Thursday, January 23, 2014

Sort of something

Just another post when everyone has getting into their sleep. I just read a novel and finished watching a thai movie today and wondered like "wow, romantic things happened anywhere" yeah, anywhere unless mine. Pathetic? I don't think so, but well if you think I did, just take it. I'm not really sure what I wanna write though, so yeah, as always, random things and thoughts.

The novel tells about love between a handsome wealthy guy and a high-school girl, kind of happening story that's common to be, really. But I have to give a regard to the author of making a wealthy guy has different personality than others. A rich guy happened to be arrogant, full of don't-ever-try-to-touch-mine kind of pride, and proudly showing off anything he has. Moreover with his wealthy big family name stick into his, there's no reason for a man to not get everything he wants. While this guy happened to be a workaholic and live homely with his family. Not like his cousins who like to spend their money and hang out around another socialite. This guy is also an introvert one with full of sadness type of eyes, though it cannot dissipate his aristocrat line on his face.

Yeah again, I have fallen into the world the author built. Just like before, anytime I watched or read something, I'd like to fall into their world as a whole. Simply like I don't have my real world. Sigh. Yeah, drowning in deep imagination isn't that good though. But still, I'd love to. Because reading is my only escape. The only thing I wouldn't ever be bored to do. Now and later.


Ps: this is my not-so-old draft in which I've just finished reading one of Hanafiah series. Didn't get what I mean? It's okay.
Share:

Tuesday, January 7, 2014

Master's Sun (주군의 태양) Review

Annyeong! Wakakakak jadi kenapa gue kesambet mau nge-review drama ini......ya gapapa. Soalnya drama ini seru hahahah serem tapi kocak. Banget. Jadi ada Seo Ji Sub ya kalo gasalah namanya, pokoknya male lead actornya dia deh yang mirip Doojoon BEAST itu terus ceweknya gue lupa namanya siapa pokoknya perannya jadi Tae Gong Shil. Intinya sih si doojoon ini (anggep aja begitu soalnya gue males manggil nama perannya, dipanggilnya sajangnim mulu, eh Jo Joong Won deng nama perannya) orang kaya, nggak takut sama setan, matre parah. Meanwhile si gong shil ini cewek freak karena bisa liat hantu gitu deh. One day mereka ketemu dan pas si gong shil megang doojoon, hantunya pada kabur gitu. Dan sejak saat itu si gong shil jadi kayak hang on terus ke doojoon. Di satu sisi si dooojoon punya masa lalu yang ngelibatin cewek yang dia suka, namanya Hee Joo, masalahnya si cewek ini udah meninggal. Nah karena itu si doojoon let gong shil stay beside him dengan harapan kalo si hantunya hee joo muncul, dia bisa ngungkap semua kejadian masa lalunya gitu. Niat awalnya sih gitu. Apa mau dikata ujung-ujungnya suka juga ((ya iyalah namanya juga drama)). Jangan lupain Seo In Guk juga ya!!!! Seo in guk jadi siapa? Terus ceritanya gimana.........tonton aja sendiri! Hahahahah selamat menonton!

Best Part : Doojoon - Gong Shil first kiss. Pas hantu istri louis jang masuk ke badannya gong shil dan doojoon balik lagi ke kantor cuma gara gara di telpon kalo gong shil jadi aneh. Padahal doi mau berangkat business trip ke china. Gemblung.

After Taste : Gacin. Fix banget gacin parah.
Share:

Saturday, December 21, 2013

A day after the final exam finished

Gue baru bangun tidur. Baru aja shalat dzuhur dan baru aja dapet paket capdase dari abang-abang jne yang pusing muter-muter nyari rumah gue. Random? Jelas. Gue buka laptop dan tiba-tiba mikir........gue hidup buat apasih? Pertanyaan yang jujur saja akhir-akhir ini, entah kenapa, lebih sering mengusik. Pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa gue temuin jawabannya, atau mungkin udah tapi gue yang belum bisa jadi kayak jawaban itu.

Gue capek, mumet sama hidup. Because somehow our life is connected to each other, suka atau nggak. Dan justru karena itu gue sering mempertanyakan hal di atas? Gue disini mau ngapain sih? Buat apa? Buat siapa? Mau jadi kayak gimana ke depannya? Apa cuma mau jadi anak UI yang biasa -biasa aja, yang dapet gelar sarjana dari UI terus yaudah kerja, mapan, hidup enak. Ya Allah, dulu gue ngerasa hidup dengan alur kayak gitu udah paling terjamin, udah paling enak, sampai tua juga cuma bakal ongkang-ongkang kaki terima duit pensiun and so on. Tapi, nggak, hati gue nggak bilang itu bener. Hati gue bilang gue harus do something. Harus bisa jadi bermanfaat buat orang lain, harus ikut andil dalam bikin negara ini ke arah yang lebih baik. Tapi gimana? Gimana caranya? Gue nggak tau. Gue masih buta disini. Buta di kampus yang bakal jadi rumah gue 3,5 tahun ke depan.

Gue nggak deket sama senior, bukan karena gue nggak mau ngedeketin, tapi karena gue juga nggak tau harus ngedeketinnya gimana. Gue bukan cewek populer di kampus, like i've never been before. Jadi ya yaudah. Gue disini ya sendiri. Berjuang sendiri. Mungkin ada beberapa temen yang deket sama gue, yang ngasih support kalo gue lagi down, ya tapi mereka nggak di kampus ini. That's why. Gue bingung. Setiap di kampus tuh gue kayak blank on sendiri. Yang lain punya urusannya masing masing which i think mereka juga gatau masa depan yang menanti mereka kayak gimana. I definitely know kalo kita harus live today because it makes our tomorrow ya tapi kan tetep aja yang namanya worries still exist. Gue harus tetep keep my self on the right track biar ke depannya bisa tetep bener. Jadi.......doain aja ya. Bismillahhirahmanirrahim :'''')
Share:

Sunday, December 8, 2013

Geography and its future

Guten Tag! I actually have a post in my draft but i don't think i'd be able to continue it right now because i'm in the middle of doing my additional english task but why i'm writing this then it's because this thing is flying around my mind all over again. So yeah, i'm gonna using bahasa in mixing english as well.

So, last night i was searching for my lecturers' profile for the sake of G-Days 6th Olympiad and i found a blog whose the owner is a graduated student of Geography UI. Being pushed by my curiosity, i read it. It's all okay in the beginning, till i got to the point which says that "lulusan geografi bakalan cuma jadi PNS atau tenaga GIS which means lo bakal stuck disitu aja all along karena jadi PNS itu mematikan pikiran." Si penulis ini rupanya juga PNS di salah satu kantor pemerintahan lah intinya, jadi surveyor gitu kalo nggak salah. Nah, yang bikin gue lebih kaget lagi, pas gue baca komen ada salah satu komen anon yang bilang "saya salah satu maba geografi ui. belum apa-apa saya udah baca yang kayak begini. jadi apa manfaatnya kita jadi lulusan geografi kalo kerjaanya bakalan cuma mematikan pola pikir aja? terus dimana letak pemikiran spasialnya?" dan waktu gue baca tanggal postnya......itu sekitar bulan agustus pertengahan. Yang artinya.......yang ngomong itu salah satu anak angkatan gue yang gue juga gatau siapa. So far, gue bengong doang pas baca karena si penulis awalnya cuma ngebahas kayak dosen-dosen yang inspiratif buat dia kayak Mas Arko, Mas Hafid, Pak Cholif, sama Bu Wid yang notabene gue kenal nama-nama itu juga karena ya mereka masih ada di geo. Dia kayak protes gitu tentang kerjaannya, about why in his job right now, there's no knowledge he got in college are used? so it's all useless? and so on.

Dia juga bilang kalo anak geo itu anak-anak buangan dari jurusan lain because well yeah, yang masuk ke geo emang rata-rata pilihan kedua atau lebih that's why dia juga awalnya males jadi anak geo. But as soon as he entered there, senior sama dosen-dosennya kayak nge blow-up tentang geo gitu (berlaku juga sampai sekarang) yang ngebuat dia akhirnya betah di geo. Tapi ya itu tadi, dia protes kenapa lulusan geo ui cuma bisa jadi PNS, tenaga GIS, atau paling dosen? Kerjaan yang menurut dia bahkan ga menggunakan analisis spasial sebagai dasarnya dan semacamnya lah.

Well, i personally think that gimanapun kerjaan lo nantinya, itu tergantung lo. Either you'll get a job with your major basic in college or not, itu tergantung juga. Buat gue sih, gimana cara lo ngejalaninnya aja, enjoy apa nggak. Toh, semua hal yang dijalanin dengan hati lapang itu bakal berakhir bahagia kan? Oke, mungkin ini cuma pikiran seorang maba yang masih terlalu naif akan dunia yang sebenarnya atau entah bagaimana, tapi at least, enjoy your today because you live for today, not for tomorrow or even yesterday. Because if you don't survive today, how can you live tomorrow? What yesterday means for you then? Sekali lagi buat gue......kuliah aja yang bener, kalo lo enjoy di jurusannya kenapa nggak? Urusan kerjaan mah urusan nanti. Toh kerjaan bakal dateng sendiri kalo lo bisa menghargai dan menikmati setiap tetes keringat yang jatuh waktu lo menuntut ilmu di bangku kuliah. Karena sehebat apapun profesinya, nggak akan berguna kalo lo nggak memberikan manfaat buat orang lain. Is it?

Share:

Sunday, December 1, 2013

7:07's post

Lagi-lagi, cuma sekadar tulisan kosong di antara lautan tulisan bermakna di bumi.

Aku bukan penulis hebat. Bukan pula seorang pendongeng yang dapat menceritakan semua ceritanya dengan baik; membawa pendengarnya masuk ke dalam dunia yang ia ceritakan, menghanyutkan. Aku hanya seorang pelajar biasa yang suka bercerita dalam tulisannya. Bercerita tentang teman-temannya, tentang mimpinya, tentang keluarganya; tentang dunianya. Dunia yang kadang terlalu kejam menampar seorang gadis kecil yang masih lugu di pinggiran kota. Aku hanya seorang penulis amatir, yang tidak tahu bagaimana caranya membangun sebuah plot agar bisa menciptakan epik baru. Pun tak tahu caranya membangun sebuah karakter kuat yang mempengaruhi pembacanya. Apalagi membuat parafrase sulit berjuta makna. Ah, dunia. Apakah aku harus mengikuti ratusan kursus menulis di luar sana agar jadi hebat?

Mimpi itu tentang menulis. Bukan sekadar menulis, tapi menulis dari hati. Tidak, aku tidak berminat untuk menulis novel roman remaja seperti Cindy, yang bukunya bahkan sudah terbit. Aku iri, jelas. Aku cuma ingin menulis agar perasaanku tenang karena semuanya tertumpah. Aku tahu bahwa aku juga bukan penulis blog yang terkenal karena blognya dikunjungi ribuan orang seperti Raditya Dika. Yang pada akhirnya terkenal se-antero Indonesia. Entahlah. Tapi menulis benar-benar membantu. Terlalu banyak mimpi yang ingin diwujudkan. Berdesak-desakkan dalam waktu yang sempit dan terbatas secara bersamaan. Meski aku juga tak tahu bagaimana realisasinya. Ah dunia, kenapa aku harus ada?

Tulisan itu bercerita. Karena tak semua hal dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ada saat dimana aku bahkan tak mau bicara. Karena kata orang, lidah tidak bertulang. Lebih lentur daripada karet pun lebih tajam daripada pedang. Kata-kata yang sudah terucap pasti membekas di hati, tak bisa ditarik lagi. Bahkan untuk hal sepele sekalipun. Sebenarnya, itu salah satu sebab kenapa menulis bisa menjadi perantara lain. Ketika aku menulis, perasaanku tergambar di depan mata. Masih bisa kubaca dan kupertimbangkan ulang sebelum disampaikan. Tapi bicara? Tidak. Ketika kata-kata terucap, kamu mengayunkan pedangmu kepada orang lain. Entah mengenainya atau tidak, itu tergantung kamu. Dan dengannya, kamu akan mempunyai teman atau malah musuh baru. Ah dunia, kenapa kamu selalu punya dua sisi berbeda?

Jujur saja, aku lelah. Lelah mengejar mimpi yang ujungnya saja bahkan belum terlihat. Lelah mencari cara untuk sampai kesana. Atau karena mungkin ini masih awal. Awal segalanya. Awal jalan menuju mimpi-mimpi itu; mimpi-mimpi yang mungkin terlihat tak lazim untuk orang kebanyakan, namun tetap akan diperjuangkan. Karena mimpi itu, sepenuhnya tentang cinta. Cinta akan sesuatu yang membuat hati bahagia bila bersua, meski tak mudah menggapainya.
Share:

Tuesday, October 29, 2013

The afternoon, D-1 the last mid-term tests

Mau nangis. Hidup gue udah makin nggak jelas. Nggak ngerti kenapa gue harus nginjek step ini. Nggak ngerti kenapa gue ada disini. No matter how serious my sister said that i deserve to be here, gue tetep nggak ngerti. Gue nggak ngerti kenapa temen-temen gue kayak gitu. Gue nggak ngerti kenapa gue nggak bisa ngerjain uts alin gue kemarin. Gue nggak ngerti gimana cara gue ngerjain fisdas sama kimdas gue besok kalo gini caranya. Bukan, bukan gue nggak ngerti apa-apa sama yang diajarin dosennya. Tapi karena ini mirip sama SMA dan well high school is much better, far far much better, for sure. Ini kayak pertarungan hati sama pikiran. Gue tau gue pernah diajarin ini waktu SMA, tapi kenapa soalnya beda? Apa kapasitas otak gue juga udah beda? Terus gue harus gimana? Harus apa? Gue nggak bisa kayak temen-temen gue yang diem-diem jago ngerjain ini dan itu. Mungkin, gue udah terlalu sering nginjek kampus sampai gue.....diem-diem udah ngerasa bosen. Bosen balik ke rutinitas yang itu-itu doang. Bosen balik ke jalan-jalan yang sama yang tiap hari gue lewatin. Ketemu orang-orang yang diem-diem gue benci, orang-orang yang mengaku sebagai "teman" tapi tetap saja bukan. Orang-orang culas, yang diam-diam mengeruk keuntungan dari yang lain. Juga orang-orang yang dari luar tampak terlihat suci dan terjaga segala tutur kata juga sikapnya, mungkin juga hatinya, karena jilbab panjangnya. Orang-orang yang diam-diam membuat iri tapi juga tidak. Tidak karena yah, mugkin belum siap atau mungkin tidak mau. Ah, hidup. Kalau begini terus, bukankah hati orang bisa mati? Lantas kenapa tak berhenti membentuk lingkaran setan yang mengikat ini? Sahabat? Ah, memangnya mereka masih ada? Memangnya mereka masih peduli? Memangnya mereka punya cukup waktu untuk sekedar mendengar keluhan tak penting seorang mahasiswi baru yang tak bisa beradaptasi dengan baik dengan lingkungannya? Bahkan, diri gue sendiri aja udah nggak yakin gue masih punya sahabat. Bokap? Nyokap? Busy with all their school stuffs. Aqih? Gausah ditanya. Paling siapa sih, Fani yang bisa gue bagiin cerita, gue tumpahin kekesalan tentang temen-temen kampus juga keadaan yang maksa gue bertahan. Tapi dia, juga sibuk survive sama ipanya. Bilang dia nggak bisa sama semua pelajaran ipanya dan bilang kalo gue bisa dan ada bakat di ipa. Padahal? Nothing. Pure efforts sama doa doang. Jadi kalo gue cerita paling dia cuma "hm-hm" aja responnya. Good enough buat jadi listener. Gue capek. Capek nggak ada yang berdiri di sebelah gue kalo lagi kayak gini. Capek sendirian terus. Bahkan temen terdeket gue di kampus juga gitu. Minta gue ajarin ini ajarin itu kayak gue ngerti segalanya. Gue tau, sebenernya jauh di dalam hati kita nggak klop, cuma aja udah terlanjur deket. And we let it be. Ini yang bikin gue nangis kenceng waktu nonton School 2013. Iya, itu cuma sekedar drama. Tapi maknanya? Gue iri. Iri sama Nam Soon yang punya temen kayak Heung Soo. Temen yang udah lo ancurin mimpi terbesarnya, tapi diem-diem kangen lo. Meski waktu  ketemu masih marah, tapi dia berusaha make up pertemanan lo. Karena apa? Sayangnya dia ke lo jauh lebih besar dibanding mimpinya dia yang lo ancurin. Iri sama Jung Ho, anak nakal broken home yang selalu punya Il Hoon sama I Kyung, dua orang yang selalu sama dia no matter what happens. Biarpun Jung Ho bikin masalah segede apapun, mereka tetep bantuin. Apa gue nggak bisa punya temen yang kayak gitu? Apa gue nggak bisa masih punya hati di waktu kuliah? Apa gue harus tetep jadi robot kayak gini? Yang tiap hari kerjaannya bolak-balik jakarta-depok-jakarta dan pulang ke rumah cuma buat tidur? Apa karena gue gendut? Gue nggak cantik? Gue nggak pinter? Dan karena gue nggak cukup alim buat disebut sholihah makanya gue nggak bisa punya temen kayak gitu? Mungkin dari kemarin langit nangis buat gue. Nangis liat gue yang kasian, nggak bisa apa-apa, sok kuat padahal lemah, sok bisa sendiri padahal nggak. Nangis liat orang-orang yang nggak cukup peka sama orang-orang di sekelilingnya karena tertutupi urusannya sendiri. Bukan, bukan gue nggak ngerasa cukup punya Allah. Cukup, lebih banget malah. Tapi, seseorang juga butuh orang lain untuk berbagi kan? Kadang, kalo kayak gini gue mikir, apa gue kurang bersyukur sama Allah atau gimana, gue nggak tau. Hidup emang lucu dan ngebingungin. Stay confused and just be thankful, tho it hurts you a lot.
Share:

Sunday, September 22, 2013

Saturday Night's Midnight

HAI! Long time no write here isn't it? Hahaha iya jadi ceritanya udah kuliah terus sibuk.....ospek. Wks. Iya, ospek. Bahkan ospek jurusan juga belom kelar :| terus ceritanya kangen nulis blog kan tapi mau ditunda dulu sampe nanti selesai ospek but i can't resist the urge to write here anymore so yeah deeply sorry for those who take this as rubbish :/

Jadi.......gue masih ngerjain peer alin malam ini. Masih setia begadang kayak waktu SMA, bahkan mecahin rekor nggak tidur waktu ospek fakultas hari pertama. Masih setia sama cemilan-cemilan dan buku-buku yang berserakan di kamar. All seems the same but not one thing, yes fangirling. Hehehe lucu aja kalo sekarang gue udah lebih kalem di kampus, nggak suka ngomongin korea lagi sama temen-temen. Udah jarang on spazz acc, jarang stay up all night just to watch and chat with tlist, jarang update info mereka-mereka. Mungkin, ini awalnya. Mungkin, ini jalannya gue keluar dari jerat-jerat erat ini. Mungkin juga, ini cara gue lepas dari bayang-bayang k-pop. Entahlah. Bisa juga faktor nggak ada anak yang bisa diajak fangirling bareng, i mean k-pop fans are so many in my college but there's none like tlist especially tetelis :"
Soal college life....gue banyak belajar disana. Apalagi jurusan gue, geografi, well known as the most solid majoring of all in mipa. Anak seangkatan gue bareng-bareng kemana-mana karena kita emang diajarin buat kayak gitu. Well, not all of them are nice but some are. I found a new family formed, semoga aja gue nggak salah persepsi. Selain itu.....mungkin college life ada biar gue ngelupain anak-anak exo yang bikin gue terlalu delusional. Yang bikin gue selalu mikir can you be mine lol nggak deng gue mikir apa gue bisa punya pacar kayak kalian but it all answered by kak zee's tweet last night.

Gue nggak tahu kenapa tapi itu stabbing heart abis. Kak zee bilang, we have to look for such a noble and sincere love, not only based on physical characteristics and lust. So yeah.....we have to stop dreaming to be with exo because we don't even know them so that we don't also know how they treat people and so on. Kita bahkan beda keyakinan. And well, gue udah tahu dan sadar banget itu dari awal. Kak zee juga bilang, jangan pacaran. Karena bahkan yang ta'aruf aja ada yang modus. Bilangnya ta'aruf, tapi tetep ciuman gitu-gitu. Ya......gue nggak pernah pacaran sih jadi ya gatau. Dan karena kak zee udah ngasih warning biar nggak pacaran, gue makin bersyukur karena gue nggak pernah pacaran.

Ngomong-ngomong soal pacaran, tbh i have such a huge curiosity for how it feels to have a boyfriend. Penasaran banget sampe mau pacaran sekaliiii aja. Tapi setiap kayak gitu, gue pasti inget prinsip kalo gue mau nunggu yang halal. Seseorang yang udah jadi mahram dan halal buat gue. Idk whether this is just a comforter sentence or what tapi ya gue ngerasanya gitu. I admit it, gue suka nyubit atau nabok tangan cowok temen gue, tos, jabat tangan, atau apalah pokoknya skinship tapi nggak pernah pake rasa. Kalo udah ada rasa, gue malah cenderung diem dan nggak akan ngelakuin skinship lagi. Masalahnya......gue ngerasa kayak "i'm not supposed to have any boyfriend because i'm ugly and fat and not smart enough and not solehah so what things that i could be proud of". Ya abis keliatannya emang kayak gitu terus gimana :| but i'm sure Allah get me the best  for my future imam hehehe :'3 aamiinnnn

Dan errrrr gatau sih. But seems i'll fall in love so easily in college. Seriusan gatau kenapa. Udah lumayan lama juga ya nggak punya orang yang disukain gara-gara sj-exo hahaha. Anyway, i have a senior named syarif. Gatau kenapa gue mau cerita dia tapi.......dia banyak fansnya. Nope, not because he's handsome or rich but because his extra fucking care to others. Dia ketua angkatan geo 2011, jadi komdis buat angkatan gue, galak banget suaranya kenceng tapi aslinya..........baik banget :" idk what beamed from him but he has something others don't. I feel it. Mungkin karena kebaikannya atau apa gue juga nggak ngerti. Dan gue kayaknya ikutan ngefans wkwkwk soalnya gue melting sama sifat care nya dia ._. jadi ceritanya waktu kemaren eval, ada makhluk2 yg ngerasa terganggu gitu and they appeared on their real form. Salah satu panitia medis bisa liat dan langsung nangis takut. Kak syarif langsung buru-buru nyamperin dan meluk temennya T_T terus temen gue kan sesek nafas di tengah jalan, temen gue yang liat langsung reflek teriak medis, medisnya belom dateng kak syarif malah udah loncat duluan nyamperin temen gue huhuhu monang ;~; keren banget bayangin kayak gitu TAT

Ah, udahan dulu ya. Kapan-kapan cerita lagi. Mau ngelanjutin alin dulu hehehe babay!
Share: