Thursday, June 16, 2016

Let's call it a term

Hai! Akhirnya semester 6 saya berakhir juga. Laporan kuliah lapang selesai hanya dalam 2 hari, ngebut karena deadline sudah dekat. Berakhirnya semester ini dibarengi dengan datangnya bulan suci Ramadhan, alhamdulillah masih ketemu lagi :")

Banyak hari-hari di semester ini yang akan saya deskripsikan sebagai "let's call it a day", karena semua hal yang membuat saya harus menarik napas dalam-dalam (dan membuangnya tentu saja). Bukan hari yang buruk, meski tidak dapat juga dibilang baik. Untuk pertama kalinya dalam semester genap, saya menang perang siak. Namun pada kenyataannya, tidak sebaik ketika saya kalah siak. Mungkin memang sudah takdir saya, bahwa sesuatu yang menjadi momok besar seperti kalah siak akan berubah. Bahkan jika perubahannya bukanlah perubahan yang baik.

Semester ini bagi saya adalah sebuah semester baru yang jauh dari kata mudah. Dengan predikat mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi disandang, beban di pundak semakin berat diberikan. Tapi semester ini juga mengingatkan saya bahwa saya sudah semakin tua, harus semakin dewasa, jangan lupa memikirkan judul skripsi yang sudah di depan mata.

Ah Tuhan, bolehkah rehat sejenak?
Meski mereka bilang belum saatnya.
Karena istirahat yang sebenarnya adalah di surga.
Saat semua khayalan tingkat tinggimu terwujud jadi nyata.

Terkadang saya berpikir bahwa saya harus tetap mensyukuri sesuatu. Meski sesuatu itu tak kasat mata, atau saya yang tidak peka. Saya banyak mengalami hal-hal yang tidak pernah saya alami di semester-semester sebelumnya; kecelakaan motor, tugas yang dibilang buruk oleh dosen, hingga tidak boleh ikut kuis karena datang telat. Saya naif sekali, berpikir bahwa karena itu bulan puasa dosen saya akan maklum dengan keterlambatan saya. Yah, dipikir bagaimanapun memang mungkin salah saya (wk) siapa pula yang akan mentolerir keterlambatan satu jam? Jalanannya macet, parah, typical Jakarta in the morning, and I made that as an excuse. Lame.

Saya dan semester ini tidak benar-benar bersahabat, tapi saya mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman baru bersama teman-teman. Well, let's call it a term and pray hard for your graduation next year! Aamiinnnn
Share:

Thursday, April 28, 2016

Field Trip(s)!

"Fieldwork makes you realize that the world is complex. It needs to be understood, valued, and protected."

Field trip; kind of trip I have to join in the major I took, Geography. And since I'm already in my third year of attending college, I've had 3 field trip classes so far. It was on my 4th, 5th, and 6th semester. This post is dedicated to tell my entire feeling about these trips. And for the rest of the post, I'll call field trip as Kuliah Lapang.

KULIAH LAPANG 1
Tahun kedua kuliah, semester ke-4, masih mencari yang disebut teman-teman dekat dan membuat nyaman. Waktu awal ketika banyak kelas mulai dilaksanakan di gedung jurusan sendiri, bukan di gedung fakultas. Kuliah lapang 1 hampir selalu bertempat di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Alasannya karena bentang alamnya beragam dan relatif dapat diamati dengan mudah. KL 1 Geografi angkatan 2013 dibagi menjadi 4 kelas dengan 4 desa berbeda serta 7 sub tema di tiap kelasnya, yaitu geologi, geomorfologi, tanah, landuse, hidrologi, POI, dan sosial ekonomi.

Gue masuk ke dalam kelas C yang dibimbing oleh Mbak Nurul dengan unit analisis Desa Cibitung dan sub tema sosial ekonomi. Kesan pertama ketika seluruh rencana perkuliahan dijabarkan di kelas: wow, this is gonna be fun! Well then, it mostly turned out right. Satu hal yang paling nggak bisa gue lupain adalah ketika hari H, gue datang telat dan kursi yang tersisa cuma di samping Mbak Nurul. Not that she's scary or whatsoever that made me have to silently gulped down my saliva for the awkward time ahead I need to pass with her, it's me who isn't good enough in opening convo. Ini sebenernya lucu banget sih, like gue yang biasanya tidur terus kalo perjalanan jauh, bisa all awake for more than 6 hours. Rekor parah.

Di Desa Cibitung, kami mendapat sambutan yang hangat dari warga sekitar. Basecampnya 2 rumah gitu, buat cewek dan cowok. Tiap malem abis survey, kita selalu diskusi tentang hasil yang didapat di hari itu, juga presentasi di depan kelompok lain. Biasanya sih di rumah anak cowok. Jadi sistem KL 1 ini adalah presentasi dari semua aspek di tiap-tiap desa. Presentasi akhir ini akan diadakan di Desa Ujunggenteng, unit analisis kelas D. That's why, H-1 presentasi akbar itu kita semua diskusi abis-abisan sampai pagi. Gue sendiri baru tidur abis azan subuh. Bukan karena ngerjain presentasinya, tapi karena keasikan ngobrol sambil ngeliatin bintang, hahaha. GA BAKAL LUPAAAA. Langit Cibitung malam itu indah banget, I could even find the constellation of Scorpio for the first time ever :') Rosi juga untuk pertama kalinya berhasil memotret milky way disana. Sementara teman-teman yang lain sudah jatuh tertidur bersama teman-teman kelompoknya sebelum pukul 3.

The next day is da big day! Kita semua pergi ke Ujunggenteng. Naik truk, I might add. Dan satu insiden terjadi lagi, gue kepentok ranting pohon yang lumayan errrrr sakit ya sampai berdarah sedikit di atas mata. Ntap! Lol. Presentasi dijadwalkan di malam hari. Sorenya, kami ke Pantai Pangumbahan, tempat pelepasan tukik (penyu yang masih kecil). Susur pantai bos, jadi lumayan (banget) deh jalannya. But it paid off with such a nice sunset. Sepulangnya dari Pantai Pangumbahan, kami mandi dan siap-siap presentasi. Semua juga pasti ngerasa mager karena please, capek dan pengen tidur. Apalagi presentasinya baru dimulai sekitar pukul 21.00. Gue inget urutan presentasinya; kelas Pak Mangapul, kelas gue, kelas Bu Aas, dan kelas Pak Supri. Tapi tolong jangan tanya substansinya, karena gue cuma fokus sampe giliran kelas gue presentasi aja. It was cool and I am proud! Gue pribadi ngerasa semua jerih payah malam sebelumnya terbayar lunas. Then a loud sounds of clapping was heard, dari anak kelas gue dan anak-anak kelas lain. Yah, kelas gue emang segitu hebohnya. Setelah kelas gue presentasi, semua anak kelas gue langsung pada ZzzzzZZZzz. Maafin kami teman-teman.

KULIAH LAPANG 2
Semester 5. Ketika peer group-peer group di angkatan ini semakin terlihat. I don't mind tho, people tend to gather with ones they are comfortable with, right? Kuliah lapang kali ini berlokasi di Kecamatan Getasan dan Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Satu angkatan tumplek blek di satu basecamp, cuma dibedain cewek sama cowoknya aja. Kalo mau tidur, semuanya gelar sleeping bag dulu. Bangun pagi, yang ditanya "eh ini ada orang ya?" "abis ini siapa? gue dong mau", sibuk cari tempat buat mandi. Lucky us, people there are so kind and open up. They let us use their bathroom, even ones that we weren't supposed to use.

Sebagaimana KL 1, ada 4 kelas dalam KL ini. Kelompok dari tiap kelasnya dibagi berdasarkan desa-desa di kedua kecamatan tersebut yang dijadikan unit analisis masing-masing kelompok. Kelompok gue dapet di Kecamatan Getasan, Desa Kopeng, Nogosaren, Tolokan, Ngrawan, dan Wates. Dusun Cunthel di Desa Kopeng merupakan dusun tertinggi yang ada di desa ini. Di dusun ini pula terdapat basecamp dan jalur pendakian Gunung Merbabu. Sudah pasti gue menyayangkan tidak adanya kesempatan untuk mendaki, karena pendakian sedang ditutup akibat kebakaran. 

Penelitian kelompok gue bersifat kualitatif, jadi kami harus nanya-nanya penduduk sekitar. They talked with almost full Javanese, dan orang yang cukup ngerti bahasa itu cuma gue doang, terus gue sok-sok-an jadi penerjemah gitu deh :") malah lucu jadinya hahaha.
Presentasinya di depan Ibu Lurah, diwakilin 2 kelompok doang yang judulnya dianggap bagus. Jalan-jalannya ke Candi Gedung Songo. Panas banget. Parah. Gue end up duduk bengong di bawah pohon yang adem abis capek foto-foto.

Nggak banyak yang bisa gue ceritain dari KL ini, karena menurut gue pribadi kurang berasa aja. Entah apanya yang kurang berasa juga gue nggak tau. It was fun, though.

KULIAH LAPANG 3
Kuliah lapang pamungkas. Penelitian individu, bos! Gausah gue ceritain gimana hectic-nya masa-masa sebelum pergi ke lapangan. Ribet banget. Huft. Langsung pas ke lapangannya aja wkwk.
Day 1, 2, 3, abis buat ke instansi dan nanya responden yang dikit banget tentang Jalan Tol Trans Sumatera. Baru banget dibikin dan gue somehow berani juga-kalo gabisa dibilang nekat-ngambil judul tentang ini, lol. Spent my time most, and now could only wish for the best. Semoga bikin laporannya lancar, geng!

Yang paling berkesan dari KL ini ya jalan-jalannya. Ke Pulau Pahawang. Ntap, ini baru liburan beneran! Liburan hasil bolos yang legal :') sudah lama tidak jalan-jalan ke laut and it felt so nice to smell the sea smell hahaha. Satu lagi yang juga berkesan adalah nyetir mobil sambil nyalip-nyalip truk di jalan lintas timur sumatera ketika harus bolak-balik ke Kalianda. HAHAHAHA SOMEHOW SENENG BANGET EVEN WHEN IT SEEMED LIKE ATTEMPTING SUICIDE. Gadeng boong wkwk tapi seru parah.

###
Satu hal yang gue pelajarin selama 3 tahun kuliah disini adalah kita semua punya lingkaran kenyamanan sendiri. Dan semakin hari, lingkaran-lingkaran tersebut terlihat semakin kuat dijalin waktu. But what makes me proud the most adalah kita semua tahu memposisikan diri dan tempat. I mean, when it comes to acara angkatan, nggak ada peer group. Semuanya jadi satu. Wkwk pasti terlihat konyol nulis kayak gini, tapi itu yang gue rasain. Well, semoga bisa lulus bareng-bareng teman-teman! KL lagi yuk, tapi tanpa laporan :")
Share:

Friday, March 18, 2016

Afternoon's Mind Rambling

Pernah nggak sih lo berpikir mau jadi orang lain? Jadi orang yang lebih hebat, orang yang bener-bener lo liat di depan mata udah berhasil mencapai semua yang lo inginkan di dunia? Pendeknya, orang yang meraih mimpi lo. Mimpi lo. Bukan mimpi dia.

Gue sering. Mungkin malah terlalu sering.

Mau keluar negeri. Mau exchange. Mau dapet beasiswa. Mau proyekan. Mau deket sama dosen. Mau ini, mau itu. Semua hal yang sepertinya cuma bisa gue lihat di depan mata. Semua hal yang dilakuin dan didapatkan teman-teman dan senior-senior gue.

Wow just wow. I was wondering how they could have done all that. Did they put their hardest effort? Or they just got that effortlessly?

In this academic world called college, my college particularly, they said it would be a waste if I hadn't gone overseas for once. Because with that big name my university has, the students could have gone abroad easily.

Masalahnya, the easiest way to go abroad in academic way is by attending conference. Dan konferensi tak lain dan tak bukan muncul dari hasil submit abstrak which meanssss it's all about research. And what if the person, like me, didn't have any idea to submit on? 

Ya Allah ini memusingkan sekali.

Gue sering banget mikir kayak gini. Like sering pake banget.
Sering juga bertanya-tanya gue sebenernya bisa ngapain sih? Potensi gue apaan sih? I'm not mastering any lesson, I'm just an average. 
In math? Not-so-good. If you don't want to call it bad.
Linguistic? A bit better. But I'm not that kind of person that makes speaking a way to make a living. I'm an introvert after all.
Creativity? Just don't count me in.

Pusing nggak? Like I've really thought about this hundred or even thousand times.
What will I really do later?
Apa gue harus ngambil tes-tes psikologi yang nunjukin bakat dan potensi biar tau gue bisa apa? Terus kalo udah harus ngapain?
Gue lagi nggak pengen menasehati diri gue sendiri, walaupun di kepala gue sudah bermunculan wejangan-wejangan bak orang tua yang selalu positif.

Hari ini, cukup sampai disini.
Semoga kamu cepat muncul dan disadari ya potensi, biar bisa ku pertajam dan jadi ahli.
Ya Rabbana, semoga hamba-Mu ini tidak disesatkan jalannya menjemput rezeki.
Aamiin allahumma aamiin.
Share:

Friday, March 4, 2016

20!

Feb 24 Squad. Kakak-kakak dan kembaran-kembaran saya di Geo 2013
Kesayangan
Kesayangan (2)

Kesayangan (3). Tumben banget ini anak berdua ke rumah

H+9 Feb 24. Welcome to 20 years old!

Kata orang, umur 20 tahun adalah sesuatu yang spesial. Sebuah titik menuju kedewasaan yang sebenarnya. Tahun ketika banyak hal-hal di luar ekspektasi yang terjadi, entah baik atau buruk. Buat saya, menjejaki umur 20 tahun rasanya sulit.

Sulit karena saya merasa belum melakukan apa-apa yang selama hidup disini dan puff! I'm 20. Sama sekali tidak bahagia, kalau bisa dibilang. Selain fakta bahwa saya memiliki teman-teman yang ingat akan hari tersebut dan berdoa untuk saya, mengulang tahun untuk kedua puluh kalinya sama sekali tidak menyenangkan. Rasanya seperti saya akhirnya tiba di sebuah titik balik dari kehidupan; dengan tanggung jawab yang semakin besar, dan bayang-bayang dunia dewasa yang kejam.

Saya belum siap, jujur saja. Saya masih ingin bermain dan menjadi anak kecil yang bebas kemana-mana. Namun, bagaimanapun juga, pengandaian dan penyesalan tak pernah ada artinya. "Andai saya masih anak kecil, kalau saja saya melakukan hal-hal yang jauh lebih berguna", such things. Menjadi dewasa selalu sulit. Bahkan mereka yang umurnya sudah jauh di atas saya, belum semuanya menjadi baik.

Maka, di umur yang baru ini, perkenankanlah saya memanjatkan doa agar menjadi seorang manusia yang mampu memberikan manfaat orang lain, mampu menjadi seorang hamba yang taat pada Tuhannya melebihi tahun-tahun sebelumnya, dapat membahagiakan orangtua saya, juga mampu menjadi teman yang baik bagi teman-teman saya. Aamiin.

Terima kasih, untuk semua orang yang datang, pergi, maupun tetap tinggal selama 20 tahun saya hidup di dunia ini. Juga untuk segala peristiwa baik dan buruk yang terjadi, sehingga dapat memberikan banyak pelajaran berharga dalam hidup saya. I owe you much.

See you in the upcoming real life.

Love,

Fai

Share:

Monday, February 15, 2016

Fall, Once Again

Aku sedang resah, hingga tersungkur dalam sujud yang basah

Memandangnya bolak balik di sekitar dan tak kunjung memudar
Merasakan dia yang dekat namun tidak terikat
Berpaling ketika mata secara otomatis mendeteksi kehadirannya
Menoleh ketika detak jantung berdenyut menyiksa

Ah, barangkali aku sudah bisa dianugerahi puisi surga
Yang kabarnya selalu turun pada para pujangga
Meski aku juga tak peduli, selama aku belum mati

Puisi surga atau bukan, persetan!
Karena Tuhan tahu, syair mana yang hanya bualan

Tapi aku punya pesan
Untuk organ-organ yang kehilangan kontrol diri
Saat dia hadir di sisi

Wahai mata yang diam-diam melirik
Hati-hati
Atau kamu akan menjadi larik-larik sajak bernada sirik

Wahai jantung yang berdentum-dentum
Hati-hati
Atau kamu akan meledak dengan skala kuantum

Wahai hati yang selalu ceroboh setiap jatuh
Hati-hati
Atau kamu akan selalu mengeluh

Namun lagi-lagi
Bait-bait ini hanya akan jadi bait tanpa arti 
yang disimpan di sudut terjauh hati

Aku masih resah, dan akhirnya jatuh ke tanah.



Ppt, 1502
그냥 ë³´ê³  ì‹¶ì–´ 그래. 
Share:

Saturday, January 23, 2016

Life's Great Loss

Every soul must taste of death and We try you by evil and good by was of probation; and to Us you shall be brought back. (QS. Al-Anbiya: 35)

I'm wondering how people could survive when one of their primary family member is gone forever. Saya sendiri masih tidak siap ditinggal pergi. Hidup satu atap dengan orang yang sama selama bertahun-tahun, membuat seseorang terbiasa dengan kehadirannya, dan jika dia tidak ada, ruang kosong tersebut akan sangat terasa.

Jika saya ditinggal pergi nanti, saya mungkin akan mengurung diri di kamar berhari-hari, sampai saya lelah dan tak bisa menangis lagi. Saya tahu, menangisi kematian seseorang bahkan berhari-hari sesudahnya tidak baik, namun harus bagaimana jika mata dan hati tidak mau berkompromi dengan logika? Saya jadi teringat ketika ibu dari salah seorang teman kuliah saya meninggal. She was strong, really, like I didn't even see her crying on that day. Hal yang membuat saya membatin, "gilak kalo gue jadi dia, gue nggak bakal keluar kamar kayaknya mah. Nggak sanggup." Tapi mungkin cintanya pada Allah dan ibundanya lah yang membuatnya setegar itu. Tahap yang sampai sekarang pun, rasanya belum mampu saya capai. 

Tapi ternyata, dia tetap menangis. Berminggu-minggu setelahnya, di satu kesempatan ketika saya dan dia berbicara berdua. Mengenang seseorang yang sudah tidak lagi ada di sisi memang menyebalkan, juga menyakitkan. Di sisi lain, orang-orang yang telah pergi tidak mampu hidup lagi selain dalam kenangan orang-orang tersayang.

Mungkin ini sebabnya saya tidak ingin ditinggal. Lebih baik saya yang meninggalkan, karena terdengar lebih baik dibandingkan dengan melanjutkan hidup tanpa orang-orang tersayang. Egois, memang. Memaksakan kehendak untuk selalu ingin senang. Namun, bagaimana lagi, saya merasa tidak mampu menatap ruang-ruang kosong yang dulunya terisi tanpa harus menangis. Saya merasa tidak mampu bergerak tanpa harus mengingat orang-orang yang dulu ada di sisi. Terdengar sangat menyedihkan, bukan? Tapi, jika nanti saya benar-benar ditinggal pergi, semoga Allah berbaik hati memberikan orang-orang yang mampu menopang diri saat yang tersayang tak lagi di sisi. Aamiin.



Post Posting Additional Notes:
Pada akhirnya, saya harus ingat bahwa tak ada yang benar-benar dimiliki diri sendiri. Semuanya akan kembali pada Yang Maha Menciptakan, Allah Azza wa Jalla. Jika sudah begitu, saya tak berhak sedih lagi kan? Semuanya cuma titipan.
Share:

Friday, January 22, 2016

Halo, 2016!

Time flies, and life goes on. New year, new journey, new term to be passed on.


Saya membatalkan banyak rencana berpergian, meski pada kenyataannya saya butuh pergi. Sudah hampir 6 bulan terakhir, mata saya tidak melihat hutan dan jalan berkontur curam untuk dijajaki, tidak juga mencium bau khas keringat yang didapat setelah menapaki tanah-tanah vulkanik dataran tinggi. Tadinya saya berpendapat bahwa liburan kali ini cukup dilakukan di rumah, meruntuhkan tembok pertahanan diri, merenung, dan menangis sejadi-jadinya tentang semua hal yang terjadi di bulan-bulan sebelumnya untuk kemudian membangun kembali tembok pertahanan yang baru. Namun ternyata, saya salah. Saya memang berhasil meruntuhkan tembok itu, merenung, juga menangisi semua hal yang saya sesali, namun untuk membangunnya lebih kuat dari sebelumnya mungkin saya butuh untuk pergi. Seolah-olah ia berfungsi sebagai perekat yang penting bagi tembok pertahanan saya.

Hampir satu bulan terakhir, saya menonton banyak tontonan yang mungkin tidak biasanya saya tonton. Anime dan drama Jepang dengan berbagai genre. Ini merupakan suatu hal yang baru, mengingat sebelumnya saya hampir tidak pernah menonton dorama. Well said, a new thing to start a new year.

Di liburan kali ini juga, saya banyak menimbang-nimbang tentang keinginan melanjutkan belajar ke luar negeri. Apakah saya ingin langsung apply sebelum lulus, atau malah bekerja terlebih dahulu. I honestly might want to work first, mengingat mungkin pengalaman dibutuhkan ketika berada jauh dari keluarga. Tapi satu sisi diri saya yang lain masih terlalu takut, takut akan kehidupan nyata yang harus saya hadapi saat bekerja nanti. Maka cara terbaik untuk lari sementara dari kenyataan adalah dengan mendapatkan beasiswa lanjutan belajar ke luar negeri. Tidak, saya tidak sepenuhnya percaya pada kemampuan berbahasa saya, karena banyak orang di sekitar saya dengan kemampuan yang lebih mumpuni, yang saya sendiri pun terkadang iri. Lagipula, mengandalkan kemampuan berbahasa saja tidak akan banyak membantu. Mimpi ini masih sangat jauh dari jangkauan. Saya ingin membuatnya lebih dekat, namun hal pertama yang harus saya lakukan adalah menentukan pilihan; kerja atau langsung caw, dan keduanya sama-sama memiliki hal yang saya khawatirkan. Cari pekerjaan tidak segampang membalik telapak tangan, saya tahu itu. Namun belajar di negeri orang tanpa persiapan juga sama saja dengan masuk ke kandang harimau yang lapar. Ah Tuhan, tolong bantu hamba-Mu mendapatkan jawaban.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun saya tidak membuat resolusi pasti mengenai apa yang akan saya lakukan. Saya hanya akan berusaha untuk membuat mimpi-mimpi saya lebih dekat, entah bagaimana caranya. Yah, pada akhirnya saya hanya akan memikirkan satu langkah ke depan, bukan dua, apalagi tiga. Karena pada tiap satu langkah yang saya ambil adalah sebuah keputusan yang bisa saya syukuri atau malah sesali. Dan di tiap langkah tersebut, akan banyak terjadi hal-hal di luar perkiraan saya, entah itu baik atau buruk. And I will cherish them all heartily. 

Selamat datang 2016, semoga makin banyak hal-hal baik terjadi di tahun ini. Aamiin.
Share: