Friday, January 12, 2024

Paradoks Waktu

Satu tahun lagi berlalu namun aku merasa masih terjebak dalam satu waktu. Padahal jika merunut ke belakang, justru aku melakukan banyak hal dalam satu tahun terakhir. Banyak keluar dari zona nyamanku; mengurus event besar, menjadi moderator forum publik, dianggap capable dalam mengerjakan banyak hal. Tapi di sisi lain, aku merasa masih belum banyak berkembang, masih di situ-situ saja, masih dengan diriku yang begitu-begitu saja. Pendeknya, belum merasa lebih baik.

Kepalaku masih kusut, benang-benang berkelindan ke kanan dan ke kiri, seakan menangkap semua hal yang terlintas di otak, baik penting maupun tidak. Badanku masih mudah lelah, vertigoku masih gampang kambuh, juga gerd yang akhirnya menyapa, sebagai dampak dari pekerjaan-pekerjaan yang datang tanpa kata tapi. Beribu-ribu kata mungkin harusnya tidak begini, beribu-ribu pula kata harusnya kamu bersyukur.

Masih awal tahun keempat. Masih ada enam tahun lagi, minimal. Entah apa yang akan aku raih di tahun ini, mungkin sebuah pencapaian yang pada akhirnya bisa kubanggakan? Bisa jadi. Mungkin pula cuma pencapaian tanpa arti bagi hati? Bisa juga.

Kita semua fana, perubahan yang abadi.
Share:

Monday, February 20, 2023

Monday Blues

Selamat datang di postingan pertama tahun 2023, pada hari senin pagi, saat lelap tidak dapat dikecap walau hanya sekejap.

Memasuki tahun ketiga di tempat kerja, dengan orang-orang yang masih sama, tetap keras kepala dan hanya mau mendengar suara-suara tertentu saja. Alih-alih terbiasa, aku semakin muak melihat tingkah mereka. 

Bukannya tidak ku coba berkomunikasi, tapi bagaimana mau berhasil jika syaratnya saja tidak terpenuhi? Didengarkan? Bah, langka benar itu terjadi. Sungguh, jika tidak ingat malam-malam aku terjaga dengan buku dan stabilo warna-warni demi sampai pada tahap ini, pasti sudah lama aku berhenti. Tak perlu ditanyakan lagi berapa banyak fluktuasi suasana hati yang sudah aku lalui, mungkin jawabannya adalah ribuan kali.

Aku sudah lelah mengeluh, sungguh. Sudah tak ingin lagi aku tanggapi semua kata-kata tak mengenakkan yang ku dengar dari si bapak tua, ibu nyonya, juga anaknya yang selalu dipuja-puja. Aku cuma butuh pemimpin yang benar, yang mengayomi, yang tahu bahwa kemampuan semua orang tidak sama dan mau memberi kesempatan belajar dan berkembang. Bukan hanya bos yang selalu menyalahkan bawahan jika tidak bisa bekerja, apalagi yang tidak mau mengakui kesalahan bahkan jika sudah ditunjukkan di depan hidungnya.

Mohon maaf, saya tidak lagi menghormati Anda.
Share:

Tuesday, September 13, 2022

Jakarta dan artinya


Selamat malam, Jakarta.

Kota yang megah dan bisingnya tidak pernah berhenti. Tidak juga pada jam 3 pagi, saat aku menatap Jembatan Semanggi dari ketinggian hampir 100 kaki. Kota yang bergerak cepat, seperti langkah kaki para penghuninya beberapa jam lagi; diburu waktu dan alat transportasi yang acap kali telat tidak tahu diri. 

Kerasnya Jakarta hanya untuk orang-orang kuat, kata mereka, atau untuk yang terpaksa mencari nafkah demi memperpanjang jarak dari rundungan nestapa. Pukul 6 pagi nanti, mobil-mobil akan berjajar seperti koleksi mobil mainan dari atas sini, maju setengah meter demi setengah meter menuju gedung-gedung pencakar langit di pusat ibukota.

Setelah 25 tahun bersama, aku pergi menjauh dari kamu. Bukan karena sudah bosan, namun karena keharusan. Tapi aneh, bukannya lega, aku malah rindu. Pada kegilaan orang-orangnya, pada wajah-wajah asing yang ditemui di kereta pagi tujuan kota, pada rutinitas menjemukan yang memuakkan.

Aku menemukan rumah, pada sebuah rumah kecil bertingkat dua di timur Jakarta. Pada senyum-senyum penghuninya yang tetap ada meskipun hari itu mendung bertengger di ujung nusa.
Aku menemukan nyaman, pada kemacetan yang seringkali dikeluhkan massa.
Aku menemukan Jakarta, kota yang besarnya bahkan tidak sampai sepertiga Pulau Jawa, menjadi satu bagian dari diri yang lebih besar dari sekadar kata.
Share:

Sunday, June 5, 2022

Dosa, Tangis, dan Americano

Beberapa hari ini, saya banyak menangis. Menangisi pekerjaan, dosa-dosa, juga berita duka di luar sana. Saya menangis karena kesal dengan atasan, menangis karena penyesalan yang selalu datang belakangan, juga karena berita kehilangan. Saya menangis untuk hal-hal yang ada di luar kuasa saya, menangis untuk hal-hal yang juga ada dalam kontrol saya, juga menangis untuk satu keluarga yang jika dibilang bersinggungan pun hanya sebatas tahu nama.

Hidup saya aneh; saya sadar berdosa tapi tetap melakukannya. Lalu kemudian saya menangis; keras, deras, seperti orang tidak waras. Kali lainnya saya menangis, meratap minta ampun, namun tetap tergoda masuk pada perangkap setan dan hawa nafsu. Pada ego yang menyerah pada keinginan id, dan ketika dirinya kembali mengambil alih, superego sudah lebih dulu datang menghakimi. Kemudian kembali ke awal, berputar lagi. Pada setiap putaran, satu pertanyaan yang sama muncul dalam pikiran: apa yang sebenarnya kamu mau?

Diri saya aneh; satu waktu saya menangis begitu keras untuk orang lain, di lain waktu saya bisa bergeming diam, dingin, seperti tidak punya hati. Pada satu malam, saya menangis iri melihat betapa hamba-hamba Tuhan begitu gigih dalam meminta, dan Dia membalasnya dengan kebahagiaan tak terkira. Pada malam lainnya, saya berdecak bingung tak habis pikir, bagaimana Tuhan mampu memberikan ujian seberat itu pada hamba-Nya yang kata-Nya dicinta. Pikiran yang kemudian berputar lagi, hari demi hari. Pada setiap putaran, satu pertanyaan lagi muncul dalam pikiran: apa yang kamu tahu tentang semesta, wahai makhluk fana?

Hari ini hari minggu. Ada pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan, namun saya malah memilih memesan 2 gelas americano pada aplikasi daring pesan antar. Jika saya belum pernah bilang, americano adalah kenyamanan saat saya sedang tidak baik-baik saja. Jangan tanya kenapa karena saya pun tidak tahu. Hari ini mungkin saya hanya butuh teman untuk terus berteriak pada nurani; apakah di dalam sana kamu masih berfungsi? Teman yang terwujud dalam rasa pahit minuman hitam ini, yang berembun seiring dengan es yang melebur bersama kopi. 

Besok, mungkin saya akan menangis lagi, untuk hal-hal yang tidak terduga, untuk hal-hal yang terlihat jauh dari jangkauan namun ternyata hanya berjarak satu hasta dari genggaman, atau untuk sebuah tamparan telak kesadaran bahwa semua kehidupan akan bermuara pada kedalaman dua meter di bawah tanah kuburan. Lusa? Satu minggu ke depan? Sepuluh tahun mendatang? Siapa yang tahu. Saya cuma berharap agar Tuhan mau bermurah hati menjauhkan saya dari dosa dan rasa sesal yang pasti mengiringi, juga americano yang mungkin sudah bosan menyaksikan saya termenung tanpa arti.
Share:

Tuesday, May 17, 2022

Tujuh Belas

    Kembali lagi dengan tulisan hampir tengah malam ketika lelah tetap mendera meski libur tiga hari telah dilewati; libur yang tidak hakiki. Baru saja menyelesaikan pekerjaan lainnya setelah rapat daring beberapa jam yang lalu. Sejak bekerja, rasa-rasanya mudah sekali breakdown dan burn out, sampai-sampai mungkin pergi ke psikolog atau psikiater jadi opsi yang tidak lagi terlihat sulit dipilih. Semakin dewasa, semakin banyak pilihan yang diambil juga tanggung jawab yang diemban. Pilihan-pilihan penuh resiko maupun tanggung jawab besar yang seringkali masih dipertanyakan kenapa dibebankan pada kedua pundak ini. Kalau sedang lelah begini, memang rasanya ingin sekali kembali jadi anak kecil yang belum mengerti banyak hal, jadi anak kecil yang masih dimaklumi untuk banyak bertanya tanpa harus dihakimi kenapa tidak berhenti mencari jawabnya.

    Kemarin, untuk kesekian kalinya, saya sampai pada titik ketika saya tidak ingin melakukan apa-apa lagi selain tidur dan menangis. Kemudian, tiba-tiba daftar putar saya memutar lagu Tujuh Belas dari Tulus. Ketika sampai pada bagian "Sederas apa pun arus di hidupmu, genggam terus kenangan tentang kita. Seberapa pun dewasa mengujimu, takkan lebih dari yang engkau bisa.", air mata saya turun begitu saja. Wow, this hits the right spot accurately. Menonton video klipnya kemudian tidak membantu tangis saya berhenti sama sekali, malah turun semakin deras. Melihat anak-anak sekolah dengan seragam berlarian ke sana ke mari dengan tawa di wajah mereka membuat saya bertanya-tanya, apakah saya juga pernah terlihat sebebas itu?

    Mungkin iya, mungkin juga tidak. Jujur saja, saya mengakhiri masa SMA dengan tidak begitu gembira, apalagi dengan teman-teman di sekolah. Jika boleh memilih, mungkin teman-teman dunia maya lah yang membuat saya lebih bahagia. Teman-teman yang saat ini entah berada di mana karena kami sudah berpisah jalan dan saya hanya bisa mengingat waktu-waktu itu sebagai kenangan.

    Tujuh belas adalah usia batas ketika seragam sekolah akhirnya ditanggalkan dan diri melangkah menuju satu dunia baru bernama kedewasaan. Dunia yang pada awalnya terlihat biasa saja, namun ternyata 180 derajat berbeda. Dunia ketika harapan dan realita seringkali tidak sejalan. Dunia ketika mimpi-mimpi seringkali harus dalam-dalam dikuburkan.

    Cara saya melihat dunia saat ini mungkin salah, karena saya sedang lelah. Cara dunia melihat saya saat ini juga pasti tak kalah menyakitkan. Saya belum jadi siapa-siapa dan mungkin tak akan jadi siapa-siapa. Mungkin juga akan begitu saja dilupakan. Tapi, hingga tiba di garis akhir nanti, semoga diri ini tetap kuat berdiri meski kenangan yang harusnya bisa digenggam dengan menyenangkan, malah berakhir menyakitkan. Semoga semua ujian yang sedang berjalan hanya akan jadi bukti seberapa tangguh diri ini bertahan. Semoga.
Share:

Friday, August 20, 2021

Thoughts On: Sholat, Kebutuhan atau Kewajiban?

      Hai! Balik lagi dengan tulisan penuh pikiran pribadi yang kadang nggak disaring lagi alias asal tulis aja apa yang ada di pikiran. Judulnya agamis banget ya lmao but this is just another piece of mind yang gue keluarin biar gue juga mikir lagi sih. Tulisan ini dibuat bukan dengan maksud menggurui karena gue sekali lagi have no capacity on assessing how high your relationship quality with your god is.

    Tumbuh di keluarga yang religius, gue diajarkan bahwa sholat adalah suatu keharusan. Wajib hukumnya dikerjakan, dosa apabila ditinggalkan. Memang, perkara agama sering sekali terdengar seperti sedikit-sedikit surga, sedikit-sedikit neraka. Namun, gue pikir, memang seperti itulah konsep dasar kehidupan. Semuanya diciptakan dengan pasangan, semuanya diciptakan dengan dua sisi yang bertolak belakang. Waktu kecil dulu, nggak ada lah ceritanya gue mikir kenapa sih harus sholat? Kenapa sih hukumnya wajib? Gunanya sholat tuh apa sih? Dulu, yang gue tau cuma kalo nggak sholat, ya dosa. Sehingga sholat acapkali cuma menjadi sebuah cara menggugurkan kewajiban. Mau sholat cuma 2 menit, ya yang penting udah sholat. Sesederhana itu. Sholat cuma jadi rutinitas tanpa arti. Biar kalo ditanya ayah-ibu, "mbak, udah sholat?" bisa dijawab dengan bangga, "udah kok." Sebatas itu saja.

    Rutinitas yang diulang-ulang selama bertahun-tahun hingga menginjak bangku SMP. Nah, selain sholat wajib, nyokap tuh mulai sering nyuruh gue sholat dhuha, padahal kalo di SMP sholat dhuha tuh aneh banget. Iya, kan SMP gue bukan SMP islam apalagi pesantren. Jadi dulu kalo diajakin ke kantin terus gue bilang mau sholat dhuha tuh gue diliatin wkwkwk. Nah, awalnya terpaksa banget sih dhuha tuh. Asli, kayak ya ngapain sih orang-orang pada main, gue sholat? Sok banget hahaha gitu dulu gue mikirnya. Eh terus ternyata ada mas crush sholat dhuha juga ciyaaat bonus dong ((asli ini ga bener banget emang)) yaudah akhirnya gue sholat-sholat aja tuh tiap hari kalo emang bisa (kadang suka ada pelajaran yang ngambil waktu istirahat). Nah waktu zaman gue, UN SMP masih ada, terus anak sekolah gue pada pinter-pinter, termasuk si mas crush. Ceritanya, nggak mau kalah lah gue. Selain belajar abis-abisan, gue mepet Allah juga deh kayaknya, baweeeel banget tiap hari minta nilai UN segede apaan tau. Di waktu ini, gue juga belum paham benar kenapa kita disuruh sholat. Sampai suatu hari, gue lupa sih ada apaan tapi waktu itu gue pengen nangis banget, udah nggak kuat. Akhirnya lari ke mushola, ambil wudhu, sholat dhuha. Sujud pertama, wah, gila. Gila banget. Ngerti nggak rasanya lo kayak lagi sediiih banget, pundak lo tuh berat banget, nah pas sujud pertama itu, gilaaak beneran ces pleng banget gitu loh rasanya? Kayak Ya Allah kok nikmat banget sujudnya? Gue beneran speechless tapi mau nangis malu soalnya udah ada anak-anak lain juga wkwkwk. Masya Allah emang Allah tuh Maha Baik. Gue kalo inget-inget itu rasanya pengen banget gitu re-living the memories :') Tapi mungkin emang yang namanya kejadian magical nggak akan terulang berkali-kali ya, yaudah cuma itu doang satu hal yang bikin gue mikir, oh iya gue harus sholat.

    Nah, semakin besar, kepala gue semakin nggak bisa diam. Semakin banyak mikir segala hal random. Termasuk soal sholat. Otak gue nggak lagi menerima alasan sesepele kalo nggak sholat ya dosa. I started to think "ya kenapa dosa? Emang Allah mau gue gimana dengan sholat? Sebenernya apa yang bisa gue dapet dari sholat?" Dari pengalaman waktu SMP : hati menjadi tenang. Indeed. Tapi perlu digarisbawahi, sholat yang sepenuh hati. Bukan cuma gerakan takbir sampai salam yang di tengah-tengah juga kadang lupa udah rakaat ke-berapa. Bener ini, asli, valid.

    Hati menjadi tenang karena lo sholat. Tapi sebenernya kalo mau dibedah lebih jauh, tenang karena apa? Karena udah menggugurkan kewajiban lo? Atau tenang karena udah berdialog dengan Tuhan lo hari ini? Iya, sering banget gue mikir kayak gini. Atau lebih jauh lagi, "sholat kali ini kewajiban atau kebutuhan ya?"

    Kadang juga gue mikir, sebenernya perlu nggak sih lo milah-milah jenis sholat lo kali ini yang mana? Toh iman manusia juga fluktuatif, naik turun. Bukan berarti kalo kali ini lo sholat demi menggugurkan kewajiban berarti lo langsung kafir kan? I tried to accept that. Oh, iya, hari ini sholatnya kayaknya kurang fokus deh? Maafin ya, ya Allah. Nanti dibenerin lagi deh, gitu. Just like how we need to process everything step by step, i think that's just how grasping the concept of praying also works.

    Nah, di umur seperempat abad ini, gue menemukan satu lagi statement yang menyatakan "Allah tuh nyuruh kamu sholat bukan karena Dia yang butuh. Tapi kamu." Waktu pertama kali dengar pernyataan ini, gue mikir lama banget kayak gimana-gimana maksudnya? Kok kita disuruh tapi karena kita yang butuh? Ternyata oh ternyata, karena Allah tuh sayaang banget sama kita. Allah tuh nggak mau kita susah, makanya kita disuruh sholat, disuruh berdoa. Allah nggak dapet apa-apa dari sholat kita, kita yang dapet apa-apa. Kalo kita nggak sholat, Allah nggak rugi apapun, kita? Rugi banyak. Udah resah dan gelisah menunggu di sini di sudut sekolah, /gak fai/ terus adaaa aja deh tuh pokoknya masalah yang muncul. Coba deh diinget-inget. Kalo nggak gitu, moga-moga bukan sudah sampai di tahap istidraj ya, alias Allah udah bodo amat sama kita, jadi dicuekin :')

    Udah sih, intinya mah sekarang sholat ya sholat. Cuma sekadar menggugurkan kewajiban ya alhamdulillah, berarti sadar masih punya kewajiban yang harus ditunaikan, udah jadi kebutuhan lebih alhamdulillah lagi, berarti one step closer to Allah The Almighty. Sekali lagi, tulisan ini dibuat murni tanpa tujuan ataupun keinginan menggurui apalagi tujuan-tujuan aneh lainnya, hence it is tagged with "thoughts on" tag karena ini merupakan salah satu pikiran liar yang sering muncul ke permukaan dan jika gue diskusikan dengan orang lain.....kayaknya gimanaa gitu hahaha. Boleh ditanggapi, boleh dikritik, tapi tidak untuk didebat kusir karena sekali lagi kembali ke prinsip hidup utama gue, you do you.

Share:

Sunday, January 31, 2021

About Friendship

Why do I feel like writing every time January hits its end? Because this is already the 2nd time. None of that matters though lmao. Okay so, today is Sunday and I feel like writing something to ease off my mind before I let it back to think about work.

It's been almost a month since I started new work and moved to another city. I need to adapt to new environment, including the weather and friends. Yes, most of my co-workers have the same age as mine hence I'd love to call them friends rather than the former. The thing about friendship for me though, is always about the vibe. If they passed my vibe radar, then we must have been able to bond and get along well, or vice versa. 

My God has been soooo kind to me by surrounding me with people I can laugh a lot with and chat about almost everything with, not only limited to work loads. I'm so grateful for them, like soooo grateful. I just hope we could continue like this though for years and years to come. We might encounter different opinions in the future (ofc we all have different heads??), but I hope it's not enough to break the bond we have started to weave.

Nah, the bad side about friendship for me is that I grew really fond of them and frequently got insecure and a bit possessive. It's like I don't wanna let others take them from me or let others get as close as me to them. WELP I REALLY NEED TO WORK ON THIS BECAUSE THIS IS NOT HEALTHY AT ALL AND IT'S EXHAUSTING. What's more annoying is I can't even conceal how I don't like it from them. Take this for example. When someone whose vibe isn't vibing with mine aka someone I can't really get along with talked to my friends, I'd totally be quiet and look at my phone instead. And my friends would look at me with stares that said what's wrong with you?! Why the sudden silence?? You're usually so loud?? and I could only shrug it off and said it's nothing lmao yes that's just how obvious I am. I wear my heart on my sleeves.....yes. You know what, one of my new close friends even said that I'm an extrovert hence I seem to not be able to stop talking when I'm with her. Lmao surprised but not surprised I guess? 

Generally speaking, I'm always so loud, affectionate and protective to those I love. Sometimes I don't even think about their gender, whether they are boys or girls, they're all my friends and I love them all the same. It bothers me so much when one said boys and girls could not be friends without catching feelings and I was like????? Why????? Because I totally can?????? I love my guy friends like they were my older brothers?? When I said I love them, I love them platonically and platonically only, not more??? But again, this might be just me lmao. 

Friendship is just like another ship that has to go through ups and downs; when storms hit, it shakes violently and the crew needs to stay together and do all they could to not let the ship sinks so they could survive and see the sun rises beautifully the next day, just like nothing happened. Storms only makes the crew grew stronger and closer if they could survive it. I personally always love to take the storm heads on, rather than hiding and face them later on because it might turn bigger and explode while the clock keeps on ticking. I mean, you guys could always openly tell where my fault is so I could reflect and properly apologize, rather than badmouthing me from behind. I'm blunt, too blunt for some of you perhaps, but I swear I never had any bad intention for all of my dear friends. So just come and talk to me. I'm still trying to be the better version of me, so I apologize in advance if you guys have to bear with this ugly version for now.

Last but not least, thank you for being my friend. I really am thankful for each and every single one of you. May our encounters brought you joy and happiness, or at the very least, lessons to learn.
Share:

Tuesday, December 29, 2020

Last 2020 Chit-Chat

Hi, this is gonna be another rants. Don't be surprised if it's more incoherent than you'd suspect this post would be, because nothing is coherent for me at this very moment and I think I'm not even sorry. I have so much to think and so much to feel, but welp what's new though. That's just how I normally am.

2020 is a tough year. Time went by so fast, for those who don't do anything. It's me, I'm one of those. It's just staying at home for months, do grocery shopping, attend closest ones' wedding, read, spazz, sleep, eat, repeat. I don't even have any idea why I didn't write as much as I always do, when I'm as always, so full of feelings and emotions because what would a Fai be without all those overwhelming things?

Come December and I suddenly feel like I've wasted so much times daydreaming. Like, literally daydreaming. When I could fucking learn a new language and do an entirely new thing as a hobby instead. Plotting out a new best-seller to be novel, for example? Since someone had been so keen to become a writer? Help if that someone ain't me and that very someone also had no idea why she had no motivation to do so. Why didn't I even think for my master's research proposal, for good? If anything, these times could be a good time to think and reflect. But holy god, what's to reflect? Blaming my self for stuffs I don't want to happen? Saying I'm not beneficial to society even when I'm already on my mid 20s? I do that so often, I lost count. Fuck, I'm so totally lost in this pandemic effect and I literally think it's a miracle that I haven't gone insane for real.

Things to keep me sane? As always, of course something unreal. Fictional characters on anime, novel, movie, you name it. Now that I think about it, something fictional is a double-edged weapon for me. It made me shifting my focus from the real cause of my depression, yet it also made me run from it. But, it made me not so depressed anymore. If anything, the depression they caused me just made me giddy and restless for thinking WHY TF CAN'T YOU ALL BE REAL???? I don't even know how I'm able to feel this much for something unreal. I just.....love them so much. So much that I think my heart could burst out with love and all these affections. Okay, maybe now I'm starting to sound like a mad woman.

A few days ago, I had a phone call with one of my friend. We talked, about so many things. About how old we have become, future plans that I don't really have (or know), but mostly about our time in uni. Yes, uni had passed for so long yet look how emotionally attached I am to that particular time. Uni was literally one of my best time living on earth, honest-to-god. They felt so silly, so nice, so fun, like a breeze blown on a bright day with blue skies and not-so-hot shining sun. Sure, I prefer cloudy days and even stormy days, but having them once in a while was so good too. And my friend agreed with me on that. Days on uni felt so short, but they're unforgettable and certainly irreplaceable. I found my self wondering how despite things I hate back in uni, I'm still quite fond of them. Things like distance I had to cut with 2 hours long ride from home back and forth, people I don't vibe with, subjects I don't really pay attention to, and so on. Uni days were really my favorite period to live in. If people could choose to re-live one period of their lives, I would without no doubt choose uni.

But now is now and memories are only something that evokes nostalgia. I have new work to do, new people and environment to be adapted to, and new.....life, perhaps. I'd be far from home, I don't even know how I'd survive but let's pretend this is an exercise for when I studied abroad later. I just hope things are getting better, be it for me and my family or things in general. I hope this pandemic would be over soon because I really really need my escape getaway by meeting nature again without any feeling of insecurity haunting.

See you next year, if life is still kind enough to befriend me and not dragging me to meet death, instead.

Share:

Sunday, July 12, 2020

Twitter Hari Ini dan Satu Dekade Lalu

Sebagai seseorang yang lahir di tahun 90-an tentu saja saya tidak lagi asing dengan media sosial yang satu ini. Sebelum instagram berkuasa, banyak sekali orang-orang yang memiliki akun di twitter. Mereka berkicau, begitu aktivitas yang seolah disampaikan oleh medsos berlambang burung ini. Saya pertama kali membuat akun di tahun 2009, ketika saya masih SMP dan twitter hanya digunakan sebagai medsos sampingan selain friendster. Twitter berfungsi sebagai tempat curhat saat itu, baik secara terang-terangan atau pun cuma dengan kode-kode semata. Saat itu, saya berinteraksi hanya dengan teman-teman real life saja, teman-teman yang juga memiliki akun serupa.

Sekitar tahun 2012, saya membuat akun kedua. Side account, alter account, spazzing account, akun ava korea, you name it. Tujuannya tentu saja tidak lain dan tidak bukan agar saya punya tempat khusus untuk melontarkan pikiran-pikiran tentang grup-grup favorit saya. Dari akun ini, saya mengenal orang-orang asing. Orang-orang yang hanya berinteraksi dengan saya lewat layar gawai saja, namun entah mengapa terasa nyaman. Orang-orang yang di hari-hari kemudian menjadi teman-teman terdekat. Bertemu dan mengobrol langsung, tertawa, marah, hingga menangis karena hal yang sama. Kehidupan twitter circa 2012-2014 mungkin adalah kehidupan sosial favorit saya. Namun, selayaknya setiap hal pasti mengalami perubahan, begitu juga pertemanan. Sayang sekali, karena berbagai macam alasan, kami tidak lagi berbicara sebagaimana sebelumnya. I'm sad, but I'm still trying to keep in touch with all of them.

Ketika instagram muncul sekitar tahun 2013, twitter tidak lagi sepopuler sebelumnya. Linimasa akun pertama saya sepi bagai kuburan. Suatu hal yang sebenarnya amat saya syukuri, jika boleh jujur, hahaha. Saya tetap rutin membuka twitter, meskipun teman-teman hijrah ke instagram. Kemudian tiba-tiba, sekitar tahun 2018/2019, twitter kembali booming. Saya tidak tahu sebabnya, tapi kemudian orang-orang berbondong-bondong kembali ke akun twitter mereka. Baik pengguna lama maupun pengguna baru. Tentu saja saya overwhelmed dengan keadaan ini. Timeline tiba-tiba jadi ramai lagi. Saya pikir, loh apa sih ini kenapa pada balik lagi? Tapi tetap saja saya belum menemukan jawabannya.

Saya menjumpai perbedaan umur yang cukup jauh ketika berinteraksi dengan pengguna twitter sekarang ini. Hampir semuanya lahir di tahun 2000 ke atas, alias kok saya tua banget ya? Hahaha. Tapi serius, saya kaget banget ada anak umur 14 tahun udah ngomongin hal seksual secara terbuka. Like???? Kid???? Helloooo??? Talking about some guys' Dicc openly isn't cool??!?!? Tapi mungkin memang beginilah dunia berjalan. Arus informasi makin deras dan tidak terbatas, teknologi berkembang semakin maju, orangtua juga makin kesulitan mengikuti dinamika dunia yang berlari cepat seperti sedang ikut perlombaan. Saya tidak tahu apakah tepat menilai semuanya dari kacamata konvensional saya sebagai orang yang secara umur sudah terhitung legal dan dianggap mampu bertanggung jawab atas diri sendiri, tapi saya pikir anak di bawah umur tetap saja masih belum pantas melontarkan kata-kata sejenis.

Satu dekade yang lalu, belum banyak akun-akun personal dengan puluhan ribu followers yang jika muncul sekarang akan dibilang selebtwit. Akun-akun dengan ribuan followers dulu adalah akun-akun yang terkenal dengan kumpulan quotes patah hati, quotes film, dan segala jenis quotes lainnya. Juga akun-akun official berita televisi/koran. Sama sekali berbeda dengan twitter sekarang ini yang kebanyakan berisi berita-berita artis dengan thread-thread kontroversial dan semacamnya. Kadang juga demi popularitas semata. Twitter sekarang ini juga berisi berbagai macam tips dan cerita lucu dari berbagai sumber, yang meskipun menghibur kadang tetap terasa overwhelming bagi saya. Twitter satu dekade yang lalu adalah rumah, tempat saya pulang dan bercerita tentang bagaimana hari yang saya jalani hari itu, baik pada teman-teman atau sekadar bicara pada diri sendiri. Twitter hari ini adalah ladang engagement bagi beberapa orang, bukan lagi sekadar platform mencari teman dan pasangan apalagi cuma wadah spazzingan.

Masa twitter satu dekade yang lalu mungkin sudah berlalu, tapi biarlah saya menyimpan rapat-rapat memori-memori kecil itu dalam kotak kenangan yang bisa dilihat sewaktu-waktu.

Ps: Saya masih main twitter kok.

Share:

Saturday, April 11, 2020

Catatan di Kuarter Pertama 2020

2020 has been pretty crazy, for basically everyone, so far. 

Indonesia mengawali tahun ini dengan banjir besar di banyak daerah. Cuaca ekstrim di bulan-bulan awal sempat menjadi sesuatu yang diakrabi penduduk. Diiringi kedatangan pandemi yang sampai hari ini, masih urung terlihat tepinya. Juga erupsi Gunung Anak Krakatau yang dentumannya terdengar sampai ibukota, dini hari tadi.

Bumi mulai lelah, teman-teman. Ditegur berkali-kali, namun tidak jera juga.
Cuma bencana alam, katanya.
Padahal siapa yang tahu, kalau-kalau Sang Khaliq memutuskan untuk mengakhiri dunia?

Tahun ini, mungkin tidak akan menjadi tahun terbaik untuk beberapa orang, pun mungkin sebaliknya. Meski ketakutan tidak pernah luput menghantui setiap langkah kita.

We never know what the future holds, after all. But I truly believe that Allah does.
Jangan lupa, langitkan doa-doa terbaik di setiap sujud.
Agar yang tadinya mustahil bisa terwujud.

Sampai ketemu, kalau umur belum ditutup. 
Semoga di hari itu, harapan juga belum redup.
Share:

Friday, March 20, 2020

The Untamed (Mo Dao Zu Shi) Review

Image result for The Untamed


Hi! Been a while since the last time I wrote a series review. I recently watched The Untamed, a 50 episodes long xianxia Chinese series. Lol, yeas you didn't read it wrong, it's Chinese and xianxia (immortal people, cultivation things. In short, it's traditional-action kind of genre) one! Watching this was just a spur of moment decision, but well, what can you expect from an easily-trapped fat ball that is me? Obviously I can't help but to fall into this fandom hole. As always, this review is made for the sake of my messy mind. Not a proper review, big chance.

Uhm, a precaution. This series has boys love genre. If you're not fond of boys love, you probably won't like this one. I say probably because in the drama itself there are only implicit hints about this. In my opinion, it didn't cause me any discomfort whatsoever.

Okay, here we go.
The Untamed is a live-action drama adapted from a novel titled Mo Dao Zu Shi by Mo Xiang Tong Xiu. This series was flying up high last year, when the poor me was (a bit) underestimating the hype. Mostly because I'm not that fond of the genre. I could recall that time because I was in the middle of watching another good chinese drama that is Le Coup De Foudre (GOD PLEASE THIS IS SO FREAKING GOOD!!! Probably write the review later) and was like "what is this series of long-haired boy flying and fighting???" lmao it's such a shame that I'm now falling into the same pit of darkness.

It tells the story of Wei Wu Xian or Wei Ying (Xiao Zhan), a handsome, cheerful, young cultivator from YunmengJiang Sect and Lan Wangji or Lan Zhan (Wang Yibo), also a handsome yet indifferent cultivator from GusuLan Sect. To be honest, I'm having problem on describing their dynamics. With their 180 degrees different personality, they had their disagreements frequently. But as people say that opposite attracts, that's just how they are. At first, Lan Zhan was so bothered by the former. But as time changes, he grew on him. They were both smart, having equal skill in terms of cultivation, and pro to good side. So when Wei Ying dropped the "right" path, Lan Zhan constantly thought of what was it that Wei Ying saw and he didn't. Their journey to discover what's right and wrong went on through hurdles and collisions.

It's hard to tell the complete synopsis. It includes some heart-wrenching and tear-jerking back stories. But what I want to underline most from this series is the fight between right and wrong. There was a time when Wei Ying did something he considered right, but people accused him wrong. Including Lan Zhan, one that usually agrees with him. It's like Wei Ying against the world. People said that he was wrong, but they didn't want to see and hear the reason why a particular thing was right according to him. I could feel how frustrated he was at that time. But him being the stubborn boy that he was, kept on going no matter what.

That being said, I only could agree wholeheartedly. We really never know what intention people held in their hearts. Whether it's right or wrong, that's not our position to judge. It's their heart that matters. As Lan Xichen (Lan Zhan's brother) says, "Humans are humans because the way they are seen by others is based of themselves. They cannot be identified through right and wrong or black and white. When looking at someone, you cannot deem their qualities by only looking what is right and wrong or black and white. What matters is what their hearts believe in."

Shout out to Xiao Zhan and Wang Yibo who have brilliantly portrayed these characters and gave them life! I can't imagine others as Wei Ying and Lan Zhan better than this two. That's how wonderfully portrayed their characters are. But of course, there's no single perfect thing in this world. So does this series. The CGI effect for fighting scene was so effing bad!!!! I always laughed every time they appeared. Sigh. Thank god, it didn't annoy me that much.

After Taste : Bittersweet feeling. I'm happy that they got a happy ending, but also sad to remember just how much they both had sacrificed for make it coming true.

Best Part : I probably have a bunch of favorite scenes. But mostly with Lan Zhan and Wei Ying on it ((lol what else))

Rating : Ah, personally 9/10. I love this one. The chemistry between the leads and the side characters are all woderful! 
Share:

Tuesday, February 18, 2020

Seberkas Pikiran dari Sakitnya Mbah Kakung

“Makasih ya mbak, udah mau jagain mbah.” Tulis tante saya dalam sebuah pesan yang dikirimkannya beberapa saat lalu.

Saya pikir, menjaga mbah kakung hanyalah sebuah keharusan yang diturunkan dari ayah saya. Mandatory task saja. Namun ternyata hal tersebut dapat berubah menjadi sebentuk pertolongan kecil yang bisa saya berikan pada ayah dan om-tante yang harus tetap bekerja. Tumbuh di sekeliling keluarga besar yang hangat dan dekat dengan orangtua adalah sebuah anugerah yang harus saya syukuri, karena saya sadar tidak semua orang mendapatkannya. 

Dengan sendirinya saya menyadari bahwa mbah kakung memiliki porsi yang besar di hati setiap anak-anaknya, sebagaimana ayah dan ibu juga bagi saya. Orangtua yang jatuh sakit tentu menyebabkan tekanan yang luar biasa, disadari ataupun tidak. Dulu ketika ibu masuk rumah sakit, saya sampai harus mengulang ujian praktik bahasa inggris SMA. Guru saya sampai heran dan bertanya-tanya. Setelah kondisi ibu membaik, saya baru bisa kembali normal lagi.

Ketika anak-anak sudah menikah dan memiliki keluarga masing-masing, orangtua tentu tidak akan kemana-mana. Satu tanggung jawabnya telah lepas, namun jelas khawatir masih jadi teman setia. Ketika itu, siapa yang akan jadi penentram hari tuanya?

Banyak buku juga serial televisi yang menampilkan anak-anak yang sudah terlalu lelah mencari nafkah ataupun sibuk dengan dunianya hingga lupa menjenguk orangtua, seakan-akan orangtua tak lagi penting artinya. Mereka menganggap kiriman uang cukup menggantikan kehadiran, padahal materi sifatnya fana. Sementara kesepian adalah hantu yang paling menyiksa.

Saya belum menikah dan juga belum bekerja, jadi mungkin kesibukan belum menyita waktu saya hingga ketemu orangtua sudahlah nanti-nanti saja. Saya cuma ingin menjadikan ini pengingat, bahwa orangtua semakin butuh diperhatikan seiring bertambahnya usia. Jangan sampai menyesal ketika mereka telah tiada. 

Jakarta, 18 Februari 2020
Syafakallah, mbah kakung.
Share:

Wednesday, October 30, 2019

Belajar Dari Anime Shounen

Mohon maafkan judul yang sangat lame ini, tapi postingan kali ini akan berisikan tulisan sesuai judulnya.
***
Pertama-tama, kalau ada yang belum tau, anime adalah bentuk animasi dari manga/komik Jepang. Sedangkan shounen sendiri adalah sebuah genre komik yang ditujukan bagi remaja laki-laki, biasanya memiliki seri yang banyak dan panjang. 

Lalu, kenapa gue sebagai anak perempuan malah suka komik laki-laki?
Simpel banget jawabannya, karena seru.
Bagian apanya yang seru? Let's see.

Komik dengan genre ini biasanya punya tokoh utama laki-laki dengan semangat juang tinggi. Side charactersnya akan ditentukan oleh genre-genre sampingannya, misalnya sport atau fantasy atau supernatural, you name it. Setelah itu, si tokoh akan dibawa menghadapi permasalahan-permasalahan yang berujung pada ketidakmampuannya akan sesuatu, atau gampangnya, mentok di batasannya. Terus, harus ngapain dong doi?

Jawabannya cuma satu : pushing through his limit. Dia mendorong lebih jauh batasan dirinya.

Gila, pikir gue waktu pertama kali nonton anime dengan genre ini, kenceng banget woy tekadnya, anjir lah gue mah nggak ada apa-apanya. Kok bisa ya kayak gitu? Padahal caranya nggak gampang, sampai harus nangis-nangis karena kalah dan ngerasa nggak bisa apa-apa, latihan sampai kaki bengkak, dll.

Menonton anime shounen membuat gue belajar bahwa semua hal bisa dicapai kalau gue mau berusaha dengan keras tanpa kenal lelah. Bahkan setelah jatuh berkali-kali, kalah berkali-kali, gue harus tetap bangun, gue harus tetap latihan.

Tapi yang paling utama, lakukan dengan senang dan tujuan yang jelas.

Sering banget gue mikir, anjay enak banget jadi karakter anime ya, yang lo pengenin dan cara mencapainya tuh udah jelas, tinggal lakuin aja. Wkwkwk dasar faizah, hidupnya penuh kebingungan.

Satu hal lain yang paling bikin gue ngiri sama tokoh utamanya : teman-teman yang selalu mendukung.

Seru aja gitu nontonnya, latihan bareng-bareng, senang bareng-bareng, sedih bareng-bareng. Karena apa? Dipersatukan oleh tujuan yang sama. Memang benar ya kalo ada yang bilang 10 tuh lebih baik daripada 1, karena kita jadi lebih kuat. Makanya ketika karakter-karakter ini pisah jalan, suka sedih aku tuh. Walaupun memang seringnya anime dengan genre ini menguras emosi.

Pada intinya, menurut gue, nonton anime nggak melulu buang-buang waktu. Selain menghibur, nonton anime juga bisa memberikan semangat buat terus maju mengejar tujuan lo kok. Anggap saja sedang istirahat sebentar.
***
Ih aneh pisan udah lama nggak nulis. Hampura atuh yak. This post didn't turn out to be what I imagined it to be, but well, I guess my mind is too fucked up to write something decent right now. I'd just leave this here as a fail memento.
Share:

Monday, July 8, 2019

Sebuah Catatan Perjalanan dari Traveling ke Korea (+Itinerary)

Have you ever wondered, when you were on a trip, why you got there? Does that only another impulsive act you pull? Because you got money to spend and your mind was just so full that you decide to go anywhere? Or you are one of those who practice the words of "we travel to come home?" Or is it really your dream trip? These things are what lingers around my mind when I was going somewhere. I keep wondering and wondering about everything.

Going to Korea is one of my impulsive acts, I gotta admit. Waktu itu ada tiket promo, so my friends and I were like "jadiin lah yuk" hahaha then be it. Setelah beli tiket, ternyata ada hal-hal di luar dugaan yang bikin gue jadi meragu kembali. Setelah berpikir berkali-kali akan betapa mubazirnya tiket yang udah kebeli plus penginapan, akhirnya tetep aja gue beraniin berangkat walaupun nekat. Gue berangkat bareng sama adek gue dan dua orang teman gue, ke Korea selama 10 hari cuma bawa uang cuma 300 ribu won dong gelo siah wkwk.

Hari pertama, 1 April 2019. First flight = no sleep. Gue jam 1 atau 2 pagi gitu udah nangkring di bandara dong hahaha ya gimana nggak, flight jam setengah 6 pagi di hari senin. YES, A FREAKING MONDAY. Bayangin macetnya kalo gue berangkat siang sedikit......bye........walaupun pada akhirnya pesawatnya baru depart jam setengah 7 gitu sih. Dari Jakarta, pesawat gue (Cathay Pacific) transit di Hongkong sekitar jam 12an siang waktu sana. Gila woy bandara Hongkong kenapa gede banget hiks maaf aku norak kak belom pernah kesana :( karena tadi jadwalnya delay, kita transit sambil lari-lari nyari gate 100an sekian apa ya kalo ga salah pokoknya kita harus naik kereta lagi gitu deh buat sampai ke gate itu woy gila sih itu udah lari-lari ternyata masih jauh sampe harus naik kereta lagi??? Untung gak telat. Nah terus ternyata kita masih transit lagi di Taipei sebelum ke Incheon?! Padahal tulisannya cuma transit di Hongkong aja. Jeng jeng, bingung lagi kan tuh nyari gate. Hahaha soalnya tiap keluar gate langsung banyak duty free shop gitu yang lebih mirip mall daripada cuma bandara dengan toko-toko. Baiq, akhirnya setelah satu jam transit di Taipei, kita caw ke Incheon dan sampai sekitar pukul 20.30. Keluar terminal, nyari convenience store buat ngisi T-Money karena kita mau naik kereta ke daerah Unseo-dong, Incheon tempat kita menginap malam itu. Begitu sampai stasiun paling dekat dari hotel, melangkahkan kali keluar stasiun, langsung BRRRRRRRRR menggigil seketika. Hahaha badan tropis tiba-tiba disambut sisa-sisa angin musim dingin, ya begitulah jadinya. Beruntung, the hotel was only around 150 meters away from the station.

Hari kedua, 2 April 2019. Gue, adek gue, dan satu orang temen gue pergi ke Jeju. Pergilah kami dari Incheon ke bandara Gimpo, karena flight ke Jeju termasuk rute domestik, jadi berangkatnya dari Gimpo Airport. Nah, di Gimpo ini kami berencana ngambil wifi yang udah di-book dari Indonesia kan. Ealah ternyata harus punya kartu kredit fisik buat depositnya (nggak bisa pake jenius hey!). Yha aja kan, jadi hangus deh gabisa diambil hahaha. Akhirnya kami cuma mengandalkan wifi publik aja wkwk tenang jika ada kemauan pasti ada jalan. Oh iya, sekedar info, baik di Incheon maupun di Gimpo ini disediain prayer room untuk teman-teman muslim yang mau sholat. Tapiiii harus nanya dulu ke information desk, karena biasanya si prayer room ini dikunci dan kuncinya yang megang ya petugas bagian informasi itu. Oke next, kami sampai di Jeju sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Suhunya masih rendah, sekitar 7 derajat gitu kalo nggak salah. Untuk menuju hotel, kami naik bus dari bandara. Ini lol banget sih tapi si pak supirnya ngebut banget mon maap, entah karena lagi kosong atau pingin cepat-cepat pulang atau emang kecepatan normalnya segitu, kami nggak ada yang tahu. Pokoknya gue sendiri sampai kepentok bangku waktu nyari tempat duduk, mengaduh sambil cengar-cengir liat-liatan sama yang lain. Sampai di hotel, bobok!
Ini sign tempat sholat/prayer room di Gimpo Airport

Sky Hill Hotel, tempat gue menginap di Jeju
Hari ketiga, 3 April 2019. Ini waktu seharian full jalan-jalan di Jeju. Kami keluar hotel pukul 09.00 pagi. Suhu menunjukkan angka 9 derajat plus angin-angin semriwing yang berhembus tidak kenal lelah. Wkwkwkw asli lah dingin banget kacau, bajunya sampai udah pada berlapis-lapis (kecuali gue cuma kaos plus jaket biasa aja). Tujuan kami hari itu : Hallasan National Park. Iya, hiking. Ini salah satu gunung yang bisa didaki, ada trail nya juga udah disiapin. Pokoknya cuma tinggal siap badan dan stamina aja deh. Nah, tapi kalau mau sampai puncak, harus datang lebih pagi. Soalnya ada ketentuan harus sampai di pos pos kedua/ketiga sebelum pukul 12.30 baru boleh naik ke puncak. Singkat cerita, si adek nggak kuat naik hahaha padahal baru jalan sejam dan cuma sejauh 900 meter-an gitu. Akhirnya kita turun deh dan balik ke arah hotel. Di Naver Map, ada titik Cherry Blossoms gitu deket Jeju National Univ. Walhasil, turunlah kami di Jeju National Univ Entrance. WIIIII, SEPANJANG JALAN DONG POHON-POHONNYA! Memang sih, di sepanjang jalan pohon-pohon tuh udah mekar dan bagus banget, tapi nggak nyangka juga kalo bakal selebat itu di sepanjang jalan ini. Huhu senang ternyata worth it juga ke Jeju walaupun nggak hiking sampai puncak :') sisa hari ini dihabiskan dengan jalan-jalan dan foto-foto di sepanjang jalan berbunga!

Papan informasi jalur trekking Gunung Hallasan
Trek pendakian. Looks easy, eh? Iyasih tapi dinginnya itu loh bosqu

Pohon sakura di sepanjang jalan menuju Jeju Univ. Such a beauty!

Hari keempat, 4 April 2019. Jeju to Seoul! Sebelumnya, kami harus balik dulu ke Incheon ngambil koper yang dititipin di hotel hehe berat euy ke Jeju bawa koper :') Apartemen yang kami sewa ada di daerah Sindang, dekat dari stasiun subway, cuma jalan kaki kurang dari 5 menit. Setelah leyeh-leyeh sebentar dan mandi, kami caw ke Itaewon. Ngapain tuh? Ke Seoul Central Mosque hahaha. Gue personally kepo dengan masjid ini, jadi ya sekalian kan disempetin. Di daerah sini, bertebaran makanan halal, banyak juga yang namanya pake nama Indonesia. Tinggal pilih aja guys. Setelah sholat, ada yang ngeliat toko Line Friends hahaha dasar wanita tidak tahan melihat yang lucu-lucu, maka masuk lah kami berempat kesana. Gue sih nggak beli apa-apa ya, abis bingung euy sejujurnya jadi cuma numpang foto lol shameless me. Selesai disitu, terus ke Myeongdong. Sebuah pengakuan bahwa sejujurnya gue ke Myeongdong hanya untuk mengunjungi SPAO dan membeli Harry Potter sweaters, karena mereka lagi collab. Iya freak parah nggak sih gue :( di Myeongdong juga ada Line Friends (lagi) dan seabrek-abrek toko kosmetik dan skin care. Kalian kalau mau belanja skin care gitu disini bisa banget guyssss tokonya ada dimana-manaa like setiap belokan adalah toko Nature Republic, The Face Shop, Holika Holika, dan lain-lain, you name it. Gue dan adek gue yang notabene tidak suka belanja, seketika menjadi pusing hahaha karena rameeeeee banget kayak pasar malem tau nggak sih yang makin malem makin rame? Iya begitu. And we came across many people from Indonesia here. Bahkan, ada satu toko yang mas-masnya overheard omongan si adek yang nanya "ini mau kemana lagi dah?" terus dijawab sama si mas "kesini aja kak, ke toko ini belum" segera saja gue dan si adek kompak ngeliatin mas-masnya sambil melipir dan ketawa. Jadi, sepertinya si mas adalah orang Indonesia yang lagi kerja di toko itu. Sudah lelah berdesak-desakan, serta kaki yang mulai terseok-seok pegal, saatnya kembali pulang!

Meet my twinnies, Brongs at Line Friends!
Hari kelima, 5 April 2019. Weeeeeey kakinya pegel banget sistur, adek gue ingin meringkuk aja seharian katanya di apartemen karena temen-temen gue masih pada mau belanja lagi dan ke kafenya Jongin. Akhirnya oke mereka pergi duluan. Gue dan adek gue pergi setelah sholat zuhur. Tapi ternyata beda tujuan hahaha. Iseng-iseng, kami mencoba mampir ke salah satu kafe milik artis kpop lainnya. Yes, Mouse Rabbit by Yesung Super Junior. It's unfortunate that we didn't get to meet him lololol but the service was so poor. Gue tidak merasa diperlakukan dengan baik, malah cenderung jutek waitersnya huft kesal. Tapi kopi dan kuenya enaaak hhhh. Nah, setelah dari sini tadinya ku ingin langsung pulang. Eh tapi kok masih sore ya? Jalan lagi kali ya? Jeng-jeng akhirnya dengan keimpulsifan lainnya, pergilah kami ke COEX SMTOWN. Gue dan si adek cuma bisa bengong begitu keluar dari stasiun. LUAS BANGET WOY HALAMAN GEDUNGNYA YA LORD pantesan kalau ngeluarin merch atau tiket konser mahal. Tapi beneran gue sangat amazed dengan jarak dari pinggir jalan ke gedungnya alias Garis Sempadan Bangunan (GSB)-nya yang lebar banget. Apa sih isi COEX SMTOWN? Ada SMTOWN Museum, SMTOWN Theater, sampai Gift Shop. SMTOWN Museum tuh ya.....sesuai namanya, museum yang memajang album-album, photobook, sampai kalian bisa ambil foto pakai teknologi Virtual Reality (VR) dengan artis-artis di bawah asuhan entertainment ini. Mulai dari TVXQ, Super Junior, Girls Generation, SHINee, f(x), Red Velvet, sampai NCT. Disini kalian juga bisa lihat backstage untuk konser, ruang rekaman, sampai ruang latihan mereka. Worth it? Buat gue pribadi sih worth it, apalagi bisa duduk sambil dengerin album-album yang dipajang, liat-liat ruang latihan (NCT) sampai ruang rekaman yang sepengetahuan gue masih digunakan sampai hari ini. Cuma kemarin gue kurang lama aja sih karena harus ngejar jadwal nonton lol. Sedangkan SMTOWN Theater adalah bioskop yang memutarkan film-film dari konser grup-grup ini. Nah, kalau untuk yang satu ini, ada jadwalnya. Misalnya hari ini pukul 12.00 EXO, sorenya pukul 15.00 TVXQ, begituu jadi harus di cek dulu untuk nonton grup favorit kalian. Bedanya dengan nonton di laptop? Hm, ini layarnya 180 derajat dan suaranya 360 derajat alias kalian kayak lagi ada di konser beneran aja tapi tanpa artis yang bersangkutan hahaha. Worth it? Not really. Menurut gue nggak jauh beda sama nonton di laptop :(

Cake coklatnya boi juaraa!

Penampakan depan Coex SMTOWN.
Nggak kelihatan halamannya, tapi luas banget cri

Hari keenam, 6 April 2019. Nami Island, here we come! Ada 3 cara untuk menuju Nami-seom atau Nami Island, yaitu menggunakan shuttle bus, naik ITX atau kereta ekspres, atau kereta biasa. Gue milih naik kereta biasa aja. Plusnya, harganya lebih murah daripada shuttle bus/ITX. Minusnya, keretanya datengnya lama banget saudara-saudara, alias perlu nunggu lama hahaha. Kalau kalian males nunggu, naik KTX lebih disaranin sih. Naik kereta biasa atau ITX sama-sama perlu turun di Stasiun Cheongnyangni. Tujuan kereta ini adalah Stasiun Gapyeong. Dari stasiun ini, kalian bisa naik bus umum atau bus wisata yang keliling daerah itu (Petite France, Garden of Morning Calm, etc). Gue pribadi cuma ke Nami aja karena menghemat budget wkwkwk. Terus di Nami, huaaa ada perpustakaan buat anak kecil gitu ya Allah hati gue menjerit banget liat buku huhuhu gemes banget gue kalo jadi warga korea udah gue ajak kali anak gue ke situ tiap bulan. Cabut dari Nami, temen-temen aing malah ngajak nyari sakura ke daerah Jangan-dong. Gue kira bakal ada festival gitu kan, eh ya ternyata b aja cuma taman penuh bunga sakura aja wkwkwk.

Perpustakaan Anak di Nami Island



Hari ketujuh, 7 April 2019. Saatnya menggunakan Discover Seoul Pass! This is a one way pass for several famous destinations in a limited time. Kalian bisa milih kartu 24/48/72 jam. Gue kemarin pilih yang 48 jam sih, dan by 48 hours it means THE REAL 48 HOURS alias jamnya dihitung dari pertama kali kalian tap di destinasi yang kalian inginkan. SOOOO MAKE SURE TO UTILIZE THIS TO THE FULLEST. Soalnya lumayan banget guys beda harganya. Too bad, gue tidak memanfaatkannya dengan benar. Di hari ini, gue cuma pake kartu ini di Hanboknam (tempat nyewa hanbok), Gyeongbokgung, dan Namsan Tower. Gue pengen banget ke Museum of Contemporary Art yang letaknya pas banget di depan Gyeongbokgung, tapi teman-temanku tidak mau hwhwhwh ok maka jalanlah gue dan adek gue mencari mushola yang ternyata ada di K-Style Hub, di pinggir Sungai Cheonggyeocheon. Untuk kesana, kami harus menembus keramaian Insadong yang super banget ramenya nggak ngerti?? Ini tuh kayak Myeongdong gitu deh pokoknya sangat rameeee. Oh iya, mushola di K-Style Hub kecil dan cuma muat untuk 2 orang, letaknya ada di lantai 2. Setelah sholat, gue dan si adek nongkrong di pinggir sungai Cheonggyeocheon sambil jajan hahahah sekalian membayangkan SJ dan SNSD bikin video klip Seoul Song jaman baheula itu. Hilih. Di pinggir sungai ini tuh kayak ada banyak food stalls gitu, salah satunya jual takoyaki. Gue nggak tau ya ini akibat laper atau gimana, tapi asli enaaaak banget takoyakinya gila sih?! Eh btw gue juga nggak tau ini food stalls cuma ada hari minggu aja atau setiap hari di sore hari. Setelah puas ketawa ketiwi di pinggir sungai kayak warga lokal, kami caw ke Namsan Tower. Turun di halte bus, gue dan si adek celingak celinguk nyari pintu masuk yang ternyataaaa masih jauh alias perlu naik bis lagi ke atas. Capek deh. Hmm, truth be told, this is just iconic place to visit aja sih. Not really worth it. But since you're in Seoul, why not?

Gyeongbukgung from below lol

Namsan Tower
Hari kedelapan, 8 April 2019. Hari kedua menggunakan Seoul Pass. Gue, si adek, dan teman-teman mengunjungi Coex SMTOWN (SMTOWN Museum dan SMTOWN Theater). Kunjungan sebenarnya adalah di hari ini. Kemudian gue dan si adek sholat di COEX Exhibition hall sebelum lanjut ke COEX Aquarium. Sementara teman-temanku ke Apgujeong dan bertemu dengan anak NCT yang mereka bahkan nggak tau siapa. Gila nggak sih gue segitu nggak jodohnya sama anak-anak gue???HUHUHU kemudian karena lapar dan makanannya meragukan semua, gue dan si adek ngide banget belanja makanan ke Lotte di Jamsil. Woey gile nyari Lotte nggak pernah secapek itu. Lelah banget nyari supermarketnya ya plz. Huft.



Sebagian isi SMTown Museum.
Sungguh sebuah tempat bersenang-senang untuk SMStan seperti aqu.

Salah satu instalasi di Coex Aquarium

Starfield Library. This is so cool, tbh?!
Hari kesembilan, 9 April 2019. H-1 sebelum pulang. Gue dan si adek cuma ngendon di apartemen, meanwhile teman-temanku belanja lagi :')

Hari kesepuluh, 10 April 2019. Akhirnya pulang! Waktu transit di Hongkong, banyak banget orang Indonesia w o w banget wkwkwk ah jadi inget pas di pesawat ada ibu-ibu yang seenaknya lean back kursinya..........ya tentu saja aku sewot smh.

Summary: 
  • I enjoy South Korea despite the lack of food options available for me. Pork and lard are everywhere :(
  • I love Spring! May there comes a time to enjoy Autumn and Winter too!
  • NYESEL BANGET SEOUL PASS CUMA DIPAKAI KE SEDIKIT TEMPAT HUHU y'all don't make the same mistakes!!!!!!!
  • I love the transportation and the kindness the grandmothers (and an ahjussi) offer :') thank you!
  • This is probably just me, but somehow I smelled a weird smell in town, especially when I took public transportation. I don't know what smell it is but it's bothering me enough.
Rough Budget Calculation:
  • Pesawat PP (Cathay Pacific) = 3.700.000
  • Pesawat Jeju PP = 952.000
  • Visa = 592.000
  • Seoul Pass 48 hours = 600.000
  • Accomodation (Apartment + Hotel) = 1.400.000
  • Transportation = 500.000
  • Makan + Jajan-Jajan (oleh-oleh etc) = 3.000.000
Total = 10.744.000, ya 11 juta lah ya. All in rupiah guys rupiah bukan won :')

OKAY, THAT'S IT! Ga seru banget gak sih jalan-jalan gue wkwkwk belom puas :( semoga bisa balik lagi deh kapan-kapan. Aamiin!
Share:

Sunday, July 7, 2019

Thoughts on: Suicide

Gue berencana untuk membuat satu series tersendiri tentang hal-hal yang bagi gue sendiri terlalu personal untuk dibicarakan dan postingan ini adalah bagian pertamanya. Entah akan berlanjut atau tidak, let's see.
***
Semalam, salah satu teman gue baru saja "berbicara" melalui akun twitternya akan alasan yang menahannya untuk bunuh diri. Dia juga mempertanyakan kenapa orang-orang melarang seseorang untuk mengakhiri hidupnya ketika yang menjalani hidup tersebut adalah orang yang bersangkutan itu sendiri. Mengapa seseorang harus terus melanjutkan hidup dan tidak boleh menyerah? Mengapa orang yang ingin bunuh diri harus beralasan takut dosa? Apakah orang-orang akan bersikap sama jika tidak ada agama? Jika tidak ada konsep dosa, pahala, neraka, dan surga?

Sungguh pertanyaan-pertanyaan yang sangat menarik. Setiap orang pasti punya masalah, pernah putus asa, sampai depresi. Gue juga yakin orang-orang tersebut pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya, karena gue juga pernah. Kalo kata orang-orang, you're not alone (in fighting problems), well, itu benar. Tapi kita semua melawan masalah-masalah yang berbeda. Misalnya gue, ketika cerita ke si A, si A bilang "yang sabar ya. Gue juga tau kok rasanya." Bohong. Si A tidak pernah benar-benar tau rasanya jadi gue, karena dia bukan gue. I somehow believe that an empath does not really exist lol. Sehingga, yang tau perasaan seseorang itu ya cuma orang itu sendiri. The one who understands you is you and you alone, others are just trying to. Well, life's hard. What do you expect?

Kalo menurut gue, punya pikiran ingin bunuh diri dengan benar-benar melakukannya adalah dua hal yang sangat berbeda. 

Wajar punya pikiran ingin bunuh diri, karena kita nggak benar-benar tahu apa yang menunggu kita setelahnya. Apakah kita benar-benar akan dihukum jika kita bunuh diri? Apakah benar-benar ada surga dan neraka sebagai balasan semua perbuatan kita di dunia? Yang kita tahu hanyalah setelah mati, semua beres. Badan dan sel-sel otak sudah tidak berfungsi, maka masalah selesai. That's just how far our knowledge takes us. Keterbatasan ilmu pengetahuan. Btw, peneliti udah bisa belum sih mendefinisikan roh atau jiwa itu apa? Scientifically ya, soalnya selama ini roh atau jiwa dianggap sebagai substansi spiritual aja, yang nggak kelihatan.

Sedangkan untuk membunuh diri sendiri takes a HUGE courage. Kenapa? Alasan paling utama, karena sakit. Mana ada sih bunuh diri yang enak? Coba bayangin, lo harus memotong pembuluh darah yang ada di pergelangan tangan, vena atau arteri yang ukurannya kecil. Kalo lo pake cutter yang paling tajam aja, paling nggak butuh waktu sekitar 30 detik buat bisa nyentuh pembuluh darah karena dihalangin sama lapisan kulit. Belom lagi kalo darahnya keluar, udah sakit, lama pula nunggu darahnya keluar banyak sampai lemas dan akhirnya mati karena kehilangan banyak darah. Lebih cepet potong pembuluh aorta di leher. Tapi, susah juga buat motong pembuluh itu soalnya pembuluh paling besar di badan, lemak di leher juga kayaknya lebih banyak daripada di pergelangan tangan. Cara lain? Minum baygon atau racun? Harus kena lidah dulu, terasa pahit, terus nunggu bereaksi, baru bisa mati. Intinya, nggak enak. Tapi mungkin ada lah yang mikir, "halah apalah arti sakit segitu doang, hidup gue jauh lebih sakit dari cuma cutting/pahit dari cuma minum racun."

Alasan kedua, pernah nggak sih berpikir kalo hidup lo itu bukan cuma milik lo? Tapi juga milik keluarga lo, teman-teman lo, orang-orang yang kenal sama lo. If you decide to take your own life, make sure nggak ada lagi satu orang pun di dunia ini yang tau lo siapa. Bullshit banget kalo lo bilang "please lead a happy life" setelah lo bunuh diri ninggalin keluarga dan orang-orang yang lo kenal. Tau kenapa? You died along with some part of their heart, it create holes. Besar maupun kecil, kehidupan lo berarti buat mereka. Kalo tiba-tiba lo bunuh diri gitu aja, egois banget nggak sih? Hih, sangat sangat tidak bertanggungjawab.

Selama nulis 2 paragraf di atas gue juga mikir, gimana kalo orang yang mau bunuh diri adalah orang yang selama hidupnya tidak pernah mengenal orang lain? Hm, bayi kan nggak mungkin ya bunuh diri sendiri? Ngerti apa-apa juga nggak? So, untuk punya pikiran bunuh diri, seseorang harus tumbuh besar dulu, bisa berpikir apa jadi apa, ini untuk itu, dan lain-lain. Untuk tumbuh, sebagai manusia dengan sel-sel tubuh yang aktif, dia butuh makan. Either s/he got it dengan cara yang benar atau tidak, dia perlu berinteraksi dengan orang. Kesimpulannya, nggak pernah ada orang yang benar-benar tumbuh besar sendirian, tanpa berinteraksi dengan orang lain.

Oke, setelah bunuh diri secara nalar, balik lagi ke pertanyaan kenapa takut dosa dan neraka serta apakah akan tetap begitu jika konsep agama tidak pernah ada?

Karena gue muslim, gue jawab ini dari segi agama islam ya. Menurut gue, dosa dan neraka serta pahala dan surga adalah contoh Hukum III Newton dalam kehidupan beragama. Jika ada aksi maka ada reaksi. Ketika lo berbuat salah, pasti ada hukumannya. Ketika lo berbuat baik, maka ada hadiahnya. Gue percaya bahwa karma itu ada dan apa yang lo tanam pasti lo tuai, pada akhirnya. No matter how long it takes, it comes back to you. Bunuh diri dilarang dalam islam karena itu berarti berputus asa dari rahmat-Nya. Padahal Allah tuh sayang banget sama hamba-Nya. Dalam Al-Qur'an, surat An-Nisa ayat 29, Allah berfirman ".....dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." Kalo masih berpikiran, "ya terus kenapa hidup gue susah terus kalo Allah sayang?", ayo liat dari sudut pandang lain. Definisikan hidup susah versi lo; apakah karena permintaan lo tidak kunjung tercapai? Apakah karena lo kurang di bagian finansial? Dan apakah apakah lainnya. Terus mikir, ada nggak hal yang bikin lo senang hidup di dunia? Ada? Alhamdulillah, anggap aja itu alasan lo bertahan. Nggak ada? Oke, lihat apa semua orang lebih bahagia dari lo. Iya? Waduh, kelihatannya aja. Bisa aja mereka bahagia bohongan. Inget lagi, not everything as it seems. Semua yang kelihatan, belum tentu kenyataan. Everyone fight their own demons. Susah? Pasti. But at least, we tried to fight.

Next, bagaimana jika konsep agama tidak pernah ada? I've been wondering how the world would be if religion never exist. Sampai saat ini, jawaban gue masih sama : chaos. Kacau. Agama menurut gue adalah aturan, juga tuntunan. Kalo aturan hilang, orang-orang di dunia mau jadi apa? Liar? Semau gue yang penting happy? Mungkin ada yang berpendapat, ya bikin aturan biasa aja lah dari pemerintah. Pemerintah juga kan isinya individu-individu? Bukannya perlu juga pemersatu? Perlu pedoman? Makanya ada Pancasila di Indonesia, karena agamanya banyak. Tapi yang pasti, bunuh diri tanpa dikaitkan dengan agama hanya akan berakhir pada matinya jasmani, lalu selesai. Tidak ada pembalasan, tidak ada apapun. Sementara ketika mati, cuma badan saja yang sudah tidak berfungsi. How do they explain about souls? Kemana jiwa akan kembali? Terus kalau jiwa tidak benar-benar ada, mengapa istilah tersebut bisa muncul?

Last but not least. Menyerah adalah hak setiap orang, setiap individu, setiap bangsa jika perlu. Gue tidak melarang seseorang bunuh diri karena dia sudah menyerah akan hidupnya. Sungguh, gue nggak peduli. Tapi gue benci liat orang yang dzalim sama keluarganya dan teman-temannya. Dia bunuh diri, selesai menurut dia. Tapi dia bikin keluarganya nangis, ninggalin hutang dan tanggung jawab yang banyak. Nyusahin aja.

For each and every one of us : encouraging someone to live might not mean much for us, but it does matter for the said person. An empath might not exist, but trying to empathize with others is something we could work on. 

For you who's standing on the edge : Kalo udah nggak kuat, jangan malu buat cerita ke teman, ke keluarga, atau malah pergi ke psikiater. That doesn't mean you're crazy, weird, or such, it means you know that you need help and therefore you seek for it. That's a good thing! Again, cuma lo sendiri yang tahu bagaimana keadaan lo.

Last note : Please die after you found what you live for.

Well, this is all my thoughts. See you on the next part!

Additional: A video of a man working at Golden Gate Bridge. He'd tell you some stories about those who left because of suicide.


Share: