Saturday, January 3, 2015

Suatu hari, ketika hujan turun

Hari itu, saya berdiri di peron 4 Stasiun Manggarai, menunggu kereta jurusan Bekasi datang. Seperti biasa, sambil menunggu, pikiran saya hanyut memikirkan berbagai hal yang melintas sambil memandang apapun yang ada di hadapan. Tiba-tiba hujan turun. Orang-orang mulai sibuk mengeluarkan payungnya untuk melindungi tubuhnya dari hujan. Saya tetap bergeming, selain karena tidak membawa payung, hujan yang turun juga masih dalam skala kecil alias rintik. Lagipula, saya juga pecinta hujan, tak masalah bila basah, begitu pikir saya. Tapi tak lama, hujan yang turun menjadi lebih deras. Dan seseorang di sebelah saya, tiba-tiba menoleh dan berkata, "Mbak, sini bareng sama saya aja, nanti basah." Terus terang, saya terkejut ditawari berteduh dalam satu payung yang sama seperti itu.

Namanya Tyas, saya masih ingat betul. Saya memanggilnya Kak Tyas, adalah seorang pegawai di salah satu perusahaan asuransi di kawasan Sudirman. Perawakannya mungil dan terlihat gampang akrab dengan orang lain, terbukti dari percakapan kami yang kerap kali diisi dengan pertanyaan-pertanyaan darinya.

Beberapa menit berselang, kereta tujuan Bekasi ternyata dipindah ke peron 1. Masih bersama Kak Tyas, kami berlari kecil menuju peron 1. Ramai, tentu saja. Tapi saya, masih asyik termenung menyadari kebaikan seseorang yang tidak saya kenal hari itu. Ketika kereta akhirnya tiba, semua penumpang berebut naik, tentu saja. Keretanya kosong. Dan kami berdua berhasil mendapatkan tempat duduk. Tapi jujur saja, hari itu adalah pertama kalinya saya tidak ingin duduk meski keretanya kosong, entah kenapa. Saya turun lebih dahulu, sambil mengucapkan terimakasih atas payungnya.

Bahkan setelah turun dari kereta, saya masih termenung. Dalam hati, saya terus bergumam, ternyata masih banyak orang baik di Indonesia.
Share:

Thursday, January 1, 2015

Kuroko no Basuke (Kuroko's Basketball) Review

Well then, halo! January 1st 2015! People said it's new year, new life, new everything. I don't really think so. Like always, none of us will know what will happen next, isn't it? Yet people would always make resolution to be better. I, as expected, definitely haven't made any specific resolution. I just simply wish this year to be better. Aamiin.

Speaking of new year, people always celebrate its eve gloriously, just like last night. And me, just freaking cursed upon those who ignite the firecrackers. What could i say? They're really annoying. I simply locked my self  by watching anime and they seemed to let the firecrackers blown up above my room. Let's call it a night.

Besides, what i want to really write here is some review about the anime i watched. I wouldn't let this slide because....it's just great? Lol but here it is! Kuroko no Basuke! Next sentences will be in English mixed with Bahasa, simply because aku mau spazzingaaan hahaha

So, this anime tells about a boy named Kuroko Tetsuya. A fresh graduate from Teiko middle school, whose basketball club was so famous. Be in there, 5 stars having 5 superb skill called Kiseki no Sedai, or Generation of Miracles, consist of Akashi Seijuro, Midorima Shintaro, Kise Ryota, Aomine Daiki, and Murasakibara Atsushi. Well there's one left, Kuroko Tetsuya, Kiseki no Sedai's 6th member, the shadow. 

Tetsu, Aomine's dearest call for Kuroko, was going to Seirin high school, whose basketball club was just formed a year ago. Di Teiko, dia keluar dari klub basketnya karena ngerasa nggak nyaman sama teman-temannya yang sekarang. They're just too individualist. Semuanya bener-bener mentingin kemampuan individu dan gaada satupun yang berpikir kalo kekuatan tim itu penting, kecuali tentu saja, Tetsu. When he entered Seirin's club, he found his "light", Kagami Taiga. Just like his nickname, shadow, Tetsu can't play without any lights. Because shadow rises from the light, doesn't it? Well, they found the good chemistry, moreover Kagami's skill is actually close to Kiseki no Sedai's member.

If you've been getting curious about Tetsu's skill, then it is Passing! He's awesome at it. His misdirection skill is indeed an expert, he's special, however. Unfortunately, other than his awesome pass, he could do nothing, even such a simple shoot. Sedih ga? Hahahahah jangan khawatir, seiring jalannya episode he's getting better kok. He develops some drive and shoot (taught by Aomine). Aomine was once his light in Kiseki no Sedai, tapi karena udah saking bangga dan yakinnya sama diri sendiri, sampe-sampe mottonya dia itu "yang bisa ngalahin aku itu cuma aku sendiri", dia milih main sendiri dan ninggalin Tetsu gitu aja.

Alasan kenapa Kiseki no Sedai itu terkenal banget, karena emang pemainnya gak main-main skillnya. Gue bakal bilang mereka semua bukan orang, fix! Let me introduce them, then~


  1. Akashi (merah), emperor eye kata bocorannya wkwk means he could predict his opponent's movement. I watched the anime yang baru sampe season 2 so i havent known his specialty yet.
  2. Midorima (hijau), my 3rd favorite, Shooter, gila ini ga ngerti lagi deh gimana cara ngelatihnya, jarak tembakannya satu lapangan! Jadi dia bisa nembak dari ujung lapangan yang satu, ke ring di ujung lainnya. Pokoknya pasti masuk kalo yang ganggguin cuma lawan biasa-biasa aja. Yang lucunya dari dia itu.....percaya abis sama ramalan. He would listen to ramalan dia hari itu pagi-pagi, terus dia bakal bawa benda keberuntungannya atau benda penangkal sialnya. Heran gue -_-
  3. Aomine! (biru gelap) MY ULTIMATE FAVORITEEEEE!!!! Wkwkwk the Ace of Kiseki no Sedai! Bukan orang jugaaa sumpah deh bingung gue nonton dia. Ini anak top scorer nya Kiseki no Sedai, bisa ngapain aja, bisa nembak dari mana aja. Belum lagi lari dan refleknya yang cepat, bikin yang ngelawan cuma bisa bengong doang. Ngerasa paling hebat karena belum nemuin yang lebih hebat dan mau berjuang lebih daripada dia, makanya tiap latihan males-malesan. Sampai akhirnya dikalahin duet Kagami - Tetsu di pertandingan yang kedua (yang pertama kalah karena kekuatan mereka masih rendah dan mentalnya down banget) simply karena Kagami is much more stubborn than he is.
  4. Our main focus, Tetsu (biru muda), Passer & Shadow. Pass nya cepet abis, suka ngilang karena bisa pake misdirection waktu tanding, dan hawa adanya dia kecil banget jadi sering banyak yang ga sadar kalo dia ada disitu. Selalu percaya kalo basket itu olahraga tim, biarpun nggak mengabaikan kekuatan individu. Dia percaya banget sama teman-teman satu timnya, apalagi sama Kagami.
  5. Kise! (kuning) my 2nd favorite. Pembelajar yang handal, bahkan saking handalnya bisa mengopi tehnik orang dengan sekali lihat. Always admires Aomine, karena gara-gara Aomine dia jadi main basket. He's a model dan suka tebar pesona wkwkwk he's handsome though jadi gapapa lah ya.
  6. Murasakibara (ungu), mageran makanya jagonya defense. Eits tapi jangan salah, he's also good at offense. Cuma buat apaan offense kalo udah ada yang lain? Wkwkwk. Badannya tinggi gede, lawannya jadi banyak yang jiper duluan gara-gara itu. Suka ngemil dan males-malesan kalo jaga gawang karena katanya dia benci basket. Tapi di satu pertandingan ngelawan Tetsu dan Kagami, dia kalah dan akhirnya (mungkin) (mulai) mengakui kalau dia cinta basket.
Jadi, udah ngerti kenapa dibilang bukan orang? Kenapa ditakutin lawan? Indeed because they're too scary to be against to. Anyway, alasan gue suka banget Aomine adalah karena selain dia biru (Ao) (iya gue biased banget emang) dia juga jago banget mainnya. Walaupun yah harus gue bilang gue sebel banget sombongnya itu. But i really love seeing him playing with Tetsu. Senyumnya ituuu huhuhu senyum tulus anak bocah kesenengan ngelakuin apa yang dia senengin T_____T

Oiya, I haven't told you about Tetsu's partner in duet yet, Kagami!
Mirip Aomine. Nggak, bukan cuma mirip, tapi sangat mirip Aomine. Bukan orang juga gue rasa, but yah setidaknya dia terasa jauh lebih "orang" kalo dibanding Aomine. Kelebihannya ada di letak daya juangnya yang tinggi banget sih, selain skillnya ya. Percaya banget sama Tetsu dan timnya sampe gamau ngebiarin mereka sedih dan nangis lagi. Hasilnya? Ngalahin Aomine dong!

After taste: baper gue baper abis gatau kenapa tapi seneng dan terharu banget mereka sehebat dan mau berjuang sekeras itu demi menang dengan kekuatan tim. Sampe-sampe ada satu episode yang gue nangis gara-gara lawannya itu kasar banget mainnya dan gue kesel banget nontonnya. I still remember the opponent's name, Hanamiya. Dan makin sayang Aomine tentunya! Hahahah

Best Part: (sampe season 2 ya) one-to-one nya Kagami - Aomine in Zone! Gilaaaa keren abis!!!! Sama flashback Aomine - Tetsu pas masih main bareng dong ah, senyumnyaaa wkwkwk cannot say anything but genuinely cute uhuhu

Values: dont be so self-centric; kamu mungkin hebat dalam satu hal, tapi tak semua hal bisa dilakukan sendiri. Tak pernah ada usaha yang sia-sia; selelah dan sekeras apapun kamu berjuang, kamu pasti dapat balasannya. Akan selalu ada orang hebat yang mengalahkanmu, makanya jangan sombong.

I'm glad that Kise nyadar duluan kalo kerjasama tim itu penting setelah kalah latih tanding bareng Seirin. Alhasil dia selalu dukung Tetsu dan Seirin kalo mereka lagi tanding lawan anak Kiseki no Sedai yang lainnya, semata-mata cuma buat nyadarin anak Kiseki no Sedai yang lainnya kalo mereka selama ini salah dan bisa kalah. Midorima nyadar abis Kise! Wkwkwk lucu banget sayang mereka semuaa

Well, I'm also glad that I write this. Anime ini ngajarin gue banyak hal positif lewat sebuah olahraga bernama basket. Selain, tentu saja, gue nemuin objek baper lainnya wkwkwk. See you soon, I guess? Bye!
Share:

Wednesday, December 10, 2014

Idealisme?

Hari senin kemarin, kami mulai memasuki minggu UAS. Hanya ada satu ujian di hari itu, jam 3 sore. Salah seorang temanku marah di ruangan tempat kami akan melaksanakan ujian, marah pada teman-teman sekelasnya yang mencontek saat UTS hingga UTS nya harus diulang. Khusus kelas itu. Aku yang baru datang, baru sempat melongok ke dalam, mendengar sedikit dari apa yang ia bicarakan; tak lebih, hanya mengajak teman-temannya jujur dan percaya pada kemampuan sendiri. Aku terdiam. Salut pada ajakannya yang mungkin terlihat menyebalkan bagi beberapa orang. Saat itu, salah seorang seniorku menghampiri dan bertanya, "Ada apaan jah? Itu kok marah-marah?" Aku yang memang belum tahu perkara detilnya (aku tahu setelah masuk ruangan) hanya sekedar menjawab "Itu kak, dibilangin biar UASnya jangan pada nyontek." Dan tahu apa jawabannya? "Alah, sok idealis temen lo." Dan aku menanggapinya dengan "Yeee kok gitu" kemudian ia ngeloyor pergi.

Jujur. Satu kata yang mudah terucap namun sangat sulit dilakukan. Kerap kali justru digunakan dalam konteks yang salah. Sifatnya prinsipil, harusnya jadi landasan hidup seseorang dalam melakukan kegiatan sehari-hari. 

Harus kuakui, satu kalimat dari seniorku diatas menamparku juga. Seketika berbagai pertanyaan berkelebat saat ia pergi. Idealis? Jadi itu sebutan untuk orang yang tetap mencoba jujur di zaman sekarang? Dimana letak salahnya? Apa salahnya jadi jujur? Aku tak melihat kesalahan dimanapun dari seseorang yang mempertahankan prinsipnya untuk jujur. Dan mengajak orang? Tak ada salahnya juga. Ia hanya mengajak, bukan memaksa. Toh ia tak melakukan apapun selain mengajak. Ia tak tahu. Aku, salah satu dari mereka yang ia bilang idealis. Atau naif, mungkin beda tipis. Aku tak tahu. Yang jelas, aku dari sekian orang yang berprinsip bahwa jujur di atas segalanya, apalagi saat ujian, mau nilaimu bagus atau tidak, itu  hasil usahamu sendiri. Aku, satu dari sekian orang yang mengutuk orang yang bahagia dengan nilai bagus karena hasil menyontek. Aku, satu dari sekian orang yang mencibir orang-orang yang mau dijajah kebohongan, membuatnya besar dan jumawa.

Baiklah, bilang aku idealis. Bilang aku tidak riil, tidak mampu menafsirkan situasi dan kondisi yang sedang terjadi di dunia masyarakat sekarang ini, tidak mampu menyesuaikan diri, atau apalah, aku tak peduli. Aku masih tetap seseorang yang akan menganggap semua orang baik, meski tak pelak kadang dirundung curiga. Aku masih tetap seseorang yang akan berusaha maksimal dalam setiap usahanya untuk apapun, tak peduli bagaimanapun hasilnya. Aku masih tetap seseorang yang akan selalu percaya bahwa Allah punya tabungan kebaikan amal kita yang belum diberikannya lunas saat kita gagal melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Aku masih tetap percaya bahwa jujur adalah hal paling penting yang harus seseorang pegang saat bermasyarakat. Aku tak berlagak jadi suci, aku hanya berlatih menakar kapasitas diri. 
Share:

Thursday, November 6, 2014

Sepi (Kekecewaan yang Meledak)

Malam. Posting lain di tengah padatnya hiruk pikuk tugas semester 3 yang seperti tak ada habisnya. Namun anehnya, malam ini aku malah tak mengerjakan apapun. Bebas. Luang. Dan lagi-lagi memberi ruang untuk menerawang.

Saat ini sepi. Entah sekadar jenuh atau karena dahi yang bersimbah peluh. Entah karena diliputi duka, atau malah disapa nestapa yang jahil belaka. Ah sepi, ada apa?

Mungkin karena aku sekarang sendiri? Ya, sendiri. Karena aku memutuskan untuk mengubur kejadian-kejadian itu dalam-dalam. Lelah. Aku tak mau lagi berurusan dengan mereka. Biar mereka dan Tuhan yang tau akan mengarah kemana dan dimana muaranya. Sudahlah, aku tak mau tau lagi. Aku lelah menjadi bayang-bayang yang selalu mengikuti; ada tapi dianggap tak ada, disadari namun tak diajak bicara. Aku lelah menjadi opsi kedua, yang seakan selalu ada tiap yang pertama pergi. Hanya segitu nilaiku?

Sepi mungkin selalu identik dengan sendiri. Namun tak di setiap sendiri kamu jumpai sepi. Sepi terkadang muncul di tengah keramaian, makhluk aneh, meski aku lebih suka mengakrabinya saat sendiri. Apalagi ketika kutemui sepi di atas ribuan mdpl sana, dengan langit berbintang sebagai atapnya.

Aku mungkin salah saat menjauhinya. Mungkin. Tapi toh hanya sedikit bagian dari hatiku yang merasa bersalah. Toh aku merasa lebih baik. Jadi aku simpulkan, tak apa. Aku merasa perlu membangun benteng yang kokoh sebelum kembali perang, tentu saja. Aku hanya belum pernah merasa sekecewa ini. Seakan semua yang sudah kami lalui bersama tak ada artinya. Begitukah? Jika harus berakhir begini, sejak dulu saja tak kucari kau dengan nama itu. Sejak dulu saja kita terpisah waktu. Dulu, mungkin aku memaklumi. Tapi sekarang? Tidak lagi.

Sepi selalu membawa angin semilir bersamanya. Membelai wajah dengan lembut dan mengangkat awang jauh entah kemana. Sepi selalu jadi teman terbaik saat yang dianggap terbaik tak lagi baik. Ah manusia, kenapa tak bisa seperti sepi?

Aku sudah mengucapkan selamat tinggal. Tak bisakah kau lihat itu? Aku benci. Benci padamu yang berpura-pura tak tahu. Berpura-pura tak peka kecuali padanya. Berpura-pura segalanya baik saja padahal kau tahu tidak. Ingin rasanya aku berteriak sambil menampar wajahmu yang menyebalkan itu, paling tidak agar kau sadar! Sadar bahwa kau yang sekarang sudah jauh berbeda. Sadar bahwa kau yang sekarang hanya seorang pengemis masa lalu yang baru menyesali perbuatannya, kemudian merengek minta kembali. BAH! Kau pikir kau itu siapa?! Kau pikir dunia ini milikmu?! Kau pikir isi duniamu hanya dia?! HAHAHA PIKIR! Aku muak dengan semua tingkahmu! 

Lebih baik aku pergi, meski harus ditelan sepi.


Jakarta, 6 November 2014
Untuk seseorang yang sudah terlalu jauh dari sisi, pergi dan jangan pernah menoleh lagi.
Share:

Wednesday, October 1, 2014

New Story

Been a month since the last time I wrote here. Things happened. Stories begin and end. Terlalu banyak yang berubah dari yang seharusnya. Kejutan dimana-mana. Ah, hidup.

Mungkin harus dimulai dari hal-hal yang tetap sama hingga sekarang. Gue masih suka naik gunung, masih kangen bahkan meski baru seminggu setelah turun. Gue sampe mikir kalo ini candu baru gue. Cara gue kabur dari kenyataan, atau seenggaknya biar makna hidup tetap ada di gue. Ya, gue dapet semuanya dari alam. Dari perjalanan-perjalanan gue kemarin, gue banyak belajar. Bentuknya mungkin tidak nyata, tapi gue tahu ada yang berubah di dalam sana. This is maybe the reason why I won't ever regret taking Geography as my major. Gue gatau, tapi yang pasti satu lagi khayalan gue tercapai.

I went to travel a lil too much these days. Baiknya, gue jadi deket sama temen yang tadinya gue ga deket. Buruknya......gue maunya jalan-jalan mulu............

Banyak hal yang harusnya gue ceritain disini, sayangnya gabisa. Yang gue bisa tulis adalah bahwa hal-hal itu berubah secara drastis, sampai-sampai gue nangis. Hal-hal diluar ekspektasi gue selama ini. Hal-hal yang meruntuhkan tembok dan berbagai macam sikap yang susah payah gue bangun selama sebulan terakhir ini. Things that put me in such a difficult situation. Rumit dan banyak. Banyak yang terlibat di dalamnya, banyak orang, banyak lingkaran.

Gue gatau harus gimana, sampai seseorang di perjalanan terakhir gue kemarin bilang "know and care less, happy more". Satu kalimat yang dengan ajaibnya  masih terus nempel di pikiran gue sampai saat  ini. Ya, mungkin gue yang emang terlalu peduli dan terlalu ingin tahu, sampai-sampai urusan sendiri terbengkalai. Mungkin gue emang selalu mikirin orang lain dan mengabaikan diri sendiri. Mungkin.......ah sudahlah.

I'd like to move on. I'd like to put things aside and think about my self more, yet I'm just afraid of getting more selfish than before. Entahlah bagaimana hal-hal yang gue sebutin di atas tadi akan berakhir, gue gatau. Yang pasti, gue bakal tetap disini. Menjadi satu irisan dari berbagai lingkaran yang rumit itu. Menjadi Faizah yang sama dengan yang dulu belum kecewa, sekaligus menjadi Faizah yang berbeda dengan yang dulu pernah ada.


Ps: Alam, tolong ajari aku lebih banyak lagi. Sampai ketemu di Gunung Cikuray tanggal 25 bulan ini! Semoga aku bisa ikut dan belajar lagi :) aamiinnnn
Share:

Tuesday, August 19, 2014

Dia, yang membuat saya jatuh cinta

Mungkin hanya rindu
Rindu rasanya dibelai angin sepoi di atas ketinggian ribuan mdpl sana
Rindu bau keringat bercampur semangat yang menempel di badan
Juga bau rerumputan yang melekat erat di sepatu dan kaki-kaki kami

Ah, rasanya tak pantas berbicara tentang rindu
Bahkan jumlah keberadaan saya disana tak sebanyak jumlah jari tangan yang berjuang memberi kehangatan
Apalah arti saya dibandingkan ribuan orang lain yang sudah menjejakkan kaki di banyak puncak lainnya
Mungkin hanya seperti kucing yang melawan harimau
Tak akan bisa menang

Tapi saya dengan bodohnya tetap memelihara rindu itu
Rindu yang sering menumbuhkan harap bahwa saya bisa
Bisa berdiri di atas sana lagi bersama doa-doa yang dilambung semesta

"Hai, akhirnya kamu lagi. Selamat datang kembali."
Ucap tanah yang saya pijak di ketinggian ribuan mdpl sana, entah dimana


Jakarta, 19 Agustus 2014
Kangen naik gunung. 
Share:

Wednesday, August 6, 2014

Renaissance vs Islam's Dignity Heritages (99 Cahaya di Langit Eropa Review)


First of all, hi! Got me here again finally hahaha so yeah i come back with this movie review.

Eropa, satu benua yang mungkin terdengar sangat eksklusif dan moderen dengan segala kehidupan bebasnya ternyata memiliki banyak rahasia peninggalan kejayaan Islam di balik bangunan-bangunan megahnya. Arc de Triomphe, Louvre, Champ Elysees, semua yang terlihat seperti peninggalan zaman Renaisans rupanya memiliki keterkaitan dengan zaman kebangkitan Islam dahulu.

I love the way the actors & actresses play their role. It's just great. Film ini juga menceritakan kisah perjuangan seorang muslim untuk melaksanakan ibadahnya dan bagaimana mereka berusaha memegang teguh ajaran Islam di dalam lingkungan non-muslim. Saya suka bagaimana Rangga (Abimana Aryasatya) tetap berusaha menjaga diri, hati, dan cintanya untuk Hanum (Acha Septriasa), sang istri, semata agar ia dapat menjalani ajaran agamanya dengan benar. Bahkan setelah ia digoda oleh teman satu kampusnya, Marja (Marissa Nasution), perempuan cantik dan baik hati yang menaruh hati padanya. It's just the way they talk, their glance, gestures, aw I'd love to have a husband like him. Who doesn't?

Menjadi sebuah hal yang lucu mengingat saya sama sekali tidak berniat untuk menonton film ini dan malah berakhir menulis sebuah review untuknya, simply because i knew this would have drama as its genre, as well as i knew it would also have religious sides. Speaking of, i just knew that this movie is made based on the novel. Well, i haven't read it yet so yeah i don't know if the book's better or vice versa? The book must have been far better, right? (my experiences, so far)

Best part: they talk in Deutsch and France! Don't forget their awesome dialects oh god i got eargasms lol it's also nice to have a company during your travel (definitely)

After taste: MAU JALAN-JALAAAANN SAMA SUAMIII. SUAMINYA YANG KAYAK RANGGA TAPI. Ya gacin (lagi). Ya.
Share: