Wednesday, August 6, 2014

Renaissance vs Islam's Dignity Heritages (99 Cahaya di Langit Eropa Review)


First of all, hi! Got me here again finally hahaha so yeah i come back with this movie review.

Eropa, satu benua yang mungkin terdengar sangat eksklusif dan moderen dengan segala kehidupan bebasnya ternyata memiliki banyak rahasia peninggalan kejayaan Islam di balik bangunan-bangunan megahnya. Arc de Triomphe, Louvre, Champ Elysees, semua yang terlihat seperti peninggalan zaman Renaisans rupanya memiliki keterkaitan dengan zaman kebangkitan Islam dahulu.

I love the way the actors & actresses play their role. It's just great. Film ini juga menceritakan kisah perjuangan seorang muslim untuk melaksanakan ibadahnya dan bagaimana mereka berusaha memegang teguh ajaran Islam di dalam lingkungan non-muslim. Saya suka bagaimana Rangga (Abimana Aryasatya) tetap berusaha menjaga diri, hati, dan cintanya untuk Hanum (Acha Septriasa), sang istri, semata agar ia dapat menjalani ajaran agamanya dengan benar. Bahkan setelah ia digoda oleh teman satu kampusnya, Marja (Marissa Nasution), perempuan cantik dan baik hati yang menaruh hati padanya. It's just the way they talk, their glance, gestures, aw I'd love to have a husband like him. Who doesn't?

Menjadi sebuah hal yang lucu mengingat saya sama sekali tidak berniat untuk menonton film ini dan malah berakhir menulis sebuah review untuknya, simply because i knew this would have drama as its genre, as well as i knew it would also have religious sides. Speaking of, i just knew that this movie is made based on the novel. Well, i haven't read it yet so yeah i don't know if the book's better or vice versa? The book must have been far better, right? (my experiences, so far)

Best part: they talk in Deutsch and France! Don't forget their awesome dialects oh god i got eargasms lol it's also nice to have a company during your travel (definitely)

After taste: MAU JALAN-JALAAAANN SAMA SUAMIII. SUAMINYA YANG KAYAK RANGGA TAPI. Ya gacin (lagi). Ya.
Share:

Sunday, July 27, 2014

Ied Mubarak

Ramadhan sudah menemui penghujungnya. Satu bulan berlalu begitu saja. Tanpa ada apa-apa. Padahal seharusnya satu bulan lalu itu merupakan satu bulan yang istimewa; Ramadhan Kareem, siapa yang dapat menjamin aku masih dapat menemuinya tahun depan? Tapi sungguh, Ramadhan tahun ini terlalu sepi. Suasananya pun tak kental terasa seperti biasanya, tertutupi oleh bisingnya kampanye para calon pemimpin bangsa. Toh pada akhirnya pemilu tetap berlangsung ricuh dan banyak suara-suara yang kabarnya diselewengkan. Lantas apa yang kita dapat? Merugi keduanya bukan?

Entahlah, bagaimana rasanya mengganti rasa bersalah ini. Rasanya tidak benar, hampa. It's like you had been fasting for a month but get nothing? Hanya seperti puasa pada hari biasanya, bedanya dengan durasi lebih lama. Lalu dimana istimewanya? Duh Allah, apa yang salah? Kampanye pilpres? Orang-orang yang haus tahta itu? Suasana Ramadhan yang tak terasa? Atau justru..... Aku?

Besok Syawal dimulai, kata mereka kita menang. Entahlah, aku tak tahu apa yang aku menangkan, atau apa aku benar-benar menang. Aku rindu Ramadhan, benar-benar rindu semuanya. Semua kebiasaan-kebiasaan, suasana hangat saat bercengkrama, malam-malam itikaf di masjid-masjid yang beragam, Mbah Akung yang pergi tarawih, juga rasanya sekolah saat puasa. Ah, tapi nyatanya tak kutemui semuanya di Ramadhan kali ini. Yang kutemui hanya buka puasa-buka puasa bersama yang sering kehilangan arti, rumah kosong yang tak punya kegiatan di pagi harinya, juga program-program TV penuh pesan dukungan pada para calon. Barangkali yang menang pada bulan Ramadhan kali ini hanya sang calon terpilih, bukan aku, juga bukan kita.
Share:

Tuesday, July 1, 2014

Diri

Rasa-rasanya sudah terlalu lama seperti ini. Jadi orang lain yang tak mau menengok diri sendiri. Duh, apa tumbuh besar memang begini? Berjalan sesuai tuntutan keadaan yang menyelimuti, bersikap layaknya ditusuk duri; sakit, dan karena itu harus dituruti.

Rasa-rasanya ingin kembali saja. Jadi anak kecil yang hanya perlu diusap bunda jika jatuh, hanya perlu diajak berkeliling untuk tidur, pun hanya perlu diberikan permen jika menangis. Duh, apa tumbuh besar memang begini?

Toh tumbuh besar bukan jaminan jadi dewasa. Toh tumbuh besar hanya proses alam untuk meregenerasi manusia; besar, tua, kemudian mati. Toh tumbuh besar hanya sebuah proses fisik yang fana.

Karena nyatanya jadi dewasa lah yang sulit. Mendewasakan diri; memperbaiki pola pikir yang sudah terlanjur terbentuk, memandang masalah dari sudut pandang yang berbeda, menghadapi lingkungan yang tak pernah sama. Hingga kadang jadi api yang memakan diri sendiri. Hancur, lebur, jadi abu, dan diterbangkan angin entah kemana.

Duh diri, jika kamu memang sudah mati, paling tidak tinggalkan benihmu disini. Siapa tahu kelak ia jadi persis  seperti kamu. Menjelma jadi diriku sendiri yang telah lebih dulu lebur jadi abu. 
Share:

Monday, June 30, 2014

Sumbing - Solo - Jogja


Traveling, a word for those who wander much. Ibn Battuta said that travel leaves us speechless then turns us into storyteller. Ya, karena sebuah perjalanan akan selalu membawa cerita. Karena setiap perjalanan akan mengambil sedikit bagian dari hati untuk tinggal. Karena kita sebenarnya tak pernah benar-benar pulang.

Masih dalam rangkaian acara prasyarat menjadi anggota GMC UI, saya dan teman-teman lainnya diminta membuat database Gunung Sumbing di Wonosobo, Jawa Tengah melalui 3 jalur; Jalur Tedeng, Bowongso, dan Cengklok. I've got the last one, yang rupanya merupakan jalur yang harus kami rintis sendiri untuk mencapai puncak. We made the map, we made the way. Hahaha pada akhirnya kami harus puas berdiri tegak di titik tinggi 2864 mdpl karena punggungan putus yang dipisahkan oleh lembah yang dalam. Mungkin memang belum jodoh sampai di puncak, next time for sure. InsyaAllah. Kalau mau diceritakan jalurnya....duh perjuangan. Hutan dengan semak berduri, ilalang setinggi 1,5 m, jalan yang terus menanjak, wah apalagi kalau sudah sampai di lahan dengan vegetasi terbuka, angin yang berhembus kencang hingga punggungan jalur resmi pun bisa terlihat (Jalur Garung) tentu saja dibatasi lembah yang menganga diantaranya. Tapi sungguh, berdiri di titik 2864 mdpl saja sudah sangat bersyukur jika mengingat medan yang harus kami lalui untuk sampai disana. Toh dari ketinggian itu, Sindoro tetap menjulang gagah di hadapan, dikelilingi awan-awan yang melayang tenang bak terbang.

Tidak, kami tidak langsung pulang setelah turun dari Sumbing. Beberapa diantara kami memutuskan untuk pergi keliling Solo dan Jogja dengan anggapan bahwa sayang jika pergi jauh dari ibukota hanya untuk mendaki Sumbing semata. Alhasil, pergilah kami ke Solo dengan 3 kali ganti bus dari Wonosobo. Haaah, lelah? Tentu saja. Begitu sampai di rumah yang dituju, kami bertujuh langsung melepas keril sambil duduk meluruskan kaki. Selonjoran. Hari itu, kami cuma beristirahat sepanjang hari. Keesokan harinya, perjalanan dimulai! Mulai dari UNS, Masjid Ageng Surakarta, hingga Stadion Manahan kami kunjungi. Kami bahkan sempat ke Jogja untuk mengunjungi Prambanan dan balik lagi ke Solo. Di Jogja, kami hanya mengunjungi Malioboro dan Alun-alun selatan Keraton Jogja saja. 

A waste? Mungkin. Toh, ini kota-kota yang biasa dikunjungi oleh orang awam sekalipun. Tapi bagi saya, ini suatu awal. Awal untuk melakukan perjalanan yang lain, untuk pergi ke kota lain yang lebih jauh. Mungkin ke lain pulau? Lain negara? Lain benua? I do want to go everywhere, just to make sure i live the world i live in. Karena dengan traveling, kita tahu bahwa kita tidak sendiri. Bahwa kita masih punya banyak kebudayaan yang harus kita ketahui. Bahwa masih banyak orang baik yang akan membantu kita selama di perjalanan, regardless your ethnic group. Bahwa dengan perjalanan, kita menemukan suatu sudut pandang baru tentang hidup; tentang orang-orang di sekitar kita, tentang bagaimana memaknai hidup dan menghadapi rintangan di dalamnya dengan lapang dada, juga tentang cinta yang akan kita lihat di sepanjang perjalanan itu sendiri. Karena perjalanan, mengajarkan kita banyak hal untuk bertahan hidup. Go grab your chance!
Share:

Saturday, May 24, 2014

Within our world

Aku berpikir tentang satu cerita
Cerita dengan banyak alur di dalamnya
Alur yang begitu banyak dan saling bersilangan
Juga pemain yang berjalan saling bersisian
Kupikir semuanya akan berjalan lancar
Tanpa hambatan
Tanpa tabrakan
Tanpa para pemainnya dipertemukan
Tapi aku salah

Mungkin sebenarnya itu definisi dunia 
Dunia dengan banyak kehidupan
Kita mungkin hanya hidup pada satu dimensi
Dimensi yang kita sendiri tak tahu namanya
Sementara dimensi lain bergerak paralel dengan dimensi kita
Dengan dunia kita
Mungkin suatu saat nanti dimensi kita bisa saling bersilangan?
Aku tak tahu

Atau mungkin itu definisi takdir
Takdir yang mempunyai garis-garis yang berbeda bagi tiap anak manusia
Meski ada kalanya garis-garis itu bersinggungan dan mempertemukan sang empunya
Tetap saja garis itu berbeda

Tapi dunia berubah, Tuhan
Manusia juga
Apa takdir turut serta?
Share:

Wednesday, May 21, 2014

140521. H-1 Junmyun's b'day yet my last project execution

Anggap saja tulisan ini dipaksakan ada karena saya sudah sangat-sangat jenuh dengan ini semua hingga menulis pun seperti tak lagi punya daya. Banyak hal yang saya lewati beberapa hari terakhir ini, namun kebanyakan di antaranya hanya berakhir tanpa makna. Saya tidak tahu apa yang akan saya tulis disini. Namun yang pasti, cerita-cerita pada tulisan ini tidak akan saling terkait satu sama lain.

140504. Gunung Gede, 2958 mdpl. Alhamdulillah. Perjalanan kali ini entah kenapa hanya berlalu begitu saja, meski kali ini hasil yang dicapai jauh lebih besar dan lebih berarti. Meski alam memang tak pernah main-main ketika menunjukkan kemegahannya. Meski saya masih tetap terpana ketika berdiri di puncaknya. Mungkin karena hati yang tak seirama, atau malah tubuh yang merangkak menuju titik jenuhnya. Saya tidak tahu, tapi yang pasti ini merupakan salah satu titik tolak agar saya terus berusaha berjalan menuju mimpi saya yang lebih besar, menuju puncak yang lebih tinggi; Mahameru.

140515. Ini dia. Ini titik kulminasi saya. Titik balik dari semuanya. Hari dimana saya menjadi seseorang yang sama sekali berbeda. Hari dimana saya sama sekali tak menyangka bahwa suatu kejadian yang terjadi nun jauh di belahan dunia sana akan memberikan dampak yang cukup besar bagi saya. Lagi-lagi saya tidak tahu kenapa. Yang saya tahu, hari itu saya izin pulang setelah jogging karena demam dan pusing serta mood yang sama sekali tidak membaik sejak pagi. Saya menangis, menangis untuk seseorang yang bahkan tidak saya kenal sama sekali. Menangis untuk seseorang yang bahkan bayangannya saja belum pernah saya lihat. Hari itu saya hanya ingin menangis, untuk alasan apapun. Dan mungkin, alasan itulah yang terlihat oleh saya hingga saya menangis. Saya kecewa, marah, khawatir, juga takut akan kelanjutan kisahnya. Saya tidak tahu harus berbuat apa selain berdoa diam-diam agar semuanya baik-baik saja. Agar saya, dia, kami, dan mereka baik-baik saja.

140521. Saya masih dalam state dimana saya tidak mau melakukan apapun kecuali menggulung diri di bawah selimut. Saya masih berusaha memperbaiki mood saya yang hilang entah kemana. Besok kelas saya akan mengadakan pertunjukkan projek akhir dari sebuah matkul dengan bobot paling banyak. Saya bertugas bermain drama bisu dan membacakan puisi. Saya tidak tahu bagaimana besok semuanya akan berjalan. Sama sekali tidak tahu. Semuanya terasa blur buat saya. Besok juga, seseorang itu merayakan hari jadinya yang ke-23. Entah harus senang atau sedih, saya tidak dapat menebak perasaannya. Besok seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan baginya karena 2 hari setelahnya dia akan menggelar konser perdana bersama grupnya. Namun, karena masalah itu semuanya harus berubah. Atmosfirnya terasa aneh, terasa ganjil, terasa tak sama lagi setelah hari itu. Tapi tanggung jawab adalah tanggung jawab, yang harus kamu pikul meski peluh dan darah mengucur. Buat kamu yang disana, semangat ya! I know you can get through this. You have them and me, I'm gonna watch your back till you could stand on your own again. Xo! 
Share:

Thursday, April 3, 2014

Sleepless night

Hai! Saya sedang butuh teman, teman yang bisa diajak pergi ke satu tempat sepi yang terbuka untuk kemudian diam. Iya, diam. Saya hanya butuh seseorang untuk mengisi ruang kosong di sebelah saya, tanpa bermaksud mengajaknya bicara dan malah membuatnya mendengar cerita-cerita kehidupan saya yang membosankan. Saya hanya ingin diam, asik dengan pikiran-pikiran liar saya sendiri ditemani angin sepoi lembut yang menerbangkan anak-anak rambut yang menggantung di pelipis. Ah, andai saja ada yang bersedia......

Saya kangen, kangen bercerita dan bersenda gurau bersama adik juga teman-teman terdekat saya. Tapi saya juga takut, takut kalau mereka bosan mendengar saya mengeluh tentang hidup dan teman-teman di kampus. Saya sadar, saya menghabiskan banyak waktu dan tenaga saya untuk perekrutan anggota baru GMC yang bahkan belum jelas akhirnya. Saya mempertaruhkan terlalu banyak hal di hidup saya. Uang, tenaga, waktu saya bersama keluarga dan teman, perasaan, juga akademis saya. Namun....bukankah setiap pilihan memiliki resiko? Bukankah semua mimpi diraih dengan usaha dan kerja keras? Terlepas dari benar atau salah, saya ingin melakukannya, jadi saya terus.

Banyak hal yang ingin saya renungkan sendiri, di bawah langit berbintang kalau bisa. Ingin rasanya saya bertengkar dengan pikiran-pikiran ini, mengurai satu persatu benang kusut yang terlihat tidak berujung seperti sebuah lingkaran sempurna. Itulah kenapa saya ingin berada di bawah langit berbintang, agar ketika saya bosan dan ingin rehat, bintang-bintang itu mengalihkan pikiran saya. Mungkin memang terdengar galau dan mellow, tapi saya tidak peduli. Saya tetap suka melihat bintang-bintang yang menggantung jauh di atas sana, mengingatkan saya bahwa masih ada yang serupa dengan matahari, bahwa yang terlihat besar belum tentu yang paling kuat. Saya suka sinarnya yang lembut dan tidak menyakitkan, berkelap-kelip ramah tiap kali saya melihatnya. Ah, jadi kangen tempat camp pertama perjalanan kedua saya.

Tulisan ini lagi-lagi, bukan untuk apa-apa. Saya hanya merasa kalau saya harus menulis karena saya sudah terlalu lama memendam pikiran-pikiran yang terus meracau bagai burung yang tak henti berkicau. Walaupun toh pada akhirnya, hanya tulisan-tulisan random yang tercipta, setidaknya itu tetap membantu. Membantu menyalurkan sampah-sampah pikiran dan perasaan yang mendesak minta dikeluarkan. Selamat malam.
Share: