Monday, April 10, 2017

Shokugeki no Soma (Food Wars) Review



Hi! So, in the middle of the hectic weeks of final thesis draft's deadline, I'm still sparing time for reading manga. Yup, that is Shokugeki no Soma or Food Wars. This manga also had been adopted into anime with the same title. The anime has 2 seasons aired, the first has 24 episodes and the second one has 13 episodes. Well, here I am giving a simple review for the sake of my inner fangirl thing.

As its title, this manga tells about a boy named Yukihira Soma who owned a family diner with his father, Yukihira Joichiro (or Saiba Joichiro when he's a kid). The restaurant was well-known for its delicious food, despite located in a small district. Soma always looked up to his father, and had tempted endless cooking battles with Joichiro was always on the winner side. Joichiro was a top chef among the world class restaurants, but Soma didn't know about this thing until the day he met his father later. Before going around the world again, his father sent him to enter Tootsuki Tea Ceremony and Cooking Academy, a world class culinary school. This school had "fierce" curriculum, with its student's expulsion at stake for a little mistake done. As a transfer student, he made a whole school his enemy on his first day there, by saying he's gonna be a first-ranked student in the academy. Knowing nothing about the school he was in, Soma continued cooking on and on, facing some upperclass students in the tournament, and slowly being acknowledged by everyone but Nakiri Erina, a girl known as The God-Tongue for her divine palate. Erina, being a tsundere that she was, refused to say Soma's dish was good. These two kept quarreling whenever they met. Erina's acknowledgement for his dish was added to Soma's purpose in cooking, other than defeat his father.

What I like about this anime, after a bunch of handsome guys (of course!), is their strong and interesting characters. The main character, Soma, is the one I'll pay my respect to. This guy doesn't know the term "giving up", he keeps aiming for the top, to beat his father someday in a cooking battle. He tried harder than everyone else, did countless trial and error, and made cooking a fun activity. He loved cooking so much that we all could see it bare. The plot is also another thing I'll mark down. It's getting better and better with different arcs while still on the line of Soma's way to become the best.

Again with a terrible review, but this is what keeps me sane from the final thesis deadline pressure HAHAHA hm another excuse but hey it's true! We all have that one thing that keeps us sane at the most crucial point, right?

After Taste : shame on me for being so easily discouraged and given up :X well despite being hungry, it sure has an important value to chase your dream and not easily give up. Hm, also beware to fall in love with those handsome and skillful boys!

Best Part : Soma-Erina's cute interaction! I ship this two sooo hard to the point I'll hate them so much if they're not an item at the end of the story (lol sorry but true)

Watch Out : ecchi part! Lol yeas this is an ecchi manga. To be very honest, I personally think those ecchi parts on first season anime are too much ;;; I mean, c'monnn I know that the foods are delicious without including those parts. Well, those might be needed to picture the foodgasms, but still a bit disturbing lol. Fortunately, the second season didn't have as many ecchi scenes as the first one and hey it's doing just fine!
Share:

Wednesday, March 22, 2017

Facing an Enemy

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---


As you would have already known, writing final thesis is nowhere near easy. I have said it several times, ain't I? Yet still, the thought creeped into my mind frequently. Pada kenyataannya, setiap individu pasti punya musuh yang harus dikalahkan. Tidak hanya saat skripsi, namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Musuh besar utama setiap orang pasti : diri sendiri. Sadar atau pun tidak, diri kamu adalah katalis semangatmu. You choose your own path, you create your own destiny. Great, I'm so good at making motivational words, yet the words fail on me.

Well, speaking about enemy, musuh-musuh yang harus dihadapi saat skripsi seperti bereproduksi. Atau jika tidak bereproduksi, berevolusi. Bukan hanya diri sendiri yang harus dihadapi, namun juga dosen pembimbing dan penguji yang rewel, ngurus izin penelitian disana-sini yang menyebabkan harus bertemu orang-orang yang (kadang) tidak menyenangkan, hasil survey yang tidak sesuai ekspektasi, hingga pengolahan data yang salah. Bersyukurlah kamu-kamu yang mampu menghadapi musuh-musuh tersebut dengan baik.

Bagi saya sendiri, lagi-lagi masalah internal. This body of mine seemed to refuse working together. Entah dengan alasan apa, badan saya sekarang jadi lemah dan gampang sakit. Belum ditambah penyakit psikologi berupa rasa malas, demotivasi, hingga stres yang makin menumpuk. If you want to know, there's always a spark of spirit in me every time I see my friends work on their thesis. A spark that's not big enough. That's what I'm working on right now, making it into a big flame. So that I could get this done soon. But talking is always easier, isn't it? It feels worrisome to not doing anything for the past 2 weeks. Yet, I don't really want to. Meh, such a complicated soul you have there, gurl.

Let's pray hard and keep fighting! May the odds be in your favor, all!
Share:

Saturday, March 11, 2017

Next, next, next!

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---


"Anak-anak bimbingan, usahakan bab 5 selesai awal April ya. Biar saya bisa baca." Tulis pembimbing skripsi saya di grup bimbingan pada suatu hari di awal minggu ini. Membacanya hanya menghasilkan sebuah cengiran di wajah saya. Dengan sisa waktu 3 minggu dan belum ke lapangan, apa lagi yang bisa saya katakan?

Semakin kemari rasanya sudah semakin bisa bersahabat dengan tekanan. Rasa-rasanya sudah tidak terlalu dipikirkan. Atau mungkin (pada akhirnya) hanya berhasil diabaikan. Entahlah. Satu hal yang pasti, saya tidak sendiri. Atau setidaknya, saya berpikiran begitu. Hehehe. Diskusi-diskusi lucu bersama pembimbing serta kritikan-kritikan pedas menusuk dari penguji toh harus ditelan juga. Meski harus tergugu sesaat karena bingung harus menjawab apa, sampai akhirnya hanya bisa menanggapi dengan senyum saking tidak ada ide jawabannya. 

Wah, menjadi mahasiswa semester akhir memang super, ya. Bolak-balik sana sini, diskusi, mencari referensi, mengambil data, mengetik ribuan kata demi membuat satu buku bernama skripsi yang jika sudah tiba masa kadaluarsanya toh hanya akan jadi onggokan sampah yang dibakar di halaman belakang. Benar loh, memang begitu kenyataannya. Memangnya mungkin semua skripsi-skripsi dari puluhan tahun yang lalu itu tetap disimpan? Kalau tidak memenuhi rak, ya kertasnya sudah rapuh dimakan rayap, ujungnya tetap saja dibakar, atau paling bagus, jadi bungkus cabe. Hehe.

Meski begitu, mahasiswa toh tetap jatuh bangun membuatnya. Karena katanya, itu syarat kelulusan. Dan selama peraturannya belum berubah, jatuh bangun berulang kali tetap harus dilakoni kan?
Share:

Sunday, March 5, 2017

Tentang Perpisahan

Kata orang, jika ada pertemuan, maka ada perpisahan. Durasinya juga beragam, bisa hanya beberapa detik, jam, hari, minggu atau malah puluhan tahun. Kita tidak pernah tahu. 

Menjadi makhluk ciptaan Tuhan membuat kita seharusnya sadar bahwa pertemuan-pertemuan kita dengan orang lain adalah sesuatu yang sudah ditentukan, atau orang-orang biasanya menyebutnya; takdir. Dari pertemuan-pertemuan itu kita belajar dan merasakan sesuatu, entah hal baik atau pun buruk. Pertemuan yang tidak pernah disangka-sangka. Pertemuan yang akan berakhir dengan perpisahan.

Perpisahan, sebagaimana layaknya pertemuan, juga dirancang secara tiba-tiba. Pun sebab dari perpisahan sendiri, ada banyak macamnya. Ada perpisahan yang tidak kita sadari telah terjadi, seperti ketika berpapasan dengan orang asing di jalan, karena pertemuannya juga sama tidak disadarinya. Ada perpisahan yang terjadi secara baik-baik, karena pihak-pihak yang terlibat sudah saling sepakat untuk berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing dengan agenda-agenda lain yang juga berbeda. Ada perpisahan yang dilakukan sepihak, akibat kekesalan dan emosi yang memuncak untuk beberapa saat. Ada pula perpisahan yang tidak dikehendaki; perpisahan selamanya. Perpisahan untuk menuju dunia yang lain, dunia yang abadi.

Perpisahan meninggalkan bekas. Mungkin senyum, luka, atau malah air mata. Meninggalkan senyum jika pertemuan itu membuatmu bertemu dengan orang yang menjengkelkan, meninggalkan luka jika pertemuan itu membuatmu sakit hati dan kesal, meninggalkan air mata jika pertemuan itu membuatmu menginvestasikan hatimu terlalu banyak dan dalam.

Namun, di atas segalanya, perpisahan adalah gerbang menuju pertemuan baru. 

Jika pada suatu hari nanti, kalau-kalau Tuhan mengizinkanmu bertemu kembali dengan orang yang dengannya kamu pernah berselisih paham, pernah menyakiti hatimu, juga membuatmu jengkel, maka tersenyumlah. Karena pertemuan yang kedua, bisa jadi, adalah sebuah refleksi, bagi hidupmu dan hidupnya. Semoga pada saat itu, kamu sudah memaafkannya dan dia sudah menyesali kesalahannya.

May, in the future, you meet (again) with ones you have quarrel with, in a better term.
Share:

Saturday, February 11, 2017

Jika Saya Punya Pacar

Di tengah-tengah segala kesibukan semester akhir yang rasanya semakin menekan, terselip undangan-undangan pernikahan teman dan kakak kelas. Wah ternyata saya sudah menginjak umur 20-an, waktu-waktu dimana kamu mulai melihat teman-temanmu satu demi satu memperkenalkan calon rekan seumur hidupnya, atau istilah bekennya, pacar. 
Saya tidak tahu apakah memiliki pacar pada umur segini memang perlu, sekadar untuk menemani pergi kemana-mana atau minimal jadi supir kamu. Saya juga tidak tahu apakah memiliki pacar dianggap sebagai parameter “lakunya” seorang perempuan atau tidak, namun yang pasti teman-teman saya sering merasa gelisah (walau dalam bentuk candaan) karena belum ada seorang lelaki pun yang mendekati dan berminat “menembak” mereka. Saya hanya tertawa menanggapi candaan mereka.
Saya bukan tipe perempuan yang pusing dengan hal-hal remeh tentang pencarian pacar. Buat saya, pacaran malah tampak sia-sia. Kenapa? Karena ikatannya rapuh, tidak pasti, tapi sudah ‘sok’ bersifat mengikat. Belum lagi segala tetek bengek tentang harus memberi kabar setiap jam, sedang ada dimana, dengan siapa, dan berbuat apa. Lama-lama jadi lagu kangen band, hehe. Ketika saya berkata begitu pada teman-teman saya yang memiliki pacar, mereka pasti akan berkata “ya lo nggak pernah pacaran aja. Nggak pernah ngerasain rasanya diperhatiin terus-terusan.” Jika mau su’udzon, mungkin belakangnya ditambahkan “kasian deh lo!” dalam hati masing-masing. Hehehe.
Bukannya saya tidak pernah berpikir bagaimana rasanya punya pacar, saya pernah. Sering malah. Namun berapa kali pun dipikir, saya tetap tidak menemukan sisi yang membuat saya berubah pikiran bahwa pacaran adalah hal yang “wah” sehingga mampu membuat saya berdoa “aku mau punya pacar ya Allah, please?”. Saya sering sekali membayangkan jika saya punya pacar, akan bagaimanakah sikap saya, apakah saya akan melakukan hal-hal yang saya pikir menggelikan sebelumnya, ribet bertanya ala lagu kangen band pada pacar saya, melarang pacar saya dekat dengan wanita lain, pergi setiap malam minggu dengan motor bersama pacar saya dengan posisi duduk yang menempelkan dada dengan punggung pacar seolah tak ada ruang lagi disana, atau pergi dengan mobil berdua saja. Hasilnya? Saya malah bergidik. Lagi dan lagi. Terlihat salah dan terbayang salah. Bahkan tidak jarang justifikasi pacaran dianggap cukup untuk melakukan hal-hal yang lebih dari itu. Duh na’udzubillah.
Pada akhirnya, saya tetap lebih memilih untuk menunggu yang pasti. Walaupun entah kapan datangnya, hahaha. Modalnya yakin pada Tuhan saya yang Maha Mengetahui, Allah azza wa jalla. Karena status “punya pacar” saja buat saya belum cukup mengikat secara kuat dan menyeluruh. Pacar masih bisa kabur, karena kita tidak tahu kapan hati orang berubah kan? Saya tidak bermaksud meng-imply kalau yang sudah menikah hatinya tidak bisa berubah, hanya saja menikah menunjukkan keseriusan yang berlangkah-langkah lebih maju dibandingkan hanya sekedar pacaran. Menikah berarti melibatkan banyak pihak, bukan cuma 2 pihak yang bersangkutan, sehingga jika pun ‘bubar’, keputusan bisa berkali-kali dipikirkan sebelumnya.
Hehe, lagi-lagi tulisan random ya. Well, this is stating my statement about this whole “pacaran” thingy. 
Selamat menunggu yang pasti-pasti! Jangan lupa sambil memperbaiki diri :)
Share:

Tuesday, January 31, 2017

Dengung-Dengung Pertanyaan

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---


Bulan pertama di tahun 2017 sudah mencapai penghujungnya. Kegelisahan yang sama, perasaan yang sama, depresi yang sama. Saya sudah berhasil merevisi proposal saya, sudah. Mungkin karena itulah untuk beberapa saat saya lega dan lepas dari kungkungan depresi ini. Hahaha, namun rupanya Tuhan tidak membiarkan saya lolos begitu saja. Rasa itu kembali lagi ketika pembimbing saya tiba-tiba menanyakan sudah sejauh mana progres yang telah saya buat. Saya gelagapan, karena saya tidak benar-benar memikirkannya. 

Rencana awalnya, saya pergi ke lapangan saat liburan.
Kenyataannya, saya berdiam di rumah sebulan. Berusaha menghabiskan depresi yang menumpuk di pikiran.

Saya jadi sering bertanya-tanya, apakah setiap orang yang tiba pada stase ini memiliki tekanan sebesar yang saya miliki. Bertanya-tanya mengapa saya seperti ini, apakah ini pelajaran atau ujian atau malah peringatan karena kurang dekat pada-Nya. Lagi, pertanyaan-pertanyaan yang tidak kunjung terjawab. Pertanyaan-pertanyaan yang hanya berdengung di kepala dan tertinggal di hati. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja mendapatkan jawaban saat tiba di akhirnya nanti.

Saya, pada akhirnya, tetap harus terus kan? Tidak bisa mundur lagi? Harus terus maju sambil mengevaluasi diri?

Selamat berjuang sekali lagi, diri saya! Semoga semua perjuanganmu diganjar setimpal oleh Allah :")
Share:

Saturday, January 7, 2017

The Time Has Come

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek menulis perjalanan mendapatkan gelar Sarjana Sains pada program studi S1 Geografi Tahun 2016-2017. Tulisan ini ditulis oleh ©faizahfinur dan akan di-update selama proses penulisan skripsi tanpa waktu yang pasti.

---


It's 2017 and will be (hopefully) my last semester in college! So, here I am. Fucked up in the middle of damn-I-wanna-get-a-long-holiday and crap-I-have-to-do-my-thesis-revision-asap kind of thoughts. I need to finish this, I need to put this to an end, yet my heart still is slacking off. Or is it my brain? Oh well, whatever. It's just that I have done nothing since the end of the final test, unless watching animes. Yes. That's just how fucked up I am. 

At the end of this month, it's finally coming. My time. The time of my hardest struggle. God, I feel nuts. I feel like I can't do something right. It consumes me from the inside. I'm watching my friends went all the way round here and there. Yea, I do know they are all stressing out like me. Yet still, they managed it well. So well. I can't even understand my self for being this horribly terrified. It's not that I'm afraid of my trial lecturers, it's different. It's something else. Something I tried to figure out with no result up to this point. I also feel like crying is easier these days. The pressure sure is skilled, uh? To be able to make me this down is not an easy task to do. I'm not that soft-hearted kind of girl tho.

People said it's impossible until it's done, right? So yeah, I'll try to hold on a while longer. It's not like I have fallen to the bottom pit of my own darkness. Well, at least for now.
Share: