Wednesday, December 10, 2014

Idealisme?

Hari senin kemarin, kami mulai memasuki minggu UAS. Hanya ada satu ujian di hari itu, jam 3 sore. Salah seorang temanku marah di ruangan tempat kami akan melaksanakan ujian, marah pada teman-teman sekelasnya yang mencontek saat UTS hingga UTS nya harus diulang. Khusus kelas itu. Aku yang baru datang, baru sempat melongok ke dalam, mendengar sedikit dari apa yang ia bicarakan; tak lebih, hanya mengajak teman-temannya jujur dan percaya pada kemampuan sendiri. Aku terdiam. Salut pada ajakannya yang mungkin terlihat menyebalkan bagi beberapa orang. Saat itu, salah seorang seniorku menghampiri dan bertanya, "Ada apaan jah? Itu kok marah-marah?" Aku yang memang belum tahu perkara detilnya (aku tahu setelah masuk ruangan) hanya sekedar menjawab "Itu kak, dibilangin biar UASnya jangan pada nyontek." Dan tahu apa jawabannya? "Alah, sok idealis temen lo." Dan aku menanggapinya dengan "Yeee kok gitu" kemudian ia ngeloyor pergi.

Jujur. Satu kata yang mudah terucap namun sangat sulit dilakukan. Kerap kali justru digunakan dalam konteks yang salah. Sifatnya prinsipil, harusnya jadi landasan hidup seseorang dalam melakukan kegiatan sehari-hari. 

Harus kuakui, satu kalimat dari seniorku diatas menamparku juga. Seketika berbagai pertanyaan berkelebat saat ia pergi. Idealis? Jadi itu sebutan untuk orang yang tetap mencoba jujur di zaman sekarang? Dimana letak salahnya? Apa salahnya jadi jujur? Aku tak melihat kesalahan dimanapun dari seseorang yang mempertahankan prinsipnya untuk jujur. Dan mengajak orang? Tak ada salahnya juga. Ia hanya mengajak, bukan memaksa. Toh ia tak melakukan apapun selain mengajak. Ia tak tahu. Aku, salah satu dari mereka yang ia bilang idealis. Atau naif, mungkin beda tipis. Aku tak tahu. Yang jelas, aku dari sekian orang yang berprinsip bahwa jujur di atas segalanya, apalagi saat ujian, mau nilaimu bagus atau tidak, itu  hasil usahamu sendiri. Aku, satu dari sekian orang yang mengutuk orang yang bahagia dengan nilai bagus karena hasil menyontek. Aku, satu dari sekian orang yang mencibir orang-orang yang mau dijajah kebohongan, membuatnya besar dan jumawa.

Baiklah, bilang aku idealis. Bilang aku tidak riil, tidak mampu menafsirkan situasi dan kondisi yang sedang terjadi di dunia masyarakat sekarang ini, tidak mampu menyesuaikan diri, atau apalah, aku tak peduli. Aku masih tetap seseorang yang akan menganggap semua orang baik, meski tak pelak kadang dirundung curiga. Aku masih tetap seseorang yang akan berusaha maksimal dalam setiap usahanya untuk apapun, tak peduli bagaimanapun hasilnya. Aku masih tetap seseorang yang akan selalu percaya bahwa Allah punya tabungan kebaikan amal kita yang belum diberikannya lunas saat kita gagal melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Aku masih tetap percaya bahwa jujur adalah hal paling penting yang harus seseorang pegang saat bermasyarakat. Aku tak berlagak jadi suci, aku hanya berlatih menakar kapasitas diri. 
Share:

Thursday, November 6, 2014

Sepi (Kekecewaan yang Meledak)

Malam. Posting lain di tengah padatnya hiruk pikuk tugas semester 3 yang seperti tak ada habisnya. Namun anehnya, malam ini aku malah tak mengerjakan apapun. Bebas. Luang. Dan lagi-lagi memberi ruang untuk menerawang.

Saat ini sepi. Entah sekadar jenuh atau karena dahi yang bersimbah peluh. Entah karena diliputi duka, atau malah disapa nestapa yang jahil belaka. Ah sepi, ada apa?

Mungkin karena aku sekarang sendiri? Ya, sendiri. Karena aku memutuskan untuk mengubur kejadian-kejadian itu dalam-dalam. Lelah. Aku tak mau lagi berurusan dengan mereka. Biar mereka dan Tuhan yang tau akan mengarah kemana dan dimana muaranya. Sudahlah, aku tak mau tau lagi. Aku lelah menjadi bayang-bayang yang selalu mengikuti; ada tapi dianggap tak ada, disadari namun tak diajak bicara. Aku lelah menjadi opsi kedua, yang seakan selalu ada tiap yang pertama pergi. Hanya segitu nilaiku?

Sepi mungkin selalu identik dengan sendiri. Namun tak di setiap sendiri kamu jumpai sepi. Sepi terkadang muncul di tengah keramaian, makhluk aneh, meski aku lebih suka mengakrabinya saat sendiri. Apalagi ketika kutemui sepi di atas ribuan mdpl sana, dengan langit berbintang sebagai atapnya.

Aku mungkin salah saat menjauhinya. Mungkin. Tapi toh hanya sedikit bagian dari hatiku yang merasa bersalah. Toh aku merasa lebih baik. Jadi aku simpulkan, tak apa. Aku merasa perlu membangun benteng yang kokoh sebelum kembali perang, tentu saja. Aku hanya belum pernah merasa sekecewa ini. Seakan semua yang sudah kami lalui bersama tak ada artinya. Begitukah? Jika harus berakhir begini, sejak dulu saja tak kucari kau dengan nama itu. Sejak dulu saja kita terpisah waktu. Dulu, mungkin aku memaklumi. Tapi sekarang? Tidak lagi.

Sepi selalu membawa angin semilir bersamanya. Membelai wajah dengan lembut dan mengangkat awang jauh entah kemana. Sepi selalu jadi teman terbaik saat yang dianggap terbaik tak lagi baik. Ah manusia, kenapa tak bisa seperti sepi?

Aku sudah mengucapkan selamat tinggal. Tak bisakah kau lihat itu? Aku benci. Benci padamu yang berpura-pura tak tahu. Berpura-pura tak peka kecuali padanya. Berpura-pura segalanya baik saja padahal kau tahu tidak. Ingin rasanya aku berteriak sambil menampar wajahmu yang menyebalkan itu, paling tidak agar kau sadar! Sadar bahwa kau yang sekarang sudah jauh berbeda. Sadar bahwa kau yang sekarang hanya seorang pengemis masa lalu yang baru menyesali perbuatannya, kemudian merengek minta kembali. BAH! Kau pikir kau itu siapa?! Kau pikir dunia ini milikmu?! Kau pikir isi duniamu hanya dia?! HAHAHA PIKIR! Aku muak dengan semua tingkahmu! 

Lebih baik aku pergi, meski harus ditelan sepi.


Jakarta, 6 November 2014
Untuk seseorang yang sudah terlalu jauh dari sisi, pergi dan jangan pernah menoleh lagi.
Share:

Wednesday, October 1, 2014

New Story

Been a month since the last time I wrote here. Things happened. Stories begin and end. Terlalu banyak yang berubah dari yang seharusnya. Kejutan dimana-mana. Ah, hidup.

Mungkin harus dimulai dari hal-hal yang tetap sama hingga sekarang. Gue masih suka naik gunung, masih kangen bahkan meski baru seminggu setelah turun. Gue sampe mikir kalo ini candu baru gue. Cara gue kabur dari kenyataan, atau seenggaknya biar makna hidup tetap ada di gue. Ya, gue dapet semuanya dari alam. Dari perjalanan-perjalanan gue kemarin, gue banyak belajar. Bentuknya mungkin tidak nyata, tapi gue tahu ada yang berubah di dalam sana. This is maybe the reason why I won't ever regret taking Geography as my major. Gue gatau, tapi yang pasti satu lagi khayalan gue tercapai.

I went to travel a lil too much these days. Baiknya, gue jadi deket sama temen yang tadinya gue ga deket. Buruknya......gue maunya jalan-jalan mulu............

Banyak hal yang harusnya gue ceritain disini, sayangnya gabisa. Yang gue bisa tulis adalah bahwa hal-hal itu berubah secara drastis, sampai-sampai gue nangis. Hal-hal diluar ekspektasi gue selama ini. Hal-hal yang meruntuhkan tembok dan berbagai macam sikap yang susah payah gue bangun selama sebulan terakhir ini. Things that put me in such a difficult situation. Rumit dan banyak. Banyak yang terlibat di dalamnya, banyak orang, banyak lingkaran.

Gue gatau harus gimana, sampai seseorang di perjalanan terakhir gue kemarin bilang "know and care less, happy more". Satu kalimat yang dengan ajaibnya  masih terus nempel di pikiran gue sampai saat  ini. Ya, mungkin gue yang emang terlalu peduli dan terlalu ingin tahu, sampai-sampai urusan sendiri terbengkalai. Mungkin gue emang selalu mikirin orang lain dan mengabaikan diri sendiri. Mungkin.......ah sudahlah.

I'd like to move on. I'd like to put things aside and think about my self more, yet I'm just afraid of getting more selfish than before. Entahlah bagaimana hal-hal yang gue sebutin di atas tadi akan berakhir, gue gatau. Yang pasti, gue bakal tetap disini. Menjadi satu irisan dari berbagai lingkaran yang rumit itu. Menjadi Faizah yang sama dengan yang dulu belum kecewa, sekaligus menjadi Faizah yang berbeda dengan yang dulu pernah ada.


Ps: Alam, tolong ajari aku lebih banyak lagi. Sampai ketemu di Gunung Cikuray tanggal 25 bulan ini! Semoga aku bisa ikut dan belajar lagi :) aamiinnnn
Share:

Tuesday, August 19, 2014

Dia, yang membuat saya jatuh cinta

Mungkin hanya rindu
Rindu rasanya dibelai angin sepoi di atas ketinggian ribuan mdpl sana
Rindu bau keringat bercampur semangat yang menempel di badan
Juga bau rerumputan yang melekat erat di sepatu dan kaki-kaki kami

Ah, rasanya tak pantas berbicara tentang rindu
Bahkan jumlah keberadaan saya disana tak sebanyak jumlah jari tangan yang berjuang memberi kehangatan
Apalah arti saya dibandingkan ribuan orang lain yang sudah menjejakkan kaki di banyak puncak lainnya
Mungkin hanya seperti kucing yang melawan harimau
Tak akan bisa menang

Tapi saya dengan bodohnya tetap memelihara rindu itu
Rindu yang sering menumbuhkan harap bahwa saya bisa
Bisa berdiri di atas sana lagi bersama doa-doa yang dilambung semesta

"Hai, akhirnya kamu lagi. Selamat datang kembali."
Ucap tanah yang saya pijak di ketinggian ribuan mdpl sana, entah dimana


Jakarta, 19 Agustus 2014
Kangen naik gunung. 
Share:

Wednesday, August 6, 2014

Renaissance vs Islam's Dignity Heritages (99 Cahaya di Langit Eropa Review)


First of all, hi! Got me here again finally hahaha so yeah i come back with this movie review.

Eropa, satu benua yang mungkin terdengar sangat eksklusif dan moderen dengan segala kehidupan bebasnya ternyata memiliki banyak rahasia peninggalan kejayaan Islam di balik bangunan-bangunan megahnya. Arc de Triomphe, Louvre, Champ Elysees, semua yang terlihat seperti peninggalan zaman Renaisans rupanya memiliki keterkaitan dengan zaman kebangkitan Islam dahulu.

I love the way the actors & actresses play their role. It's just great. Film ini juga menceritakan kisah perjuangan seorang muslim untuk melaksanakan ibadahnya dan bagaimana mereka berusaha memegang teguh ajaran Islam di dalam lingkungan non-muslim. Saya suka bagaimana Rangga (Abimana Aryasatya) tetap berusaha menjaga diri, hati, dan cintanya untuk Hanum (Acha Septriasa), sang istri, semata agar ia dapat menjalani ajaran agamanya dengan benar. Bahkan setelah ia digoda oleh teman satu kampusnya, Marja (Marissa Nasution), perempuan cantik dan baik hati yang menaruh hati padanya. It's just the way they talk, their glance, gestures, aw I'd love to have a husband like him. Who doesn't?

Menjadi sebuah hal yang lucu mengingat saya sama sekali tidak berniat untuk menonton film ini dan malah berakhir menulis sebuah review untuknya, simply because i knew this would have drama as its genre, as well as i knew it would also have religious sides. Speaking of, i just knew that this movie is made based on the novel. Well, i haven't read it yet so yeah i don't know if the book's better or vice versa? The book must have been far better, right? (my experiences, so far)

Best part: they talk in Deutsch and France! Don't forget their awesome dialects oh god i got eargasms lol it's also nice to have a company during your travel (definitely)

After taste: MAU JALAN-JALAAAANN SAMA SUAMIII. SUAMINYA YANG KAYAK RANGGA TAPI. Ya gacin (lagi). Ya.
Share:

Sunday, July 27, 2014

Ied Mubarak

Ramadhan sudah menemui penghujungnya. Satu bulan berlalu begitu saja. Tanpa ada apa-apa. Padahal seharusnya satu bulan lalu itu merupakan satu bulan yang istimewa; Ramadhan Kareem, siapa yang dapat menjamin aku masih dapat menemuinya tahun depan? Tapi sungguh, Ramadhan tahun ini terlalu sepi. Suasananya pun tak kental terasa seperti biasanya, tertutupi oleh bisingnya kampanye para calon pemimpin bangsa. Toh pada akhirnya pemilu tetap berlangsung ricuh dan banyak suara-suara yang kabarnya diselewengkan. Lantas apa yang kita dapat? Merugi keduanya bukan?

Entahlah, bagaimana rasanya mengganti rasa bersalah ini. Rasanya tidak benar, hampa. It's like you had been fasting for a month but get nothing? Hanya seperti puasa pada hari biasanya, bedanya dengan durasi lebih lama. Lalu dimana istimewanya? Duh Allah, apa yang salah? Kampanye pilpres? Orang-orang yang haus tahta itu? Suasana Ramadhan yang tak terasa? Atau justru..... Aku?

Besok Syawal dimulai, kata mereka kita menang. Entahlah, aku tak tahu apa yang aku menangkan, atau apa aku benar-benar menang. Aku rindu Ramadhan, benar-benar rindu semuanya. Semua kebiasaan-kebiasaan, suasana hangat saat bercengkrama, malam-malam itikaf di masjid-masjid yang beragam, Mbah Akung yang pergi tarawih, juga rasanya sekolah saat puasa. Ah, tapi nyatanya tak kutemui semuanya di Ramadhan kali ini. Yang kutemui hanya buka puasa-buka puasa bersama yang sering kehilangan arti, rumah kosong yang tak punya kegiatan di pagi harinya, juga program-program TV penuh pesan dukungan pada para calon. Barangkali yang menang pada bulan Ramadhan kali ini hanya sang calon terpilih, bukan aku, juga bukan kita.
Share:

Tuesday, July 1, 2014

Diri

Rasa-rasanya sudah terlalu lama seperti ini. Jadi orang lain yang tak mau menengok diri sendiri. Duh, apa tumbuh besar memang begini? Berjalan sesuai tuntutan keadaan yang menyelimuti, bersikap layaknya ditusuk duri; sakit, dan karena itu harus dituruti.

Rasa-rasanya ingin kembali saja. Jadi anak kecil yang hanya perlu diusap bunda jika jatuh, hanya perlu diajak berkeliling untuk tidur, pun hanya perlu diberikan permen jika menangis. Duh, apa tumbuh besar memang begini?

Toh tumbuh besar bukan jaminan jadi dewasa. Toh tumbuh besar hanya proses alam untuk meregenerasi manusia; besar, tua, kemudian mati. Toh tumbuh besar hanya sebuah proses fisik yang fana.

Karena nyatanya jadi dewasa lah yang sulit. Mendewasakan diri; memperbaiki pola pikir yang sudah terlanjur terbentuk, memandang masalah dari sudut pandang yang berbeda, menghadapi lingkungan yang tak pernah sama. Hingga kadang jadi api yang memakan diri sendiri. Hancur, lebur, jadi abu, dan diterbangkan angin entah kemana.

Duh diri, jika kamu memang sudah mati, paling tidak tinggalkan benihmu disini. Siapa tahu kelak ia jadi persis  seperti kamu. Menjelma jadi diriku sendiri yang telah lebih dulu lebur jadi abu. 
Share: