang super licin, pohon berduri, ditambah jurang menganga di kanan kiri pasti bikin lo mikir 2 kali buat bilang itu gampang didaki. Belom lagi ditambah Gerben yang sempet longsor, bikin lo harus mastiin apa pijakan lo di tanah longsoran itu kuat apa nggak, karena jurang siap menelan. Gue sendiri hampir jatoh kalo nggak buru-buru banting badan sama keril ke kiri dan kaki gue ditahan sama temen gue, which became the most shocking moment of the month :') rasanya kayak udah mau mati, jantung mencelos banget sampe bengong sepersekian detik sebelum bangun dan mulai jalan lagi. Sempet main perosotan alam tumpuk 4 juga sama kelompok gue saking licinnya, menggigil kedinginan sampe mulut berasap karena jaket basah, juga luka-luka gara-gara megang pohon berduri. 

HAAAAAA but it's definitely amazing!!!! Gue gatau kenapa, tapi perjalanan ini bener-bener ngebantu bikin pikiran gue ngelupain "rumah" yang sekarang udah nggak kayak rumah. Bener-bener ngebantu gue ngelupain kenyataan kalo masih ada kuliah, kalo mbah udah nggak ada, dan semuanya berubah. Capek? Pasti. Tapi serunya ngalahin semuanya. This is not even the peak i've dreamed of yet, guys, tapi rasanya udah kayak gini. Bikin nagih, bikin mau lagi. Idec kalo temen gue pada bilang ini serem atau apa, yang pasti buat gue ini bukan cuma sekadar alur yang harus gue ikutin buat jadi anggota, tapi ini juga pelarian. Pelarian yang lebih besar, lebih memikat, lebih nyata, sekaligus juga lebih berbahaya. Taruhannya tawa atau nyawa. Tbvh, gue nggak keberatan sama sekali kalo gue meninggal waktu hiking. Because i think this is my dream, one of the biggest dream i have a courage to dream of, and i have to put efforts to make it true. Puncak yang lain, kalian soon ya!! Bismillahhirrahmanirrahim, semoga hiking sama kuliah sama lancarnya. Aamiin allahumma aamiin.
Share:

Sunday, February 23, 2014

∞ cycle of life

Mari bercerita
Tentang cinta
Tentang kehilangan
Juga tentang sebuah pengharapan
Ini bukan hanya kisahku, kisahmu, atau kisah salah seorang di antara kita
Tapi ini kisah kita semua
Kisah yang kita tak pernah sadar saling terhubung benang merah di sebuah lingkaran kosmos bernama semesta

Hati yang menghangat, retak, atau bahkan tak bergeming sekalipun tetaplah sebuah hati
Sebuah benda yang diagungkan manusia karena cinta
Karena cinta selalu dilambangkan dengan hati
Pun bagi hati-hati yang telah mati
Semua orang punya hati, punya mata, punya cinta
Tapi ketika kehilangan menghampiri
PYAR! Buyar semua cinta!
Buyar semua pengharapan yang dipunya
Tinggallah syak wasangka
Bahwa Tuhan tega
Bahwa Tuhan tak pernah adil padanya
Bahwa Tuhan tak lagi ada

Kehilangan itu saat kamu tak lagi bisa kulihat, apalagi kugenggam
Kehilangan itu saat semuanya tetap berjalan tanpa kamu di lingkaran
Kehilangan itu saat Tuhan disalahkan
Padahal seharusnya sebuah kehilangan menjadi cermin diri
Bahwa kita semua akan kembali

Ah, harapan
Aku lelah berharap
Aku lelah berandai-andai
Aku lelah mempertahankan kamu disini
Di dalam hatiku yang hampir mati
Kenapa kamu tidak berfungsi sebagaimana mestinya? Kenapa?
Oh ya, aku lupa
Kamu pun sudah lelah
Berteriak seperti orang gila memperingatkan bahwa kamu masih disitu
Maafkan aku

-PPT-
Share:

Friday, February 21, 2014

The one who died and they who being left

Senin, 17 Februari 2014 malam.
Gue sama ayah lagi diatas, duduk diam mengawasi laptop di hadapan dengan problem yang berbeda. Dia dengan urusan proyeknya, dan gue dengan latihan kalkulus yang bikin kepala gue sakit itu. Fani, Aqih, sama ibu udah pada tidur di kamar masing-masing. Sampai kira-kira jam setengah 11, gue sama ayah sama-sama bengong beberapa detik waktu ada yang teriak dari bawah. Tadinya gue nyangka itu nyokap, tapi begitu dipanggil ulang sama ayah dan no respond, ayah langsung lari ke bawah while gue masih stuck bengong. Feeling gue mulai nggak enak dan meluncurlah gue ke bawah. What is it that i found? Mbah akung yang terus meringis sambil megangin perutnya dengan nyokap yang terus ngusap-ngusap perut beliau sambil baca ayat kursi dan doa-doa lainnya. Muka gue pias, gatau harus respon apa. Though deep down inside i know this is not gonna be okay. Akhirnya nyokap sama bokap ngajak mbah ke rumah sakit. Gue ke atas bentar buat matiin laptop ayah terus turun lagi ke bawah bantuin mbah pake baju buat ke rumah sakit. Gue deg-deg an banget, khawatir, but no showing it at all. Waktu mbah akung keluar dari kamar mandi dan gue masangin sarungnya, dia bilang dia susah pipis. He's so messed up. Cold sweating while i wear his clothes on. Gilak gue ngusapin keringetnya terus mapah beliau ke garasi. Ayah udah ngeluarin mobil tapi masih nata kertas-kertas ulangan buat sekolahnya yang ber rim-rim itu jumlahnya. Mbah akung has been sweating too much sambil megangin perutnya. Shit, gue nggak tega sama sekali liatnya. Udah pokoknya abis itu beliau dibawa ke rumah sakit and there i was, nemenin mbah uti yang juga khawatir setengah mati.

Selasa, 18 Februari 2014.
I was up all night to company her bareng sama mbah ratmi, his sister. Gue ngerjain pr kimdas gue di bawah, sambil sms nyokap nanyain keadaannya mbah. She said everything's okay. Mbah akung cuma kembung dan gabisa pipis terus dipasangin kateter and whatever the tools are. Gue lega lah, sedikit. It means perasaan gue doang kan yang gaenak. Abis dibilang kayak gitu, gue masih sempet banget curhat-curhat di twitter. Dan baru tidur jam 3 pagi. I already forgot my class at 8, calculus class. Yaudah that's my first absent on purpose class after all. Gue nyampe kampus jam 9an dan langsung solat dhuha. And yup, i cried. The longest time i've ever been there kayaknya. Banyak banget bengongnya sambil nangis-nangis. Dan lagi-lagi, deep down at that time, i knew he would left. I knew he would passed away. Such a bitch feeling, isn't it? I tried to ignore that but it keeps coming like shit. Abis itu gue masih ada kelas fisdas dan harusnya jogging sama materi buat naik ke joglog sama papandayan minggu besok. Tapi yang gue ikutin cuma fisdas doang dan gue pulang karena kata bokap gausah ikut dulu. I obeyed him as well. Gue pulang naik kereta sama metro as always. Terus di metro gue bbm-an sama fani marah-marah gara-gara dia pasang pm yang bikin gue deg-degan setengah mati. Kampret emang. She wrote, "another gloomy day. Another day to grow up. Be strong :'(" gue bacanya udah yang kayak "what the freaking hell is going on? Mbah kenapa? Is he already left?" parah banget ya njir tapi pas gue tanya gitu dia bilang gapapa, but still im worried. Terus ayah sms kenapa gue belom pulang, gue bilang gue masih di metro, terus kata dia kalo gue mau jenguk mbah di ruang 2204 annas 2. But i said gue gamau kesana sendiri, nanti aja sama fani. If only i knew that would be the last time i saw him alive, i would have gone T____T. Gue nyampe rumah kayak biasa aja, cuma tau kalo mbah akung is well there and im okay. Sampe pas isya, mbah uti masuk ke kamar gue nyuruh solat. Itu pas banget baru azan isya terus gue bilang "iya ntar dulu, baru azan." terus beliau solat isya duluan. Abis itu gue yang solat dan not long after that she asked me whether the front door should have been locked or not, yaudah gue ke bawah dengan niat mau ngunci pintu. Tapi tiba-tiba ada yang buka pager. I was expecting it was om man, coming to accompany mbah uti juga. Tapi ternyata itu mbah ratmi sama bule nur. Guess what news they brought to me? Mbah akung meninggal. Gue dengernya udah yang kayak antara percaya ga percaya. Ngambang. Bengong beberapa detik terus kata mereka gue jangan kasih tau mbah uti dulu. Gue ngangguk dan act like nothing happened. Act like im okay, so don't worry. Nggak, gue sama sekali nggak nangis at that time. Gue cuma syok, kenapa beneran kejadian. Mana katanya rumah sakit tempat mbah gue di rawat itu kebakaran, i thought mbah gue meninggal gara-gara kebakaran itu tapi ternyata nggak. Abis itu, gue naik ke atas ngasih tau fani sama aqih. Mereka kaget, gue apalagi. Terus dari bawah kedengeran mbah uti yang mulai nangis. 

Damn, i'd remember that day as one of my worst day ever. Bukan, bukannya gue nggak ikhlas mbah meninggal, bukan itu. It's just weird that the world im living right now remains the same, but the people within, no. Gue cuma mikir, i had too many memories with him. Jalan-jalan ke pasar naik keranjang di sepedanya, dianterin sekolah waktu masih SD dulu, abis pulang sekolah mampir dulu ke SD sebelah makan bubur almarhum mbah rohmat, diajak ke stasiun nonton kereta sambil makan bubur lagi. Semua memori masa kecil yang kayaknya penuh sama ingatan tentang beliau, only because i've spent too many times being with him. Atau waktu gue udah mulai beranjak remaja, no longer naik sepeda sama beliau kemana-mana, tapi sebagai gantinya beliau selalu ada waktu gue pulang ke rumah, even if it's much late at night, he's still there, waiting me to come home and locked the door. I would no longer hear his voice every time i took out a plate and opened the rice cooker to eat. Gue nggak bakal nemuin lagi mbah akung yang dulu selalu gue ledekin karena dengerin lagu jawa mulu though diem-diem gue suka juga dengerinnya. Gue nggak bakal nemu mbah akung yang tiap sore motongin wortel sama daun bawang buat jualan gorengan besoknya, juga nggak bakal nemuin mbah akung yang tiap siang duduk deket rak piring ngantuk-ngantuk jagain warung karena mbah uti tidur siang. Atau mbah akung yang tiba-tiba kepalanya muncul dari balik pintu, nyariin makanan non-milk dan nggak pedes. Gue kangen suaranya yang ketus tapi perhatian, gue kangen pamitan sama dia tiap gue berangkat kuliah, gue kangen tiap dia nanyain gue, fani sama aqih mau makan apa nggak karena makanannya baru selesai dimasak, gue kangen sosoknya yang tiap pergi selalu pake kemeja batik sama celana bahan plus kopiah hitamnya, gue kangen liat mbah akung naik sepeda buat belanja atau cuma sekedar ngajak cucunya jalan-jalan, gue kangen permen dari plastik lusuh kemeja batiknya, gue kangen liat mbah akung yang pergi solat jumat pake sarung sama baju koko plus lagi lagi kopiah hitamnya. And even today is freaking friday. I could no longer see things i cant realize i love. 

Mbah, pipit kangen mbah akung. Kangen banget. Ini bahkan baru hari ketiga mbah, how come i live the rest with no tears? Nangis gue waktu dhuha selasa itu emang bukan tanpa alasan, because somehow i knew that he would left. Waktu gue di makam, gue sadar kalo itu terakhir kalinya gue liat beliau. Gue sadar kalo abis itu gue nggak bakal liat mbah akung lagi di rumah, nggak bakal liat mbah akung naik sepeda lagi, nggak bakal liat mbah akung goreng gorengan lagi, nggak bakal liat mbah akung buang sampah di depan warung lagi, nggak bakal liat mbah akung masak lagi, nggak bakal denger mbah akung manggil nama gue lagi, nggak bakal liat dia makan lagi, dan gue kayaknya bisa gila karena tiap gue inget itu gue pasti nangis. Ternyata sesayang ini gue sama mbah akung. Mbah akung yang dulu selalu nenangin mbah uti tiap nangis karena inget almarhum mbah rohmat sama mbah rini, mbah akung yang selalu bilang kalo setiap orang bisa meninggal bahkan yang keliatannya nggak pernah sakit sekalipun, mbah akung yang sekarang pergi dengan cara yang sama dengan yang selalu beliau bilang. Beliau nggak pernah ke rumah sakit sebelumnya, ke dokter pun bisa dihitung jari. Tapi hari itu, Allah yang pegang semuanya. Allah yang pegang tali takdirnya, dan Dia yang memainkannya. Mbah akung pergi, dengan semua kenangan yang beliau buat dengan kami. Kita semua sayang mbah akung!! Mbah akung baik-baik ya disana, semoga kita semua sabar karena ditinggal mbah, semoga kuburannya jadi tempat yang nikmat untuk menunggu hari akhir nanti, semoga kita semua bisa kumpul lagi di surganya Allah. Aamiin ya Rabbal 'alamin :''''')
Share: