Saturday, April 22, 2017

(Review) Mengunjungi Perpustakaan Nasional (Perpusnas RI)

If you could dream big enough to be achieved, then run. Chase it to the edge of the world. Don't let it slip away and just go.


Saya merupakan salah satu orang yang masih membiarkan buku bergeletakan di atas tempat tidur ketika saya pergi tidur. Jangan salah paham, bukannya saya tidak menyayangi buku-buku saya dan menelantarkannya begitu saja. Saya menyayangi buku-buku saya sebagaimana ibu menyayangi anaknya. Hahaha lebay banget sih, but true. Sedih banget kalau lihat buku-buku rusak dimakan rayap karena udah terlalu tua atau crumpled kena air hujan yang bocor dari atap rumah. Atau jika buku yang saya miliki dipinjam seseorang dan kembali dengan keadaan yang lebih buruk daripada sebelumnya. Wah, tidak termaafkan rasanya.

Dengan kondisi macam ini, berkunjung ke perpustakaan dan toko buku adalah salah satu kesenangan tersendiri. Sebelum berangkat, tentu saja saya berharap banyak ketika berkunjung ke Perpustakaan Nasional. I mean, hellow, just how many books were in there? It must be heaven! Membayangkan berdiri dikelilingi buku-buku dengan aroma yang khas selalu terasa menyenangkan. But, guess what I got there? Saya jadi mau ketawa miris :') Ternyata sistem pelayanannya adalah sistem tertutup, in which you gotta search the book you look for first, fill the catalogue card, go to the specific floor where your book located, give the catalogue card to the so-called-librarian there, and wait for them to bring the book you asked. BORING. Apa coba yang menyenangkan dari nunggu buku yang diambilin orang lain?

Menurut saya, sistem pelayanan tertutup tuh nggak banget. Selain pengunjungnya nggak bisa milih-milih buku yang dia mau sendiri, pengunjung juga harus tahu buku apa yang mau dia cari dengan spesifik. Sekarang gini, jika misalnya saya memiliki tugas yang butuh banyak referensi dan tidak tahu buku mana yang lebih bagus dari yang mana, bagaimana? At the very least, ketika kamu berada pada perpustakaan dengan sistem terbuka dimana pengunjung bebas memilih buku apapun yang ia mau, kesempatan itu akan lebih besar terbuka. Pengunjung juga tidak perlu repot bolak-balik turun naik berlantai-lantai (meski menggunakan lift) hanya untuk mencari dan mengambil kartu katalog yang terletak di lantai 2. Repot banget deh pokoknya. Satu nilai minus lainnya dari sistem tertutup, kelihatan banget pegawainya nggak punya kerjaan lain selain ngambilin buku yang dipesan :") lol

Saya tidak melepaskan diri dari kemungkinan alasan perpustakaan ini memiliki sistem tertutup. Yah, mungkin saja buku-bukunya terlalu mahal untuk dipegang tangan-tangan berminyak pengunjung yang baru selesai beli gorengan, meski pada kenyataannya saya tidak juga melihat pegawainya menggunakan sarung tangan khusus, sih. Atau mungkin juga karena buku-bukunya sudah terlalu tua dan menjadi koleksi langka. Well, kalau untuk yang ini, saya sangat maklum. Siapa juga yang mau benda koleksi nya rusak, ya kan?

Kesimpulannya, saya pribadi berpendapat bahwa tentu saja banyak yang malas ke perpustakaan jika harus melewati proses serepot ini untuk meminjam sebuah buku. Tadinya saya berpikir, cukup dengan memiliki kartu anggota perpustakaan dan yak lancar jaya meminjam buku. Padahal pada kenyataannya saya sampai harus menahan malu karena nekat ingin masuk ke rak-rak tempat penyimpanan buku yang terbatas untuk pegawai saja. What to say, I'm a first-timer HAHAHA sampai dilihatin semua orang. That was how I found it has closed system. An embarrassing experience, I know. But worth it, I guess?

After Taste: nggak lagi-lagi deh saya ke Perpusnas. Males. Sistemnya begitu, cara pegawainya menegur saya juga nggak menyenangkan sama sekali. Dia pikir semua orang udah pernah ke perpusnas apa ya?! (hashtagkesel)

Best Part: nggak ada. Not impressive at all. Told ya.
Share:

Draft: Sebuah Hasil

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---

Memasuki penghujung bulan April, satu per satu teman-teman saya sudah mulai memulai langkah selanjutnya menuju kelulusan; melaksanakan seminar draft atau hasil penelitian. Di departemen saya, kamu perlu melakukan 2 tahap seminar sebelum melakukan sidang akhir, yaitu seminar proposal dan seminar draft. Meskipun pada tahun ini, yang didominasi angkatan saya, melaksanakan seminar proposal tidaklah wajib. Melaksanakan seminar proposal atau tidaknya ditentukan oleh pembimbing dan penguji mahasiswa yang bersangkutan. Hal ini (sepertinya) dikarenakan jumlah mahasiswa angkatan saya jauh lebih banyak dibandingkan angkatan sebelum-sebelumnya.

Saya sendiri beserta teman-teman yang memiliki pembimbing yang sama tidak melaksanakan seminar proposal. Jika tidak melaksanakan seminar proposal, maka kamu harus menghampiri satu per satu dosen pembimbing dan pengujimu untuk meminta nilai kelayakan atas proposal yang kamu  ajukan, karena pada dasarnya seminar proposal dilakukan untuk menyetujui atau menolak ide yang kamu ajukan. Jika proposalmu sudah disetujui, dengan atau tanpa revisi, langkah selanjutnya adalah jalan ke lapangan! Jika mayoritas data yang kamu gunakan adalah data primer, tahap ini adalah tahap yang paling penting. We never knew what fact we could enconter on field, right?

Setelah jalan ke lapangan atau melakukan survei, tinggal menyusun dan mengolah data-data yang kamu dapatkan, menyambungkannya dengan teori, kemudian voila! Bab 5 berisi hasil dan pembahasan ide milikmu sudah selesai! Hehehe, terdengar sangat gampang ya, padahal pada kenyataannya riweuh pisan. Ya bingung ini, bingung itu, pembimbing satu bilang begini, pembimbing dua bilang begitu. Revisi, revisi, revisi, revisi lagi, revisi terus. Satu kata yang nggak akan habis terdengar sampai kamu resmi pakai toga.

Banyak orang (di departemen saya) berkata bahwa seminar draft adalah tempat "pembantaian" yang sesungguhnya. Jika dipikir-pikir, memang benar sih. Ketika seminar draft, hasil dari olahan data juga survei yang kamu lakukan masih mentah, belum pernah dilihat oleh dosen pengujimu, yang mana akan sedikit banyak berpengaruh pada mental mahasiswa yang sedang diuji. Jika kamu sudah berhasil melewati seminar draft dengan lancar, maka pada sidang sesungguhnya kamu hanya tinggal menjelaskan kembali apa yang sudah kamu jelaskan pada seminar draft sebelumnya, lengkap dengan revisi-revisi yang sebelumnya sudah diberikan. Tapi jika seminar draft milikmu aneh-aneh, baik dalam pengertian banyak hal yang tidak disetujui atau pun kamu menjawab pertanyaan dengan jawaban yang tidak sesuai konteks, you're doomed. Nilai seminarmu bisa jeblok, lalu dosen pengujimu akan memasang muka furious yang bikin jiper waktu mau kamu samperin. Yah, saya juga sebenarnya belum ngalamin sih. Denger cerita orang-orang aja ini mah, hehe.

Well, semoga skripsimu dan skripsi saya dimudahkan prosesnya!

Share:

Monday, April 10, 2017

Shokugeki no Soma (Food Wars) Review



Hi! So, in the middle of the hectic weeks of final thesis draft's deadline, I'm still sparing time for reading manga. Yup, that is Shokugeki no Soma or Food Wars. This manga also had been adopted into anime with the same title. The anime has 2 seasons aired, the first has 24 episodes and the second one has 13 episodes. Well, here I am giving a simple review for the sake of my inner fangirl thing.

As its title, this manga tells about a boy named Yukihira Soma who owned a family diner with his father, Yukihira Joichiro (or Saiba Joichiro when he's a kid). The restaurant was well-known for its delicious food, despite located in a small district. Soma always looked up to his father, and had tempted endless cooking battles with Joichiro was always on the winner side. Joichiro was a top chef among the world class restaurants, but Soma didn't know about this thing until the day he met his father later. Before going around the world again, his father sent him to enter Tootsuki Tea Ceremony and Cooking Academy, a world class culinary school. This school had "fierce" curriculum, with its student's expulsion at stake for a little mistake done. As a transfer student, he made a whole school his enemy on his first day there, by saying he's gonna be a first-ranked student in the academy. Knowing nothing about the school he was in, Soma continued cooking on and on, facing some upperclass students in the tournament, and slowly being acknowledged by everyone but Nakiri Erina, a girl known as The God-Tongue for her divine palate. Erina, being a tsundere that she was, refused to say Soma's dish was good. These two kept quarreling whenever they met. Erina's acknowledgement for his dish was added to Soma's purpose in cooking, other than defeat his father.

What I like about this anime, after a bunch of handsome guys (of course!), is their strong and interesting characters. The main character, Soma, is the one I'll pay my respect to. This guy doesn't know the term "giving up", he keeps aiming for the top, to beat his father someday in a cooking battle. He tried harder than everyone else, did countless trial and error, and made cooking a fun activity. He loved cooking so much that we all could see it bare. The plot is also another thing I'll mark down. It's getting better and better with different arcs while still on the line of Soma's way to become the best.

Again with a terrible review, but this is what keeps me sane from the final thesis deadline pressure HAHAHA hm another excuse but hey it's true! We all have that one thing that keeps us sane at the most crucial point, right?

After Taste : shame on me for being so easily discouraged and given up :X well despite being hungry, it sure has an important value to chase your dream and not easily give up. Hm, also beware to fall in love with those handsome and skillful boys!

Best Part : Soma-Erina's cute interaction! I ship this two sooo hard to the point I'll hate them so much if they're not an item at the end of the story (lol sorry but true)

Watch Out : ecchi part! Lol yeas this is an ecchi manga. To be very honest, I personally think those ecchi parts on first season anime are too much ;;; I mean, c'monnn I know that the foods are delicious without including those parts. Well, those might be needed to picture the foodgasms, but still a bit disturbing lol. Fortunately, the second season didn't have as many ecchi scenes as the first one and hey it's doing just fine!
Share:

Wednesday, March 22, 2017

Facing an Enemy

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---


As you would have already known, writing final thesis is nowhere near easy. I have said it several times, ain't I? Yet still, the thought creeped into my mind frequently. Pada kenyataannya, setiap individu pasti punya musuh yang harus dikalahkan. Tidak hanya saat skripsi, namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Musuh besar utama setiap orang pasti : diri sendiri. Sadar atau pun tidak, diri kamu adalah katalis semangatmu. You choose your own path, you create your own destiny. Great, I'm so good at making motivational words, yet the words fail on me.

Well, speaking about enemy, musuh-musuh yang harus dihadapi saat skripsi seperti bereproduksi. Atau jika tidak bereproduksi, berevolusi. Bukan hanya diri sendiri yang harus dihadapi, namun juga dosen pembimbing dan penguji yang rewel, ngurus izin penelitian disana-sini yang menyebabkan harus bertemu orang-orang yang (kadang) tidak menyenangkan, hasil survey yang tidak sesuai ekspektasi, hingga pengolahan data yang salah. Bersyukurlah kamu-kamu yang mampu menghadapi musuh-musuh tersebut dengan baik.

Bagi saya sendiri, lagi-lagi masalah internal. This body of mine seemed to refuse working together. Entah dengan alasan apa, badan saya sekarang jadi lemah dan gampang sakit. Belum ditambah penyakit psikologi berupa rasa malas, demotivasi, hingga stres yang makin menumpuk. If you want to know, there's always a spark of spirit in me every time I see my friends work on their thesis. A spark that's not big enough. That's what I'm working on right now, making it into a big flame. So that I could get this done soon. But talking is always easier, isn't it? It feels worrisome to not doing anything for the past 2 weeks. Yet, I don't really want to. Meh, such a complicated soul you have there, gurl.

Let's pray hard and keep fighting! May the odds be in your favor, all!
Share:

Saturday, March 11, 2017

Next, next, next!

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---


"Anak-anak bimbingan, usahakan bab 5 selesai awal April ya. Biar saya bisa baca." Tulis pembimbing skripsi saya di grup bimbingan pada suatu hari di awal minggu ini. Membacanya hanya menghasilkan sebuah cengiran di wajah saya. Dengan sisa waktu 3 minggu dan belum ke lapangan, apa lagi yang bisa saya katakan?

Semakin kemari rasanya sudah semakin bisa bersahabat dengan tekanan. Rasa-rasanya sudah tidak terlalu dipikirkan. Atau mungkin (pada akhirnya) hanya berhasil diabaikan. Entahlah. Satu hal yang pasti, saya tidak sendiri. Atau setidaknya, saya berpikiran begitu. Hehehe. Diskusi-diskusi lucu bersama pembimbing serta kritikan-kritikan pedas menusuk dari penguji toh harus ditelan juga. Meski harus tergugu sesaat karena bingung harus menjawab apa, sampai akhirnya hanya bisa menanggapi dengan senyum saking tidak ada ide jawabannya. 

Wah, menjadi mahasiswa semester akhir memang super, ya. Bolak-balik sana sini, diskusi, mencari referensi, mengambil data, mengetik ribuan kata demi membuat satu buku bernama skripsi yang jika sudah tiba masa kadaluarsanya toh hanya akan jadi onggokan sampah yang dibakar di halaman belakang. Benar loh, memang begitu kenyataannya. Memangnya mungkin semua skripsi-skripsi dari puluhan tahun yang lalu itu tetap disimpan? Kalau tidak memenuhi rak, ya kertasnya sudah rapuh dimakan rayap, ujungnya tetap saja dibakar, atau paling bagus, jadi bungkus cabe. Hehe.

Meski begitu, mahasiswa toh tetap jatuh bangun membuatnya. Karena katanya, itu syarat kelulusan. Dan selama peraturannya belum berubah, jatuh bangun berulang kali tetap harus dilakoni kan?
Share:

Sunday, March 5, 2017

Tentang Perpisahan

Kata orang, jika ada pertemuan, maka ada perpisahan. Durasinya juga beragam, bisa hanya beberapa detik, jam, hari, minggu atau malah puluhan tahun. Kita tidak pernah tahu. 

Menjadi makhluk ciptaan Tuhan membuat kita seharusnya sadar bahwa pertemuan-pertemuan kita dengan orang lain adalah sesuatu yang sudah ditentukan, atau orang-orang biasanya menyebutnya; takdir. Dari pertemuan-pertemuan itu kita belajar dan merasakan sesuatu, entah hal baik atau pun buruk. Pertemuan yang tidak pernah disangka-sangka. Pertemuan yang akan berakhir dengan perpisahan.

Perpisahan, sebagaimana layaknya pertemuan, juga dirancang secara tiba-tiba. Pun sebab dari perpisahan sendiri, ada banyak macamnya. Ada perpisahan yang tidak kita sadari telah terjadi, seperti ketika berpapasan dengan orang asing di jalan, karena pertemuannya juga sama tidak disadarinya. Ada perpisahan yang terjadi secara baik-baik, karena pihak-pihak yang terlibat sudah saling sepakat untuk berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing dengan agenda-agenda lain yang juga berbeda. Ada perpisahan yang dilakukan sepihak, akibat kekesalan dan emosi yang memuncak untuk beberapa saat. Ada pula perpisahan yang tidak dikehendaki; perpisahan selamanya. Perpisahan untuk menuju dunia yang lain, dunia yang abadi.

Perpisahan meninggalkan bekas. Mungkin senyum, luka, atau malah air mata. Meninggalkan senyum jika pertemuan itu membuatmu bertemu dengan orang yang menjengkelkan, meninggalkan luka jika pertemuan itu membuatmu sakit hati dan kesal, meninggalkan air mata jika pertemuan itu membuatmu menginvestasikan hatimu terlalu banyak dan dalam.

Namun, di atas segalanya, perpisahan adalah gerbang menuju pertemuan baru. 

Jika pada suatu hari nanti, kalau-kalau Tuhan mengizinkanmu bertemu kembali dengan orang yang dengannya kamu pernah berselisih paham, pernah menyakiti hatimu, juga membuatmu jengkel, maka tersenyumlah. Karena pertemuan yang kedua, bisa jadi, adalah sebuah refleksi, bagi hidupmu dan hidupnya. Semoga pada saat itu, kamu sudah memaafkannya dan dia sudah menyesali kesalahannya.

May, in the future, you meet (again) with ones you have quarrel with, in a better term.
Share:

Saturday, February 11, 2017

Jika Saya Punya Pacar

Di tengah-tengah segala kesibukan semester akhir yang rasanya semakin menekan, terselip undangan-undangan pernikahan teman dan kakak kelas. Wah ternyata saya sudah menginjak umur 20-an, waktu-waktu dimana kamu mulai melihat teman-temanmu satu demi satu memperkenalkan calon rekan seumur hidupnya, atau istilah bekennya, pacar. 
Saya tidak tahu apakah memiliki pacar pada umur segini memang perlu, sekadar untuk menemani pergi kemana-mana atau minimal jadi supir kamu. Saya juga tidak tahu apakah memiliki pacar dianggap sebagai parameter “lakunya” seorang perempuan atau tidak, namun yang pasti teman-teman saya sering merasa gelisah (walau dalam bentuk candaan) karena belum ada seorang lelaki pun yang mendekati dan berminat “menembak” mereka. Saya hanya tertawa menanggapi candaan mereka.
Saya bukan tipe perempuan yang pusing dengan hal-hal remeh tentang pencarian pacar. Buat saya, pacaran malah tampak sia-sia. Kenapa? Karena ikatannya rapuh, tidak pasti, tapi sudah ‘sok’ bersifat mengikat. Belum lagi segala tetek bengek tentang harus memberi kabar setiap jam, sedang ada dimana, dengan siapa, dan berbuat apa. Lama-lama jadi lagu kangen band, hehe. Ketika saya berkata begitu pada teman-teman saya yang memiliki pacar, mereka pasti akan berkata “ya lo nggak pernah pacaran aja. Nggak pernah ngerasain rasanya diperhatiin terus-terusan.” Jika mau su’udzon, mungkin belakangnya ditambahkan “kasian deh lo!” dalam hati masing-masing. Hehehe.
Bukannya saya tidak pernah berpikir bagaimana rasanya punya pacar, saya pernah. Sering malah. Namun berapa kali pun dipikir, saya tetap tidak menemukan sisi yang membuat saya berubah pikiran bahwa pacaran adalah hal yang “wah” sehingga mampu membuat saya berdoa “aku mau punya pacar ya Allah, please?”. Saya sering sekali membayangkan jika saya punya pacar, akan bagaimanakah sikap saya, apakah saya akan melakukan hal-hal yang saya pikir menggelikan sebelumnya, ribet bertanya ala lagu kangen band pada pacar saya, melarang pacar saya dekat dengan wanita lain, pergi setiap malam minggu dengan motor bersama pacar saya dengan posisi duduk yang menempelkan dada dengan punggung pacar seolah tak ada ruang lagi disana, atau pergi dengan mobil berdua saja. Hasilnya? Saya malah bergidik. Lagi dan lagi. Terlihat salah dan terbayang salah. Bahkan tidak jarang justifikasi pacaran dianggap cukup untuk melakukan hal-hal yang lebih dari itu. Duh na’udzubillah.
Pada akhirnya, saya tetap lebih memilih untuk menunggu yang pasti. Walaupun entah kapan datangnya, hahaha. Modalnya yakin pada Tuhan saya yang Maha Mengetahui, Allah azza wa jalla. Karena status “punya pacar” saja buat saya belum cukup mengikat secara kuat dan menyeluruh. Pacar masih bisa kabur, karena kita tidak tahu kapan hati orang berubah kan? Saya tidak bermaksud meng-imply kalau yang sudah menikah hatinya tidak bisa berubah, hanya saja menikah menunjukkan keseriusan yang berlangkah-langkah lebih maju dibandingkan hanya sekedar pacaran. Menikah berarti melibatkan banyak pihak, bukan cuma 2 pihak yang bersangkutan, sehingga jika pun ‘bubar’, keputusan bisa berkali-kali dipikirkan sebelumnya.
Hehe, lagi-lagi tulisan random ya. Well, this is stating my statement about this whole “pacaran” thingy. 
Selamat menunggu yang pasti-pasti! Jangan lupa sambil memperbaiki diri :)
Share: